

Halaman 1
Di sebuah lembah hijau tinggal petani bernama Khun-Anup. Ia rajin dan jujur. Suatu pagi ia memuati dua keledainya dengan garam, kurma, dan rumput wangi, lalu berangkat ke kota untuk berdagang.

Halaman 2
Di tengah jalan ada ladang milik Nemti, pegawai yang serakah. Nemti melihat keledai-keledai gemuk itu, dan matanya berbinar licik. «Aku mau keledai itu,» gumamnya. Ia membentangkan kainnya yang bagus di tengah jalan sempit.
Halaman 3
Jalan tertutup kain. Di kiri parit, di kanan ladang gandum. Keledai melangkah ke tepi ladang dan — hap! — mencomot sebatang gandum. «Nah!» teriak Nemti. «Keledaimu makan gandumku! Sebagai gantinya, keledaimu jadi milikku!»
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Nemti membawa kedua keledai beserta muatannya. «Itu tidak adil!» kata Khun-Anup. «Kainmu sendiri yang menutup jalan!» Tapi Nemti pura-pura tidak mendengar. Maka Khun-Anup berjalan ke kota, menemui hakim agung bernama Rensi.
Halaman 5
Di depan Rensi, Khun-Anup berbicara, dan ucapannya indah sekali. «Tuan Hakim, keadilan itu seperti air Nil. Ia harus mengalir ke semua ladang — ladang orang besar dan ladang orang kecil.» Rensi terpaku mendengarnya.
Halaman 6
Rensi bercerita kepada Firaun. «Ada petani yang kata-katanya seperti puisi!» Firaun penasaran. «Jangan putuskan perkaranya dulu. Aku ingin mendengar kata-katanya lagi. Tapi diam-diam, kirimkan roti dan sayur untuk keluarganya setiap hari.»
Halaman 7
Maka Khun-Anup datang lagi. «Hakim yang baik itu seperti timbangan. Kedua sisinya harus seimbang.» Ia datang lagi: «Pemimpin itu seperti kemudi perahu. Kalau kemudinya miring, perahu tersesat.» Juru tulis mencatat setiap katanya.
Halaman 8
Akhirnya Firaun sendiri memanggil Khun-Anup ke istana. «Aku sudah mendengar semua ucapanmu,» kata Firaun sambil tersenyum. «Kata-katamu jujur dan santun. Itulah suara keadilan yang sesungguhnya.»
Halaman 9
Firaun memutuskan: Nemti harus mengembalikan kedua keledai beserta seluruh muatannya dan meminta maaf di depan semua orang. «Maafkan aku,» kata Nemti, wajahnya merah. «Aku memaafkanmu,» jawab Khun-Anup. «Lain kali, biarkan jalan tetap terbuka.»
Halaman 10
Khun-Anup pulang menuntun keledainya, dan sejak itu Firaun sering mengundangnya, hanya untuk mendengar kata-katanya yang bijak. Malam sudah larut, lembah sudah sunyi. Selamat beristirahat... malam yang tenang untukmu.
"Petani yang Fasih Berbicara" adalah karya sastra Mesir kuno dari zaman Kerajaan Pertengahan, sekitar 3.800 tahun lalu, tersimpan pada beberapa papirus, sebagian di Museum Berlin. Nama-namanya asli dari naskah: petani Khun-Anup, pegawai Nemti-nakht, dan pejabat tinggi Rensi. Sembilan pidatonya dipelajari sebagai tulisan tertua tentang keadilan bagi orang kecil.
Khun-Anup berasal dari Wadi Natrun, lembah garam di tepi gurun. Timbangan yang ia sebut masih ada di pasar mana pun; di Mesir kuno timbangan adalah lambang keadilan di gulungan makam. Keledai jarang di Indonesia, tetapi kuda beban di Nusa Tenggara memuat barang dengan cara yang sama.
Cocok untuk usia 5–9 tahun. Naskah aslinya lebih keras: Khun-Anup dipukul, ia mengadu sembilan kali sampai putus asa, dan akhirnya seluruh harta Nemti-nakht diberikan kepadanya. Versi kami mempersingkat pidato dan mengakhirinya dengan permintaan maaf. Bahan ngobrol: kenapa Firaun sengaja menunda putusannya?
Kata-kata yang jujur dan santun lebih kuat daripada teriakan dan paksaan.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.