

Halaman 1
Dahulu kala di Tiongkok, hujan turun terus-menerus. Sungai-sungai meluap. Air menutupi sawah dan jalan. Orang-orang mengungsi ke bukit. «Kapan banjir ini berakhir?» keluh mereka.

Halaman 2
Ada pemuda cerdas bernama Yu. Ia memandang air yang luas itu lama-lama, sambil berpikir. «Air tidak bisa dilawan dengan tembok saja,» katanya. «Air harus diberi jalan untuk pulang ke laut.»
Halaman 3
Yu mengajak semua orang bekerja sama. «Kita gali saluran! Kita buka jalan untuk air!» Orang-orang mengangkat cangkul dan keranjang. Yu bekerja paling depan, kakinya berlumpur sampai lutut.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Pekerjaan itu berat. Ada gunung batu menghalangi jalan air. «Bagaimana menembus batu sekeras ini?» tanya orang-orang. Tiba-tiba air bergolak. Dari sungai muncul naga kuning yang besar dan berkilau. Semua terpana.
Halaman 5
«Jangan takut,» kata naga kuning dengan suara dalam. «Aku datang membantu Yu yang rajin.» Ekornya yang kuat menggores tanah, membuka alur saluran yang panjang. Yu membungkuk hormat. «Terima kasih, Naga yang baik.»
Halaman 6
Datang pula kura-kura raksasa berpunggung lebar. Ia membawa lumpur ajaib yang bisa menutup tanggul bocor. Yu menaruh lumpur itu di tepi-tepi sungai. Sedikit demi sedikit, air mulai menurut dan mengalir di jalurnya.
Halaman 7
Bertahun-tahun Yu bekerja. Tiga kali ia lewat di depan rumahnya sendiri, dan tiga kali ia tidak sempat mampir. «Nanti dulu,» katanya. «Banyak orang sedang menungguku.» Semua orang makin sayang pada Yu.
Halaman 8
Akhirnya saluran terakhir selesai. Air banjir mengalir deras lewat lembah, terus ke timur, dan pulang ke laut. Matahari muncul. Sawah kering kembali. «Hore! Tanah kita kembali!» sorak orang-orang sambil berpelukan.
Halaman 9
Orang-orang mengangkat Yu menjadi raja. Raja Yu yang bijak, sang penjinak air. Naga kuning mengangguk anggun lalu menyelam ke sungai. Kura-kura raksasa berjemur tenang di tepian, menjaga tanggul selamanya.
Halaman 10
Malam itu sungai mengalir tenang di jalurnya, bergemericik pelan. Semua orang tidur pulas setelah bekerja keras. Kamu juga sudah bermain seharian, kan? Alirkan napasmu pelan-pelan seperti sungai yang tenang... dan hanyutlah ke mimpi. Selamat malam.
Yu Agung adalah tokoh legenda Tiongkok kuno yang dipercaya sebagai pendiri Dinasti Xia. Kisahnya menjinakkan banjir besar tercatat dalam naskah-naskah kuno, dan "tiga kali lewat depan rumah tanpa singgah" sampai kini menjadi peribahasa. Naga kuning yang menggores alur sungai dan kura-kura pembawa lumpur muncul dalam versi-versi rakyatnya.
Gagasan Yu, bahwa air jangan cuma dibendung tapi diberi jalan, masih dipakai sampai sekarang: di Jakarta ada Banjir Kanal Barat dan Timur, di Bali ada subak yang membagi air ke sawah bertingkat. Saat hujan, ajak anak melihat selokan di depan rumah: ke mana airnya mengalir, dan apa jadinya kalau tersumbat sampah.
Cocok untuk usia 5–9 tahun. Dalam legenda asli ayah Yu gagal membendung banjir dan dihukum, dan Yu bekerja tiga belas tahun tanpa pulang; versi kami menghilangkan bagian ayah dan meringankan pengorbanannya. Bahan ngobrol: kenapa Yu tidak mampir ke rumahnya sendiri? Apa yang bisa kita lakukan supaya selokan di sekitar rumah tetap lancar?
Masalah besar selesai dengan kerja sama dan kesabaran, bukan dengan buru-buru.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.