

Halaman 1
Musim itu panas sekali. Sungai kecil mengering. Seekor gagak hitam terbang ke sana kemari mencari air. Tenggorokannya kering. “Air... aku butuh air,” bisiknya lelah.

Halaman 2
Di dekat sebuah ladang, gagak melihat sesuatu yang berkilat. Sebuah kendi tanah liat! Ia hinggap di tepinya dan mengintip ke dalam. Ada air! Tetapi airnya tinggal sedikit, jauh di dasar kendi.
Halaman 3
Gagak memasukkan paruhnya. Tidak sampai. Ia berjinjit dan menjulurkan lehernya panjang-panjang. Tetap tidak sampai. “Aduh,” keluhnya. “Airnya terlihat, tapi tidak bisa kuminum.”
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Seekor kadal kecil menonton dari atas batu. “Menyerah saja, Gagak,” katanya. “Airnya terlalu dalam.” Gagak menggeleng. “Belum tentu. Pasti ada jalan.” Ia mendorong kendi supaya miring. Kendi itu berat, tidak bergeser sedikit pun.
Halaman 5
Gagak tidak menyerah. Ia duduk, memiringkan kepala, dan berpikir. Matanya menangkap kerikil-kerikil kecil di tanah. Ia memandang kerikil, lalu memandang kendi. Kerikil... kendi... “Aha!” serunya. “Aku punya ide!”
Halaman 6
Gagak memungut sebutir kerikil dengan paruhnya, lalu menjatuhkannya ke dalam kendi. Pluk! Air di dasar bergoyang dan naik sedikit. “Berhasil! Naiklah, air, naiklah!” seru gagak senang.
Halaman 7
Ia bekerja terus. Pluk! Pluk! Pluk! Satu demi satu kerikil masuk ke dalam kendi. Setiap kerikil membuat air naik sedikit demi sedikit, makin lama makin dekat ke bibir kendi. Kadal kecil ikut menonton dengan mata bulat.
Halaman 8
Akhirnya air sampai di atas. Gagak minum dengan lega. Segarnya luar biasa! “Kamu pintar sekali, Gagak!” seru kadal kagum. “Berpikir tenang dan berusaha pelan-pelan,” jawab gagak, “lebih hebat daripada terburu-buru.”
Halaman 9
Kenyang dan segar, gagak terbang ke dahan pohon. Matahari terbenam, langit berubah jingga lalu gelap. Gagak melipat sayapnya, puas dengan harinya yang cerdik. Lipat juga selimutmu rapat-rapat, dan tidurlah yang lelap.
Gagak dan kendi air adalah fabel Aesop yang dibenarkan oleh ilmu pengetahuan. Dalam percobaan-percobaan modern yang terkenal, burung-burung keluarga gagak sungguh menjatuhkan kerikil ke tabung berisi air untuk menaikkan permukaannya dan meraih makanan — para peneliti bahkan menamai uji kecerdasan itu menurut fabel Aesop ini.
Percobaannya bisa ditiru di rumah tanpa gagak: isi gelas bening dengan air setengahnya, lalu ajak anak memasukkan kerikil atau kelereng satu per satu. Airnya benar-benar naik sedikit demi sedikit — sains sederhana yang membuat cerita ini terasa hidup.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Bahan obrolan: gagak tidak menyerah, tetapi juga tidak asal mencoba — ia duduk, berpikir, lalu menemukan cara baru. Saat anak menghadapi soal yang sulit, ingatkan si gagak: berpikir tenang dan berusaha pelan-pelan lebih hebat daripada terburu-buru.
Dengan berpikir tenang dan berusaha sedikit demi sedikit, masalah yang sulit dapat terpecahkan.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.