

Halaman 1
Dahulu kala di sebuah hutan di Tiongkok, hiduplah tiga sahabat: rubah, monyet, dan seekor kelinci kecil berbulu putih. Setiap sore mereka berkumpul di bawah pohon tua dan saling bercerita.

Halaman 2
Suatu malam bulan purnama, seorang kakek tua datang ke hutan. Jalannya pelan, tongkatnya dari kayu. «Aku lapar sekali,» katanya lirih. «Adakah yang mau berbagi makanan?»
Halaman 3
Rubah cepat berlari ke sungai dan membawa ikan. «Ini untukmu, Kek!» Monyet memanjat pohon dan memetik buah-buahan manis. «Ini juga, Kek!» Kakek itu tersenyum dan mengangguk.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Kelinci kecil kebingungan. Ia tidak bisa menangkap ikan. Ia tidak bisa memanjat pohon. Ia hanya punya sebatang wortel kecil — makan malamnya satu-satunya. Kelinci menatap wortel itu lama sekali.
Halaman 5
«Kek, aku cuma punya ini,» kata kelinci sambil menyodorkan wortelnya. «Makanlah semuanya. Aku masih kenyang, kok.» Padahal perutnya berbunyi kruyuk-kruyuk. Kakek itu menatap kelinci dengan mata berbinar.
Halaman 6
Tiba-tiba tubuh kakek bersinar keperakan. Ia bukan kakek biasa — ia Penjaga Bulan! «Kelinci kecil, hatimu yang paling baik,» katanya. «Kau memberi, walau punyamu paling sedikit.»
Halaman 7
«Maukah kau tinggal di bulan bersamaku?» tanya Penjaga Bulan. «Di sana ada Chang E yang lembut. Kau bisa membantu menumbuk kue bulan untuk mimpi indah anak-anak.» Kelinci melonjak senang. «Mau sekali!»
Halaman 8
Kelinci berpamitan pada rubah dan monyet. «Pandanglah ke atas kalau kalian rindu aku!» Lalu ia melayang naik bersama cahaya perak ke istana bulan. Chang E memberinya nama Kelinci Giok — giok itu batu hijau yang sangat berharga.
Halaman 9
Sekarang, coba pandang bulan purnama baik-baik. Ada bayangan kelinci sedang menumbuk kue di sana. Ia bekerja untuk mimpi indahmu malam ini. Tutup matamu pelan-pelan, biar Kelinci Giok mengirimkan mimpi yang paling manis. Mimpi indah, ya.
Kelinci Giok, atau Yutu, adalah penghuni bulan dalam mitologi Tiongkok: ia menumbuk ramuan dengan lesung kecil. Kisah tiga sahabat yang menjamu kakek pengembara datang dari tradisi Jataka Buddha, lalu dikenal luas di Tiongkok dan Jepang; di Jepang kelinci bulan dipercaya menumbuk mochi. Dua cerita itu lama-lama menyatu menjadi satu dongeng.
Bayangan kelinci itu bisa dicari sungguhan: bercak gelap di permukaan purnama terlihat jelas dari Indonesia pada malam cerah, dan banyak keluarga di Asia melihat bentuk kelinci di sana. Coba dari beranda, lalu tanyakan bentuk apa yang dilihat anak. Giok pun bisa dikenalkan: batu hijau licin untuk gelang dan liontin.
Cocok untuk usia 3–6 tahun. Dalam versi asli kelinci melompat ke api agar tubuhnya bisa disantap, dan sang tamu menyelamatkannya; versi kami mengganti api dengan wortel terakhir yang ia berikan dengan tulus. Bahan ngobrol: kapan kamu pernah memberi sesuatu yang sebenarnya ingin kamu simpan sendiri?
Pemberian paling berharga bukan yang paling besar, tapi yang diberikan dengan sepenuh hati.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.