

Halaman 1
Seekor serigala makan malam dengan terburu-buru. Ia mengunyah cepat dan menelan besar-besar. Tiba-tiba — uhuk! Sepotong tulang kecil tersangkut di tenggorokannya. Serigala terbatuk-batuk. Sakit sekali.

Halaman 2
Serigala berkeliling mencari pertolongan. Suaranya hanya keluar serak, “Tolong... uhuk... tolong...” Kelinci lari menjauh karena takut. Tupai bersembunyi di balik daun. Tidak ada yang berani mendekati serigala.
Halaman 3
Di tepi rawa, seekor bangau berdiri tenang dengan satu kaki. Lehernya panjang, paruhnya panjang dan runcing. “Bangau,” kata serigala dengan serak, “tolong aku. Ada tulang di tenggorokanku. Paruhmu pasti bisa mengambilnya.”
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Bangau memandangnya ragu-ragu. Serigala terkenal galak. “Berjanjilah untuk diam dan tidak bergerak,” kata bangau akhirnya. “Aku akan menolongmu.” Serigala mengangguk dan membuka mulutnya lebar-lebar.
Halaman 5
Bangau memasukkan paruh panjangnya dalam-dalam, hati-hati sekali. Dijepitnya tulang kecil itu... pelan-pelan... dan — cap! Tulang terangkat keluar! “Lega...” serigala menarik napas panjang. “Akhirnya aku bisa menelan lagi.”
Halaman 6
“Nah,” kata bangau, “aku sudah menolongmu.” Tetapi serigala hanya mengibaskan ekornya. “Memangnya kenapa? Urusan kita sudah selesai.” Ia pergi begitu saja, tanpa terima kasih sedikit pun. Bangau terdiam sendirian di tepi rawa.
Halaman 7
Malamnya, serigala tidak bisa tidur. Tenggorokannya sudah lega, tetapi ada yang mengganjal di dadanya. Ia teringat paruh yang menolongnya dengan hati-hati. “Aku bahkan tidak mengucapkan terima kasih,” gumamnya malu.
Halaman 8
Pagi-pagi sekali, serigala datang ke rawa membawa ikan segar. “Bangau,” katanya pelan, “maafkan aku. Kamu menolongku, dan aku pergi begitu saja. Terima kasih. Ini untukmu.” Mata bangau berbinar. “Nah, kata-kata itu yang paling kutunggu.”
Halaman 9
Sejak itu serigala tidak pernah lupa dua hal: makan pelan-pelan, dan berterima kasih kepada yang menolong. Senja di rawa pun tenang; bangau berdiri mengantuk dengan satu kakinya. Ucapkan selamat tidur pada harimu, dan terlelaplah pelan-pelan.
Serigala dan bangau adalah fabel Aesop tentang terima kasih — dua kata kecil yang ternyata paling sulit diucapkan justru oleh yang baru saja ditolong. Ribuan tahun berlalu, dan pelajaran ini tetap dibutuhkan di meja makan mana pun.
Sosok penolongnya mudah ditemukan di dekat rumah: burung putih berkaki panjang yang berdiri dengan satu kaki di sawah — pemandangan yang akrab di banyak daerah Indonesia. Ajak anak mengamatinya dari jauh: paruh yang panjang dan runcing itulah "alat dokter" di cerita ini.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi lama serigala menolak berterima kasih — katanya bangau harus bersyukur kepalanya keluar dengan selamat. Versi kami memberi serigala satu malam untuk merenung: esoknya ia kembali membawa ikan dan minta maaf. Bahan obrolan: terima kasih yang terlambat tetap berharga; dan satu lagi yang praktis — makan pelan-pelan, ya.
Jangan lupa berterima kasih kepada orang yang telah menolong kita.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.