

Halaman 1
Dahulu kala di Tiongkok kuno, ada desa kecil di kaki gunung. Penduduknya rajin dan ramah. Tapi setiap akhir musim dingin, mereka gelisah. Sebab dari gunung akan turun Nian — binatang raksasa yang suka mengacau.

Halaman 2
Nian bertanduk dua dan bergigi besar. Ia suka menggeram, «Groaar!» Tapi sebenarnya Nian tidak jahat, hanya lapar dan iseng. Ia makan semua kue di dapur, menakuti ayam, dan tidur seenaknya di tengah ladang.
Halaman 3
Suatu sore, seorang kakek pengembara datang ke desa. «Kenapa kalian semua bersiap sembunyi?» tanyanya. «Nian akan datang malam ini!» jawab penduduk. Kakek itu tersenyum. «Aku tahu rahasianya. Ada dua hal yang ditakuti Nian.»
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
«Nian takut warna merah dan takut suara ramai,» kata kakek. «Percayalah.» Penduduk saling memandang. Merah? Suara ramai? Aneh sekali. Tapi mereka mau mencoba apa saja. Mereka pun mulai bekerja bersama-sama.
Halaman 5
Semua rumah dihias kertas merah. Lentera merah digantung di setiap pintu. Anak-anak menyiapkan gendang dan panci. «Kalau Nian datang, kita pukul yang keras!» kata seorang anak sambil tertawa.
Halaman 6
Malam pun tiba. Bum! Bum! Langkah Nian terdengar dari gunung. Ia mengendus-endus. «Hmm, bau kue!» Tapi begitu masuk desa, matanya terbelalak. Merah di mana-mana! «Aduh, silau!» seru Nian sambil menutup mata.
Halaman 7
Lalu — dung! dung! prang! — gendang dan panci dipukul bersama. Petasan meletup, dor-dor-dor! Nian melompat kaget sampai tanduknya miring. «Ampun, ampun! Ramai sekali!» Ia berlari pulang ke gunung sambil menutup telinga.
Halaman 8
Penduduk bersorak gembira. Mereka menari dan berbagi kue. Sejak malam itu, setiap tahun baru mereka menghias desa dengan warna merah dan membunyikan petasan. Bukan karena takut lagi — tapi karena gembira.
Halaman 9
Kata orang, Nian di gunung lama-lama terbiasa. Dari jauh ia ikut menonton lentera merah sambil mengunyah kue yang sengaja ditinggalkan penduduk di kaki gunung untuknya. «Enak juga,» gumamnya pelan.
Halaman 10
Lentera merah bergoyang ditiup angin malam. Desa hangat dan aman. Nian menguap lebar di guanya, kenyang dan senang. Pelan-pelan matanya terpejam. Seperti Nian, tidurlah yang nyenyak, sampai bertemu di mimpi yang indah.
Legenda Nian adalah cerita yang di Tiongkok dipakai untuk menjelaskan kebiasaan Tahun Baru Imlek: mengapa rumah dihias merah dan petasan dibunyikan. Nama makhluknya sama dengan kata "tahun" dalam bahasa Mandarin, dan ungkapan "melewati tahun" sampai kini berarti merayakan Imlek. Ceritanya hidup dari tradisi lisan, tanpa satu pengarang.
Di Indonesia jejak cerita ini terlihat setiap Imlek, yang sejak 2003 menjadi hari libur nasional: lampion merah, angpao, kue keranjang, barongsai di Glodok Jakarta atau di Semarang, Cap Go Meh di Singkawang. Ajak anak menghitung berapa banyak warna merah yang bisa ia temukan di jalan menjelang perayaan.
Cocok untuk usia 3–6 tahun. Dalam banyak versi Nian adalah monster yang memakan ternak; versi kami membuatnya sekadar lapar dan iseng, dan di akhir ia bahkan diberi kue. Bahan ngobrol: kenapa kerja bersama lebih menenangkan daripada bersembunyi sendiri-sendiri? Suara atau warna apa yang membuatmu berani?
Ketakutan besar bisa dikalahkan kalau semua orang bekerja sama dan tidak panik.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.