

Halaman 1
Di sebuah rumah di tepi hutan hiduplah tiga beruang. Ayah Beruang badannya besar. Ibu Beruang badannya sedang. Mishutka, si anak beruang, badannya paling kecil. Pagi itu bubur mereka masih panas. "Ayo jalan-jalan dulu," kata Ibu Beruang.

Halaman 2
Tak lama, seorang gadis kecil lewat. Pagi itu ia berjalan terlalu jauh dari rumah ibunya, lalu tersesat. Ia lelah sekali. Dilihatnya rumah beruang itu. "Permisi... ada orang?" Tidak ada jawaban. Pintunya tidak terkunci. Ia pun masuk pelan-pelan.
Halaman 3
Di meja ada tiga mangkuk bubur. Ia mencicipi bubur di mangkuk besar. "Aduh, masih panas!" katanya. Lalu ia mencoba mangkuk sedang. "Hmm, ini terlalu asin." Ia mencicipi mangkuk kecil. "Nah, yang ini pas!" Tanpa sadar, bubur itu habis dimakannya.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Gadis kecil ingin duduk. Kursi besar terlalu tinggi. Kursi sedang terlalu keras. Kursi kecil — pas sekali! Ia bergoyang-goyang senang... krek! Kaki kursi kecil itu patah. "Aduh, maaf," bisiknya, walau tidak ada yang mendengar.
Halaman 5
Ia naik ke kamar. Ada tiga tempat tidur. Yang besar terlalu lebar. Yang sedang bantalnya terlalu tinggi. Yang kecil — hangat dan pas sekali. Matanya menjadi berat, dan gadis kecil itu pun tertidur pulas.
Halaman 6
Tiga beruang pulang. Ayah Beruang melihat mejanya. "Siapa yang menyentuh buburku?" Suaranya dalam seperti guntur. "Siapa yang mencicipi buburku?" tanya Ibu Beruang. Mishutka hampir menangis, "Buburku dimakan sampai habis!"
Halaman 7
Mereka melihat kursi-kursi. "Siapa yang duduk di kursiku?" geram Ayah Beruang. "Di kursiku juga ada yang duduk," kata Ibu Beruang. "Lihat! Kursiku sampai patah!" seru Mishutka. Pelan-pelan, bertiga mereka naik ke kamar.
Halaman 8
"Ada yang tidur di tempat tidurku!" seru Mishutka. Gadis kecil terbangun. Tiga beruang berdiri menatapnya. "Maafkan aku!" serunya. Ia melompat lewat jendela yang rendah dan berlari melewati hutan, terus berlari sampai ke rumahnya.
Halaman 9
Di rumah, gadis kecil memeluk ibunya. "Lain kali minta izin dulu, ya," kata Ibu lembut. Malam itu ia tidur di ranjangnya sendiri — yang paling pas untuknya. Di hutan, tiga beruang pun terlelap. Tidurlah juga, di ranjangmu yang paling pas untukmu.
"Tiga Beruang" datang ke Rusia lewat Leo Tolstoy, yang pada 1875 menceritakan ulang dongeng Inggris tentang Goldilocks untuk buku bacaan anak. Versi Tolstoy inilah yang dikenal setiap anak Rusia: gadisnya tidak bernama, anak beruangnya dipanggil Mishutka. Di banyak negara cerita ini dipakai mengajarkan besar, sedang, kecil.
Bubur tiga beruang adalah kasha, bubur gandum atau oat, sarapan sehari-hari di Rusia seperti bubur ayam di meja kita. Yang mudah dimainkan adalah urutan ukuran: sediakan tiga mangkuk, tiga sendok, tiga bantal, biarkan anak menyusun dari paling besar ke paling kecil, lalu memilih mana yang "pas" untuknya.
Cocok untuk usia 3–6 tahun. Pada Tolstoy cerita berakhir saat gadis itu melompat lewat jendela dan lari; versi kami menambahkan permintaan maaf dan percakapan dengan ibu supaya pelajarannya jelas. Bahan ngobrol: bolehkah masuk rumah orang yang kosong walau tidak terkunci? Apa yang sebaiknya ia lakukan setelah kursi Mishutka patah?
Barang orang lain tidak dipakai tanpa izin — dan tempat yang paling pas selalu menunggu di rumah sendiri.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.