

Halaman 1
Belalang hijau pandai bernyanyi. Sepanjang hari ia melompat dan bermain musik di ladang yang cerah. Tak jauh dari sana, barisan semut bekerja mengangkut biji-bijian ke rumah mereka.

Halaman 2
“Hai, Semut kecil!” seru belalang. “Hari secerah ini kok bekerja terus? Ayo menari bersamaku!” Seekor semut menoleh sambil memikul biji gandum. “Kami sedang menyimpan makanan,” jawabnya. “Musim hujan akan datang.”
Halaman 3
Belalang tertawa. “Musim hujan masih lama! Lihat, matahari bersinar, rumput manis ada di mana-mana.” Ia pun bernyanyi lagi. Semut-semut terus berjalan, bolak-balik, membawa bekal ke rumah mereka di bawah tanah.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Hari berganti hari. Belalang terus bernyanyi. Semut terus bekerja. Lumbung kecil di bawah tanah makin penuh: ada biji rumput, remah roti, dan potongan daun yang manis.
Halaman 5
Lalu langit berubah kelabu. Hujan turun berhari-hari. Ladang tergenang air, rumput manis tenggelam. Belalang berteduh di bawah daun, perutnya berbunyi keras. “Aduh... di mana aku bisa mencari makan?”
Halaman 6
Dengan tubuh basah, belalang mengetuk pintu rumah semut. “Permisi...” katanya lirih. “Bolehkah aku minta sedikit makanan? Aku lapar dan kedinginan.” Pintu kecil itu terbuka. Semut memandangnya dengan iba.
Halaman 7
“Masuklah dulu, hangatkan badanmu,” kata semut. “Sepanjang musim cerah kamu bernyanyi. Mengapa kamu tidak menyimpan bekal?” Belalang menunduk malu. “Aku terlalu asyik bermain. Aku lupa memikirkan hari esok.”
Halaman 8
Semut-semut berunding sebentar, lalu mengangguk. “Kami akan berbagi. Tapi musim depan, ayo menabung bersama kami.” Belalang mengangkat kepalanya. “Janji! Dan aku akan menghibur kalian dengan laguku selama bekerja.”
Halaman 9
Sejak itu, rumah semut menjadi hangat oleh musik. Belalang bernyanyi pelan, semut-semut makan malam bersama. Di luar, hujan menetes lembut di atas daun-daun.
Halaman 10
Ketika musim cerah kembali, belalang ikut memanggul biji-bijian sambil tetap bernyanyi riang. Bekerja dulu, bermain kemudian — dan malam pun terasa tenang. Sekarang tutuplah matamu. Tidurlah, seperti semut-semut kecil di rumah hangatnya.
Semut dan belalang termasuk fabel Aesop yang paling sering diceritakan ulang: pertanyaannya — bermain dulu atau bersiap dulu — dihadapi setiap anak, dan diam-diam juga setiap orang dewasa. Fabel seperti ini sudah berumur ribuan tahun, tetapi rasanya selalu baru setiap kali musim hujan datang.
Jangkar dunia nyatanya ada di halaman rumah: semut sungguhan memang menyimpan makanan di sarangnya. Ajak anak berjongkok mengamati barisan semut — mereka sanggup menggotong remah yang jauh lebih besar dari badannya, bolak-balik tanpa kenal lelah, persis seperti di cerita.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Perlu jujur: dalam versi-versi lama semut menolak belalang yang kelaparan. Versi kami memilih akhir yang hangat — semut berbagi, dan belalang membalas dengan lagu serta ikut bekerja di musim berikutnya. Bahan obrolan: bekerja dan bermain tidak harus bermusuhan; "tabungan" kecil apa yang bisa kita siapkan bersama untuk besok?
Bersenang-senang itu boleh, tetapi jangan lupa bersiap untuk hari esok.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.