

Halaman 1
Di tepi laut Jepang, dahulu sekali, hiduplah nelayan muda bernama Urashima Taro. Ia baik hati. Suatu sore ia melihat anak-anak mengganggu seekor penyu kecil di pantai. «Hei, lepaskan penyu itu,» katanya lembut. «Laut adalah rumahnya.»

Halaman 2
Anak-anak pergi, dan Taro mengantar penyu kecil itu ke air. Beberapa hari kemudian, seekor penyu besar muncul dari ombak. «Terima kasih sudah menolong anakku,» katanya. «Naiklah ke punggungku. Putri Laut ingin berterima kasih padamu.»
Halaman 3
Taro naik, dan mereka menyelam. Di dasar laut berdiri Istana Laut dari karang dan mutiara, berkilau kehijauan. Ikan-ikan berenang seperti kupu-kupu. Putri Otohime menyambutnya. «Selamat datang, Urashima Taro yang baik hati.»
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Hari-hari di istana laut sungguh menyenangkan. Ada tarian ikan, lagu kerang, dan jamuan lezat. Di istana itu, waktu terasa berhenti. Taro tertawa setiap hari. Tapi lama-lama ia teringat kampungnya. «Aku rindu rumah,» katanya pelan.
Halaman 5
«Aku mengerti,» kata Putri Otohime. Ia memberi Taro kotak kecil berpita. «Ini kotak kenangan. Bawalah, tapi jangan dibuka sembarangan, ya. Bukalah hanya saat kau benar-benar membutuhkannya.» Taro mengangguk dan berpamitan.
Halaman 6
Penyu besar mengantar Taro ke pantai. Tapi... kampungnya terlihat berbeda. Pohon-pohon lebih tinggi. Rumah-rumah baru. Anak-anak yang bermain di pantai tak ia kenal. «Ada apa ini?» bisik Taro bingung.
Halaman 7
Seorang nenek tua berkata, «Urashima Taro? Ah, itu nama dari cerita lama. Ia pergi ke laut puluhan tahun yang lalu.» Taro terkejut. Di istana laut, waktu berjalan berbeda! Sehari di sana ternyata setahun di darat.
Halaman 8
Taro duduk di pantai memeluk kotak itu. «Sekaranglah saatnya,» bisiknya, lalu membuka tutupnya. Kabut lembut berhamburan, harum seperti istana laut. Rambut Taro berubah putih keperakan — waktu yang tertinggal kembali padanya, pelan dan hangat.
Halaman 9
Kini Taro menjadi kakek yang bijak. Keluarga adiknya menyambutnya di rumah lama. «Paman Taro dari cerita Nenek! Kau nyata!» seru anak-anak. Setiap sore Taro bercerita tentang istana laut, dan penyu besar muncul di ombak, mengangguk padanya.
Halaman 10
«Waktu di laut memang berjalan berbeda,» kata Taro sambil tersenyum. «Tapi kebaikan tidak pernah berubah.» Ombak berdesir pelan... syuuh... syuuh... Pejamkan matamu sambil mendengar desir ombak di hatimu. Tidur yang tenang, ya.
Urashima Taro adalah salah satu legenda tertua Jepang: nelayan itu sudah disebut dalam catatan sejarah dan kumpulan puisi abad ke-8, jauh sebelum dongeng-dongeng lain dituliskan. Istana Laut, Putri Otohime, dan kotak yang tak boleh dibuka dikenal setiap anak Jepang. Kisah waktu yang berjalan berbeda di dunia lain ada di banyak negara.
Penyu laut yang menjadi kunci cerita ini bertelur di banyak pantai Indonesia: Pangumbahan di Sukabumi, Pulau Derawan di Kalimantan Timur, Serangan di Bali, dan taman-taman nasional pesisir. Beberapa tempat menerima pengunjung saat pelepasan tukik. Pesan Taro di halaman pertama berlaku betul: penyu jangan diganggu.
Cocok untuk usia 5–9 tahun. Dalam versi klasik Taro membuka kotak itu dan seketika menjadi kakek renta yang sendirian, tanpa siapa pun yang mengenalnya; versi kami menjadikan perubahan itu hangat dan mengembalikannya ke keluarga adiknya. Bahan ngobrol: kalau kamu di tempat yang sangat menyenangkan, apa yang membuatmu tetap ingin pulang?
Waktu bisa berubah, tapi kebaikan hati tidak pernah berubah.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.