

Halaman 1
Di sebuah padang rumput yang hijau, tinggallah seekor kelinci. Larinya cepat sekali. Ia suka membanggakan kakinya. Di padang itu tinggal juga seekor kura-kura. Jalannya pelan, tetapi hatinya tenang.

Halaman 2
Suatu pagi, kelinci melompat-lompat di depan kura-kura. “Hai, Kura-kura! Jalanmu lambat sekali,” katanya sambil tertawa. “Aku sudah sampai di sungai, kamu masih di sini!”
Halaman 3
Kura-kura mengangkat kepalanya pelan-pelan. “Benar, aku memang lambat,” jawabnya. “Tapi maukah kamu berlomba denganku sampai pohon besar di ujung padang?” Kelinci tertawa keras. “Berlomba denganmu? Tentu aku mau!”
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Burung hantu tua dipilih menjadi juri. “Satu... dua... tiga!” serunya. Kelinci melesat seperti angin. Rumput-rumput bergoyang dilewatinya. Kura-kura melangkah pelan, satu demi satu, tanpa berhenti.
Halaman 5
Di tengah jalan, kelinci menoleh ke belakang. Kura-kura masih jauh sekali, kecil seperti batu di kejauhan. “Ah, aku masih sempat tidur dulu,” kata kelinci. Ia berbaring di bawah pohon yang rindang.
Halaman 6
Angin siang bertiup lembut. Kelinci menguap lebar, lalu tertidur pulas. Sementara itu, kura-kura terus berjalan. Langkahnya pelan, napasnya tenang. “Sedikit demi sedikit,” bisiknya, “aku pasti sampai.”
Halaman 7
Kura-kura melewati kelinci yang sedang tidur. Ia tidak berhenti, tidak juga mengejek. Semut-semut di tepi jalan bersorak pelan, “Ayo, Kura-kura! Sedikit lagi!” Pohon besar sudah terlihat di depan.
Halaman 8
Kelinci terbangun. Matahari sudah rendah. Ia menoleh ke garis akhir — dan matanya terbelalak. “Tidak mungkin!” serunya. Kura-kura hampir sampai! Kelinci berlari sekencang-kencangnya, tetapi sudah terlambat.
Halaman 9
Kura-kura menyentuh pohon besar lebih dulu. “Hore untuk Kura-kura!” seru burung hantu dan semut-semut. Kelinci datang dengan napas terengah-engah. “Kamu menang, Kura-kura,” katanya pelan. “Aku terlalu sombong dan lengah.”
Halaman 10
Malam turun di padang rumput. Kelinci dan kura-kura duduk bersama memandang bintang, kini sebagai sahabat. Langkah pelan yang tekun ternyata sampai juga di tujuan. Seperti mereka, mari kita beristirahat. Selamat tidur, mimpi indah.
Lomba lari kura-kura melawan kelinci adalah fabel Aesop yang paling terkenal di dunia. Menurut tradisi, Aesop adalah pencerita ulung dari Yunani kuno yang hidup lebih dari dua ribu lima ratus tahun silam; fabel-fabel binatangnya menyebar dari mulut ke mulut dan sampai kini masih dibacakan untuk anak-anak dalam hampir semua bahasa.
Nusantara punya saudara kisah ini: di perpustakaan kami ada "Kancil dan Perlombaan dengan Siput" — hewan lambat yang mengalahkan pelari sombong ternyata digemari banyak bangsa. Dan bisikan kura-kura di cerita ini hidup sebagai peribahasa Indonesia: sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Bahan obrolan: kura-kura menang bukan karena cepat, melainkan karena terus melangkah tanpa berhenti — persis seperti belajar membaca atau naik sepeda. Perhatikan juga kelinci: ia mengakui kalah dengan jujur, lalu keduanya bersahabat. Tanyakan pada anak: hal apa yang ingin kamu latih sedikit demi sedikit?
Ketekunan yang pelan tetapi terus-menerus mengalahkan kecepatan yang sombong dan lengah.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.