

Halaman 1
Dahulu kala di Jepang, hiduplah kakek dan nenek yang miskin tapi berhati emas. Musim dingin tiba, dan besok tahun baru. «Beras kita hampir habis,» kata nenek. «Aku akan menjual topi jerami buatan kita di kota,» kata kakek.

Halaman 2
Kakek berangkat membawa lima topi jerami. Salju turun makin tebal. Di kota, orang-orang sibuk berbelanja untuk tahun baru. «Topi jerami! Topi jerami yang hangat!» seru kakek. Tapi sampai sore, tak ada satu pun yang membeli.
Halaman 3
Kakek pulang dengan tangan kosong. Salju makin lebat. Di tepi jalan sepi, ia melihat enam patung batu tua berdiri berjajar — patung Jizo, penjaga jalan peninggalan orang zaman dulu. Kepala mereka penuh salju. «Aduh, dinginnya kalian,» kata kakek.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Kakek menyapu salju dari kepala patung-patung itu. Lalu satu per satu ia memakaikan topi jerami dagangannya. Satu, dua, tiga, empat, lima... topinya kurang satu! Kakek melepas kain penutup kepalanya sendiri untuk patung keenam. «Nah, hangat semua.»
Halaman 5
Nenek menyambutnya di pintu. «Topimu tidak laku?» «Tidak. Tapi topi-topi itu sekarang menghangatkan enam kepala yang kedinginan,» kata kakek sambil tersenyum. Nenek tertawa. «Kalau begitu, itu jualan yang paling bagus. Ayo makan bubur hangat.»
Halaman 6
Malam tahun baru itu, mereka tidur lebih awal. Tengah malam, terdengar suara dari kejauhan. Zuk... zuk... zuk... seperti langkah-langkah berat di salju, diiringi nyanyian pelan: «Rumah kakek topi jerami... di manakah... di manakah...»
Halaman 7
Bruk! Sesuatu diletakkan di depan pintu, lalu langkah-langkah itu menjauh. Kakek dan nenek membuka pintu pelan-pelan. Di atas salju ada karung besar berisi beras, kue mochi yang kenyal, sayuran, dan kain hangat! «Siapa yang mengantar semua ini?»
Halaman 8
Di kejauhan, dalam cahaya bulan, enam sosok berjalan pulang berjajar — lima memakai topi jerami, satu memakai kain penutup kepala. Patung-patung Jizo itu melambai pelan, lalu kembali berdiri di tempatnya. «Terima kasih!» seru kakek dan nenek.
Halaman 9
Tahun baru itu menjadi yang paling hangat bagi mereka. Kebaikan kecil ternyata bisa pulang menjadi kebaikan besar. Malam sudah larut, salju di cerita kita sudah reda. Sekarang giliranmu memejamkan mata, hangat di dalam selimut. Selamat tidur.
"Kasa Jizo", topi jerami untuk Jizo, adalah dongeng rakyat Jepang yang biasa diceritakan menjelang tahun baru. Patung Jizo memang ada di tepi jalan seluruh Jepang: dalam tradisi Buddha di sana ia dianggap pelindung anak-anak dan orang yang bepergian, dan orang sering memakaikan topi atau celemek merah kepada patungnya. Ceritanya hidup dari tradisi lisan.
Topi jerami tepi lebar yang dijual kakek serupa dengan caping petani Indonesia, hanya bahannya di sini bambu atau daun pandan. Ajak anak melihat caping di pasar, atau mencoba menganyam kertas. Salju bisa dijelaskan lewat es serut atau bunga es di kulkas: dingin, putih, dan menumpuk di kepala patung seperti dalam cerita.
Cocok untuk usia 3–6 tahun. Dongeng aslinya memang lembut, dan versi kami dekat dengannya, termasuk kain penutup kepala yang diberikan kakek untuk patung keenam. Bahan ngobrol: kakek pulang tanpa uang, tapi nenek bilang itu jualan paling bagus. Kenapa? Pernahkah kamu memberi sesuatu tanpa mengharap balasan?
Kebaikan yang diberikan tanpa pamrih akan kembali pada waktunya.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.