

Halaman 1
Seorang petani tua punya tiga anak laki-laki. Yang bungsu bernama Ivan. Kakak-kakaknya menganggap Ivan pemalas. Suatu hari ladang gandum mereka rusak diinjak-injak. "Malam ini kalian bergantian menjaga ladang," kata ayah. "Cari tahu siapa pelakunya!"

Halaman 2
Kakak pertama menjaga, tapi ia tertidur pulas. Kakak kedua juga. Giliran Ivan, ia duduk tegak sambil menghitung bintang. Tengah malam, tanah bergetar. Seekor kuda datang: surainya keemasan, bulunya berkilau perak. Ivan melompat dan memegang lehernya!
Halaman 3
"Lepaskan aku, Ivan," kata kuda itu. "Aku Sivka-Burka. Ladangmu takkan kuinjak lagi, dan aku akan menolongmu. Bila kamu butuh aku, panggil saja: Sivka-Burka, kuda ajaib, datanglah padaku!" Ivan melepaskannya, dan kuda itu lenyap ke malam.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Beberapa waktu kemudian, raja mengumumkan sayembara. Putri Elena duduk di jendela menara yang sangat tinggi. "Siapa yang bisa melompat setinggi jendela dan mengambil cincin dari tangan putri, dialah menantuku!" Semua pemuda gagah pun berdatangan.
Halaman 5
Kakak-kakak Ivan ikut. "Kamu di rumah saja, Ivan. Nanti kamu jatuh," ejek mereka. Ivan hanya tersenyum. Setelah mereka pergi, ia berlari ke padang. "Sivka-Burka, kuda ajaib, datanglah padaku!" Wusss! Kuda itu muncul, mengepulkan uap dari hidungnya.
Halaman 6
"Masuklah lewat telinga kananku, keluarlah dari telinga kiriku," kata Sivka-Burka. Ivan menurut — dan keluar sebagai ksatria gagah berbaju perak! Ia melompat ke punggung kuda, lalu berlari ke alun-alun istana, secepat angin musim gugur.
Halaman 7
Hup! Sivka-Burka melompat tinggi. Tapi kurang tiga jendela dari puncak. Hari kedua mereka mencoba lagi: kurang dua jendela. Orang-orang bersorak, "Siapa ksatria perak itu?" Ivan diam saja. Ia pulang, dan kembali menjadi anak petani yang lusuh.
Halaman 8
Hari ketiga, Sivka-Burka berbisik, "Peganglah erat-erat, Ivan." Mereka berlari kencang, lalu — hup! — melompat setinggi jendela menara! Ivan sempat menerima cincin dari tangan Putri Elena, dan putri itu menandai dahinya dengan cap kerajaan.
Halaman 9
Di pesta istana, semua ksatria diperiksa. Tidak ada yang cocok. "Siapa yang belum datang?" tanya Putri Elena. "Hanya si bungsu Ivan," jawab kakak-kakaknya sambil tertawa. Ivan masuk. Putri menyibak rambut Ivan — cap kerajaan bersinar di dahinya!
Halaman 10
"Dialah ksatriaku," kata Putri Elena tersenyum. Pesta berlangsung sampai larut. Di padang, Sivka-Burka meringkik sekali, lalu berlari ke bawah bintang-bintang. Malam pun memeluk semua orang. Peganglah selimutmu erat-erat, dan berangkatlah ke mimpi.
"Sivka-Burka" adalah dongeng rakyat Rusia dari kumpulan Alexander Afanasyev, dan contoh paling jelas tokoh kesayangan dongeng Rusia: Ivan si bungsu yang dianggap bodoh kakak-kakaknya, tapi justru dialah yang menang. Mantra pemanggil kuda dalam cerita ini dihafal anak-anak Rusia sampai sekarang.
Kuda yang melompat setinggi menara tentu dongeng, tapi kuda lincah dan kuat ada di negeri kita: kuda sandel dari Sumba, dipelihara di padang sabana Nusa Tenggara, terkenal tangguh dan dipacu dalam lomba dan upacara adat. Ladang gandum Ivan mirip sawah: keduanya perlu dijaga dari hewan yang datang malam hari.
Cocok untuk usia 5–9 tahun. Aslinya tidak kejam, dan versi kami dekat dengannya; dalam beberapa varian Ivan mendapat kuda karena hanya ia yang menepati janji menjaga makam ayahnya, dan kami memilih varian ladang gandum yang lebih ringan. Bahan ngobrol: kenapa Ivan tidak memberi tahu siapa pun bahwa ksatria perak itu dia? Apakah yang dianggap bodoh memang selalu bodoh?
Jangan menilai orang dari penampilannya — yang tekun dan menepati janji akan menunjukkan siapa dirinya pada waktunya.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.