

Halaman 1
Dahulu kala, seorang pangeran kecil lahir di istana Mesir. Raja dan ratu sangat bahagia. Malam itu, tujuh peri bintang datang menjenguk sang bayi, seperti kebiasaan mereka di seluruh negeri.

Halaman 2
«Kami membawa ramalan,» kata peri tertua. «Pangeran ini kelak akan bertemu tiga hewan: anjing, ular, dan buaya. Takdirnya terikat pada mereka bertiga.» Lalu ketujuh peri menghilang menjadi kerlip bintang.
Halaman 3
Raja ketakutan. «Hewan-hewan itu pasti berbahaya!» Ia membangun menara tinggi dan menempatkan pangeran di sana, jauh dari semua hewan. Pangeran tumbuh di menara, sendirian, hanya ditemani angin.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Dari jendela, pangeran melihat anak-anak bermain dengan anak anjing. «Ayah, aku ingin anjing juga,» pintanya. Raja menghela napas. «Baiklah, satu anjing kecil saja.» Sejak itu pangeran punya sahabat setia bernama Kibi.
Halaman 5
Pangeran tumbuh besar dan gagah. «Takdir tidak bisa dikurung di dalam menara,» katanya kepada ayahnya. «Izinkan aku melihat dunia.» Raja akhirnya mengangguk. Pangeran pun berangkat mengembara bersama Kibi.
Halaman 6
Di negeri Naharina ada sayembara: putri raja tinggal di menara tinggi, dan siapa yang bisa mencapai jendelanya boleh meminangnya. Pemuda-pemuda melompat tinggi-tinggi... hup! Semuanya jatuh ke tumpukan jerami.
Halaman 7
Pangeran tidak melompat. Ia memanjat pelan-pelan, mencari pijakan batu satu demi satu. Sabar... sabar... sampai tangannya meraih jendela! Sang putri tertawa senang. «Akhirnya! Yang lain melompat, kau berpikir.» Mereka pun menikah.
Halaman 8
Suatu malam, seekor ular kecil menyelinap ke kamar. Sang putri tidak menjerit. Ia menaruh semangkuk susu di lantai. Ular minum sampai kenyang dan mengantuk, lalu dibawa pelan-pelan ke kebun. «Tidurlah di sini, ya,» bisik putri.
Halaman 9
Esoknya, di tepi sungai, terdengar erangan. Seekor buaya tua terjebak di pasir dangkal, tidak bisa kembali ke air. Pangeran dan Kibi mendorongnya kuat-kuat. Byur! «Aku datang membawa takdirmu,» kata buaya. «Ternyata takdirmu adalah menolongku.»
Halaman 10
Pangeran tertawa. Ramalan itu benar: anjing menjadi sahabatnya, ular ditenangkan dengan susu, buaya ditolongnya. Takdir tidak menakutkan bagi hati yang baik. Pejamkan matamu... tidurlah, sahabat kecil, sampai jumpa dalam mimpi.
"Pangeran yang Ditakdirkan" tercatat pada Papirus Harris 500 dari zaman Kerajaan Baru Mesir, sekitar 3.200 tahun lalu, kini di British Museum. Tujuh dewi Hathor yang menentukan nasib bayi adalah motif yang kelak muncul lagi pada peri-peri "Putri Tidur". Ujung papirusnya rusak; akhir aslinya tidak diketahui.
Ketiga hewannya nyata. Buaya Nil adalah sepupu dekat buaya muara Indonesia di muara-muara Kalimantan dan Papua; anjing sudah menjadi sahabat manusia di Mesir sejak zaman piramida, terlukis di makam dengan kalung dan namanya. Menara Naharina bisa dimainkan dengan bantal: "memanjat" pelan, bukan melompat.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam naskah aslinya ramalan itu ramalan kematian, ular dibunuh sang putri, dan buaya menunggu untuk bertarung; versi kami mengubah ramalan menjadi pertemuan yang diselesaikan dengan kebaikan. Bahan ngobrol: raja mengurung pangeran supaya aman — apakah itu berhasil? Apa yang berubah kalau kita menyapa hal yang kita takuti?
Takdir tidak perlu ditakuti: keberanian dan kebaikan mengubahnya menjadi teman.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.