Google PlayApp Store
Sampul cerita Si Petani yang Pandai Berbicara

Si Petani yang Pandai Berbicara

10 halaman3 menit 18 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Di sebuah lembah hijau tinggal petani bernama Khun-Anup. Ia rajin dan jujur. Suatu pagi ia memuati dua keledainya dengan garam, kurma, dan rumput wangi, lalu berangkat ke kota untuk berdagang.

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

Di tengah jalan ada ladang milik Nemti, pegawai yang serakah. Nemti melihat keledai-keledai gemuk itu, dan matanya berbinar licik. «Aku mau keledai itu,» gumamnya. Ia membentangkan kainnya yang bagus di tengah jalan sempit.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

Jalan tertutup kain. Di kiri parit, di kanan ladang gandum. Keledai melangkah ke tepi ladang dan — hap! — mencomot sebatang gandum. «Nah!» teriak Nemti. «Keledaimu makan gandumku! Sebagai gantinya, keledaimu jadi milikku!»

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

Nemti membawa kedua keledai beserta muatannya. «Itu tidak adil!» kata Khun-Anup. «Kainmu sendiri yang menutup jalan!» Tapi Nemti pura-pura tidak mendengar. Maka Khun-Anup berjalan ke kota, menemui hakim agung bernama Rensi.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Di depan Rensi, Khun-Anup berbicara, dan ucapannya indah sekali. «Tuan Hakim, keadilan itu seperti air Nil. Ia harus mengalir ke semua ladang — ladang orang besar dan ladang orang kecil.» Rensi terpaku mendengarnya.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

Rensi bercerita kepada Firaun. «Ada petani yang kata-katanya seperti puisi!» Firaun penasaran. «Jangan putuskan perkaranya dulu. Aku ingin mendengar kata-katanya lagi. Tapi diam-diam, kirimkan roti dan sayur untuk keluarganya setiap hari.»

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

Maka Khun-Anup datang lagi. «Hakim yang baik itu seperti timbangan. Kedua sisinya harus seimbang.» Ia datang lagi: «Pemimpin itu seperti kemudi perahu. Kalau kemudinya miring, perahu tersesat.» Juru tulis mencatat setiap katanya.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

Akhirnya Firaun sendiri memanggil Khun-Anup ke istana. «Aku sudah mendengar semua ucapanmu,» kata Firaun sambil tersenyum. «Kata-katamu jujur dan santun. Itulah suara keadilan yang sesungguhnya.»

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

Firaun memutuskan: Nemti harus mengembalikan kedua keledai beserta seluruh muatannya dan meminta maaf di depan semua orang. «Maafkan aku,» kata Nemti, wajahnya merah. «Aku memaafkanmu,» jawab Khun-Anup. «Lain kali, biarkan jalan tetap terbuka.»

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 10

Khun-Anup pulang menuntun keledainya, dan sejak itu Firaun sering mengundangnya, hanya untuk mendengar kata-katanya yang bijak. Malam sudah larut, lembah sudah sunyi. Selamat beristirahat... malam yang tenang untukmu.

Tentang cerita ini

"Petani yang Fasih Berbicara" adalah karya sastra Mesir kuno dari zaman Kerajaan Pertengahan, sekitar 3.800 tahun lalu, tersimpan pada beberapa papirus, sebagian di Museum Berlin. Nama-namanya asli dari naskah: petani Khun-Anup, pegawai Nemti-nakht, dan pejabat tinggi Rensi. Sembilan pidatonya dipelajari sebagai tulisan tertua tentang keadilan bagi orang kecil.

Khun-Anup berasal dari Wadi Natrun, lembah garam di tepi gurun. Timbangan yang ia sebut masih ada di pasar mana pun; di Mesir kuno timbangan adalah lambang keadilan di gulungan makam. Keledai jarang di Indonesia, tetapi kuda beban di Nusa Tenggara memuat barang dengan cara yang sama.

Cocok untuk usia 5–9 tahun. Naskah aslinya lebih keras: Khun-Anup dipukul, ia mengadu sembilan kali sampai putus asa, dan akhirnya seluruh harta Nemti-nakht diberikan kepadanya. Versi kami mempersingkat pidato dan mengakhirinya dengan permintaan maaf. Bahan ngobrol: kenapa Firaun sengaja menunda putusannya?

Untuk orang tua

Pesan moral

Kata-kata yang jujur dan santun lebih kuat daripada teriakan dan paksaan.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Bagaimana cara Nemti menjebak keledai Khun-Anup?
  2. Kenapa Firaun ingin terus mendengar kata-kata Khun-Anup?
  3. Perumpamaan apa saja yang dipakai Khun-Anup tentang keadilan?
  4. Kalau kamu merasa diperlakukan tidak adil, kepada siapa kamu bercerita?

Untuk kelas

keledailembahparithakimtimbangankemudiFiraun

Cerita lain: Mesir

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.