

Halaman 1
Di sebuah gua di lereng bukit, tinggallah seekor singa tua. Larinya tidak lagi cepat. Berburu terasa melelahkan. “Aku harus mencari akal,” pikirnya, “supaya makanan datang sendiri kepadaku.”

Halaman 2
Singa tua pun berbaring di guanya dan mengabarkan ke seluruh bukit: “Aku sakit keras! Datanglah menjengukku!” Suaranya dibuat lemah dan serak, padahal matanya mengintip penuh harap ke arah pintu gua.
Halaman 3
Kelinci datang menjenguk sambil membawa wortel. Ia masuk ke dalam gua. Kambing datang membawa rumput manis. Ia masuk juga. Rusa datang membawa buah-buahan. Masuk pula. Tetapi tidak ada satu pun yang keluar lagi.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Di dalam gua, singa berbaring melintang di depan pintu. “Jangan pulang dulu,” katanya dengan suara serak. “Temani aku di sini. Aku suka ditemani... dan dilayani.” Para penjenguk duduk gelisah di sudut gua, tidak berani lewat.
Halaman 5
Lalu datanglah rubah. Ia berhenti jauh di depan gua dan memandangi tanah. Jejak kaki kelinci: masuk. Jejak kambing: masuk. Jejak rusa: masuk. “Hmm,” gumam rubah, “banyak jejak yang masuk... tapi tidak ada satu pun jejak yang keluar.”
Halaman 6
“Singa yang baik!” seru rubah dari luar. “Aku datang menjengukmu — tapi cukup dari sini saja!” Singa menjawab serak, “Masuklah, Rubah, aku sakit...” Rubah tersenyum. “Sakit? Suaramu memang serak, tapi jejak-jejak di sini bercerita lain!”
Halaman 7
“Semua jejak menuju ke dalam, tidak ada yang keluar. Kalau kamu benar-benar sakit, mana jejak pulang para penjengukmu?” Gua itu sunyi sejenak. Lalu terdengar helaan napas panjang. Singa tua keluar dengan kepala tertunduk.
Halaman 8
“Kamu benar, Rubah. Aku berpura-pura sakit karena malas berburu dan ingin dilayani.” Kelinci, kambing, dan rusa keluar dari gua dengan lega. Rubah berkata, “Kalau kamu butuh bantuan, Singa, cukup katakan dengan jujur.”
Halaman 9
Sejak itu, para binatang bergantian membawa makanan untuk singa tua — dengan senang hati, karena ia meminta dengan jujur, bukan dengan tipu daya. Malam di bukit pun damai. Mari berbaring seperti singa tua yang tenang, dan tidurlah lelap sampai pagi.
Singa tua dan rubah dikenang karena satu kalimat cerdas: banyak jejak masuk ke gua, tak satu pun keluar. Selama ribuan tahun fabel Aesop ini dipakai untuk mengajarkan hal yang kini kita sebut berpikir kritis — membaca tanda-tanda dulu sebelum melangkah.
Kecerdikan rubah bisa dimainkan sungguhan: jadilah detektif jejak. Di tanah basah, pasir, atau lumpur sawah, cari jejak kaki bersama anak — ke arah mana perginya? Siapa pemiliknya, ayam atau kucing? Membaca jejak adalah permainan pengamatan tertua di dunia.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Versi lama fabel ini gelap: para penjenguk yang masuk gua tidak pernah selamat. Versi kami memilih pengakuan — semua keluar dengan lega, dan singa yang akhirnya jujur justru dibantu dengan senang hati. Bahan obrolan: berpikir dulu sebelum masuk; dan bila butuh bantuan, meminta dengan jujur selalu lebih baik daripada tipu daya.
Perhatikan tanda-tanda di sekitarmu sebelum percaya begitu saja.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.