

Halaman 1
Pada zaman dahulu di Tiongkok, langit punya sepuluh matahari. Mereka bersaudara dan sangat nakal. Suatu hari mereka naik ke langit bersama-sama. Bumi pun menjadi panas sekali. Sungai mengering, tanaman layu.

Halaman 2
Di bumi hiduplah pemanah hebat bernama Houyi dan istrinya, Chang E, yang lembut hatinya. Houyi memandang langit yang menyala-nyala. «Aku harus menolong semua orang,» katanya sambil mengangkat busurnya.
Halaman 3
Houyi mendaki gunung tertinggi dan membidik. Wus! Anak panahnya melesat. Satu matahari terkejut dan buru-buru turun, pulang ke rumahnya di timur. Satu per satu, sembilan matahari nakal pulang. Tinggal satu, yang menyinari bumi dengan ramah.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Bumi sejuk kembali. Ratu Langit yang bijak memberi Houyi hadiah: sebutir pil ajaib. «Siapa yang menelannya akan terbang dan tinggal di bulan,» katanya. Houyi menyimpannya baik-baik. Ia tidak mau berpisah dari Chang E.
Halaman 5
Chang E menjaga pil itu di kotak kecil. Suatu hari, saat Houyi pergi berburu, seorang tetangga yang serakah menyelinap masuk. «Berikan pil ajaib itu padaku!» katanya. Chang E memeluk kotaknya erat-erat.
Halaman 6
Chang E tidak mau pil itu jatuh ke tangan orang serakah. Cepat-cepat ia menelannya. Seketika tubuhnya menjadi ringan seperti bulu. Ia melayang keluar jendela, naik, naik, semakin tinggi ke langit malam.
Halaman 7
«Chang E!» seru Houyi yang baru pulang. Ia berlari mengejar, tapi istrinya sudah melayang jauh. «Aku akan tinggal di bulan, tempat paling dekat denganmu!» seru Chang E. «Lihatlah ke atas setiap malam!»
Halaman 8
Di bulan, Chang E tinggal di istana yang bercahaya lembut. Tak lama, datang sahabat barunya: kelinci putih dari bumi. «Jangan sedih, aku menemanimu,» kata kelinci. Dari sana, Chang E selalu memandang ke bumi, ke rumah kecilnya.
Halaman 9
Setiap malam Houyi menaruh kue bulan — kue bundar manis kesukaan Chang E — di halaman rumah. Dan setiap malam bulan bersinar lebih terang, seolah Chang E tersenyum kepadanya dari atas. Mereka bertemu lewat cahaya.
Halaman 10
Sejak itu, saat bulan bundar penuh, orang-orang berkumpul makan kue bulan bersama keluarga. Malam pun hening. Cahaya bulan menyelimuti bumi seperti selimut perak. Pejamkan matamu, biarkan cahaya bulan menjagamu sampai pagi. Selamat tidur.
Chang'e adalah tokoh mitologi Tiongkok yang paling erat dengan bulan. Kisahnya bersama pemanah Houyi tercatat sejak naskah-naskah kuno dan hidup dalam banyak versi. Cerita ini menjadi latar Festival Pertengahan Musim Gugur, saat keluarga menikmati kue bulan di bawah purnama. Nama Chang'e bahkan dipakai untuk program wahana bulan Tiongkok masa kini.
Di Indonesia perayaannya dikenal sebagai Festival Kue Bulan atau Tiong Ciu, dirayakan komunitas Tionghoa pada purnama bulan kedelapan penanggalan Imlek. Kue bulan yang bundar dan padat mudah dicari di toko kue Tionghoa menjelang hari itu. Nikmati sepotong bersama anak di bawah purnama.
Cocok untuk usia 4–7 tahun. Dalam versi lama Houyi memanah jatuh sembilan matahari, dan pil itu kadang dicuri atau diminum Chang'e karena alasan lain; versi kami membuat matahari pulang sendiri dan memberi Chang'e alasan yang mulia. Bahan ngobrol: bagaimana cara merasa dekat dengan orang yang jauh, misalnya kakek nenek di kota lain?
Kasih sayang tidak hilang karena jarak — ia tetap terasa walau dari jauh.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.