

Halaman 1
Di sebuah desa kecil di Rusia, hiduplah Kakek dan Nenek. Suatu pagi Kakek berkata, "Nek, aku ingin roti yang hangat." Nenek mengumpulkan sisa tepung. Ia mengaduk, menguleni, lalu memanggang sebuah roti bulat kecil. Namanya Kolobok.

Halaman 2
Nenek menaruh Kolobok di tepi jendela supaya dingin. Tapi Kolobok bosan diam. Ia bergoyang ke kiri, bergoyang ke kanan, lalu — hup! — melompat ke halaman. "Aku mau jalan-jalan!" serunya riang, dan ia menggelinding menuju jalan hutan.
Halaman 3
Di jalan, seekor kelinci melompat keluar. "Kolobok, aku mau memakanmu!" Kolobok bernyanyi, "Aku Kolobok si roti bulat! Aku lolos dari Kakek, aku lolos dari Nenek. Darimu juga aku pasti lolos!" Ia menggelinding cepat, dan kelinci tertinggal.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Makin jauh, seekor serigala abu-abu menghadang. "Roti bulat, berhenti! Aku lapar!" Kolobok bernyanyi lagi, "Aku lolos dari Kakek, dari Nenek, juga dari kelinci. Darimu pun aku akan lolos!" Wusss — ia menggelinding lewat di antara kaki serigala.
Halaman 5
Di tengah hutan berdiri seekor beruang besar. "Hmm, harum sekali. Sini, roti kecil!" gerutunya. Kolobok tertawa, "Aku lolos dari Kakek, Nenek, kelinci, dan serigala. Darimu juga, Beruang!" Ia menggelinding menuruni bukit, makin cepat, makin jauh.
Halaman 6
Di bawah pohon birch yang kulitnya putih duduk seekor rubah merah. Suaranya manis sekali. "Aduh, roti yang tampan! Kudengar kamu pandai bernyanyi?" Kolobok senang sekali dipuji. Ia pun menyanyikan lagunya keras-keras, dari awal sampai akhir.
Halaman 7
"Merdu sekali," kata rubah, "tapi telingaku sudah tua. Naiklah ke hidungku, bernyanyilah sekali lagi." Kolobok yang bangga melompat ke hidung rubah. Ia baru membuka mulut — hap! Rubah menelannya. Dan Kolobok pun tidak ada lagi.
Halaman 8
Di rumah, Nenek memanggang roti yang baru. Roti yang sombong memang mudah tertipu pujian manis. Roti baru ini tenang saja di atas meja, hangat dan wangi. Di sebelahnya mendesis samovar, poci logam tempat air teh selalu panas.
Halaman 9
Kakek dan Nenek minum teh, lalu menguap pelan. Lampu dipadamkan. Di luar, hutan pun terlelap: kelinci, serigala, dan beruang tidur di sarangnya masing-masing. Sekarang giliranmu, sayang. Pejamkan matamu, dan biarkan mimpi menggelinding datang.
"Kolobok" adalah dongeng rakyat Rusia yang paling awal didengar anak-anak di sana, dan orang dewasa pun masih hafal lagunya. Ia tercatat pada abad ke-19 dalam kumpulan dongeng Alexander Afanasyev. Bentuknya berantai: setiap hewan menambah satu baris lagu, dan anak cepat ikut menyanyi.
Kolobok sebenarnya roti bulat kecil dari sisa tepung terakhir di rumah. Yang seru dicoba: buat adonan roti atau bakpao bersama, bulatkan dengan telapak tangan, lalu lihat ia menggelinding di meja. Samovar, poci logam untuk air teh, masih dipakai orang Rusia — mirip kebiasaan minum teh hangat sore hari di rumah kita.
Cocok untuk usia 3–6 tahun. Akhirnya tidak kami ubah: rubah tetap memakan Kolobok seperti dalam dongeng aslinya, hanya tanpa menakut-nakuti, dan Nenek memanggang roti baru supaya malam tetap tenang. Bahan ngobrol: kenapa Kolobok lolos dari kelinci, serigala, dan beruang, tapi tidak dari rubah? Pujian seperti apa yang membuat kita lupa berhati-hati?
Pujian manis tidak selalu tulus — jangan terbuai sampai lupa berhati-hati.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.