

Halaman 1
Dahulu kala hiduplah seorang gadis baik hati bernama Vasilisa. Ibunya memberinya sebuah boneka kayu kecil. "Jagalah boneka ini," pesan ibunya. "Bila kamu sedih atau bingung, ajaklah ia bicara." Vasilisa selalu menyimpannya di saku.

Halaman 2
Vasilisa kemudian tinggal bersama ibu tiri dan dua saudara tirinya. Mereka suka menyuruh-nyuruh. "Cuci ini! Masak itu!" Tapi setiap malam boneka kecil membantunya, dan semua pekerjaan selesai. Vasilisa tumbuh makin rajin, dan hatinya makin cantik.
Halaman 3
Suatu malam musim dingin, semua api di rumah padam. Gelap gulita. "Kita butuh api," kata ibu tiri. "Vasilisa, pergilah ke rumah Baba Yaga di hutan. Minta api darinya!" Vasilisa gemetar, tapi ia menggenggam bonekanya erat-erat.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
"Jangan takut. Aku bersamamu," bisik boneka kecil. Vasilisa berjalan melewati hutan yang gelap. Akhirnya tampak rumah yang aneh: rumah kayu yang berdiri di atas kaki ayam raksasa! Itulah rumah Baba Yaga, penyihir hutan yang paling terkenal.
Halaman 5
Whuush! Baba Yaga datang terbang di dalam lesung kayunya. "Siapa berani datang ke rumahku?" suaranya serak. "Saya Vasilisa, Nek. Saya datang meminta api." "Hmm! Api harus dibayar dengan kerja. Bekerjalah untukku. Kalau malas — awas!"
Halaman 6
Tugas Baba Yaga berat semua: mencuci kain, memasak sup sekuali besar, memisahkan gandum dari kerikil sekarung penuh! Vasilisa hampir menangis. "Tidurlah," bisik boneka kecil. "Besok pagi semua beres." Dan benar — pagi harinya semua selesai rapi.
Halaman 7
Tiga hari Vasilisa bekerja, dan tiga kali boneka menolongnya. Baba Yaga heran. "Bagaimana kamu menyelesaikan semuanya?" "Saya ditolong kasih sayang ibu," jawab Vasilisa jujur. Baba Yaga mengerutkan hidung. "Kasih sayang? Ambil apimu dan pergilah!"
Halaman 8
Baba Yaga memberinya lentera tua berisi bara yang terang. "Bawa ini. Jangan berhenti sampai rumah!" Vasilisa berlari pulang melewati hutan. Cahaya lentera menerangi jalannya, hangat seperti pelukan. Menjelang pagi, sampailah ia di rumah.
Halaman 9
Sejak api itu menyala, rumah pun berubah. Di dekat tungku, ibu tiri dan kedua saudara tirinya menunduk memandangi lantai. "Maafkan kami, Vasilisa," kata mereka pelan. Sejak itu pekerjaan dibagi rata, dan rumah menjadi hangat.
Halaman 10
Malam-malam berikutnya terang oleh api yang lembut. Vasilisa duduk dekat tungku, boneka di pangkuannya. "Terima kasih, teman kecil," bisiknya, lalu menguap. Api kecil menari makin pelan, makin redup. Seperti matamu sekarang. Selamat tidur, sayang.
"Vasilisa yang Cantik" adalah salah satu dongeng paling terkenal dari kumpulan dongeng rakyat Rusia Alexander Afanasyev (abad ke-19). Di sini anak Rusia berkenalan dengan Baba Yaga, penyihir hutan di rumah berkaki ayam yang terbang dalam lesung; ilustrasi Ivan Bilibin untuknya menjadi gambar klasik.
Dua benda di cerita ini akrab bagi kita. Lesung Baba Yaga adalah lesung kayu penumbuk biji-bijian, seperti lesung dan alu penumbuk padi di banyak desa Indonesia. Rumah berkaki ayam bisa dibayangkan lewat rumah panggung: rumah kayu bertiang tinggi di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi, aman dari banjir dan binatang.
Cocok untuk usia 5–9 tahun. Aslinya jauh lebih kelam: pagar Baba Yaga dari tulang, dan api yang dibawa Vasilisa membakar habis ibu tiri dan anak-anaknya. Versi kami menggantinya dengan lentera hangat, permintaan maaf, dan pekerjaan dibagi rata. Bahan ngobrol: kenapa Baba Yaga melepas Vasilisa begitu mendengar "kasih sayang ibu"? Siapa "boneka kecil" untukmu saat bingung?
Hati yang baik dan tekun tidak perlu takut pada tugas berat — pertolongan datang bagi yang tulus.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.