Identitas
- Kelompok usia: 4–6 tahun (TK A/B)
- Topik: Pasar dan berdagang · Subtopik: Bicara santun lebih kuat daripada teriakan
- Alokasi waktu: 60 menit (satu blok dalam hari belajar; bisa dibagi dua hari)
- Cerita: Si Petani yang Pandai Berbicara (mitos Mesir kuno, 10 halaman, 3 menit)
- Dimensi profil lulusan: Komunikasi, Penalaran Kritis, Kewargaan
Tujuan pembelajaran
- Anak menceritakan cara Nemti menjebak keledai Khun-Anup.
- Anak menyebutkan satu perumpamaan Khun-Anup tentang keadilan.
- Anak menyebutkan kenapa Firaun ingin terus mendengar Khun-Anup.
- Anak menyebutkan kepada siapa ia bercerita kalau merasa tidak adil.
Alat dan bahan
- Cerita Si Petani yang Pandai Berbicara: pemutar «Putar di kelas» di laptop/proyektor, atau dibacakan guru.
- Kartu diskusi & kosakata (cetak 1 lembar untuk guru).
- Lembar mewarnai halaman 3 atau 7 (cetak sesuai jumlah anak).
- Beberapa kerikil atau balok kecil untuk «timbangan».
Pembukaan (10 menit)
- Salam, doa pembuka sesuai kebiasaan sekolah, absen.
- Pertanyaan pemantik: «Kalau dua teman berebut mainan, siapa yang bisa membantu?»
- Tunjukkan gambar halaman 1: «Ini Khun-Anup. Keledainya penuh garam, kurma, dan rumput wangi. Ia mau ke mana, ya?»
- Perkenalkan 3 kata: keledai, lembah, parit.
Inti (40 menit)
- Memahami: Putar atau bacakan halaman 1 sampai 4. Berhenti sesudah halaman 4, saat Khun-Anup berjalan ke kota menemui hakim. Tanya: «Menurut kalian, apa yang akan ia katakan kepada hakim?»
- Memahami: Lanjutkan halaman 5 sampai 10. Jeda, lalu tanya: «Kenapa Firaun ingin terus mendengar Khun-Anup?»
- Mengaplikasi: «Timbangan seimbang»: dua anak merentangkan tangan seperti timbangan. Guru menaruh kerikil di satu telapak sampai tangan itu turun, lalu menambah di sisi lain sampai kedua tangan sejajar. Semua berkata: «Hakim baik seperti timbangan.» Tanya: «Perumpamaan apa yang dipakai Khun-Anup tentang keadilan?»
- Mengaplikasi: Mewarnai halaman 3 (kain Nemti menutup jalan sempit, keledai mencomot gandum). Tanya: «Bagaimana Nemti menjebak keledai Khun-Anup?»
- Merefleksi: Duduk melingkar. Bahas: «Bagaimana cara Nemti menjebak keledai Khun-Anup?», «Kenapa Firaun ingin terus mendengar kata-kata Khun-Anup?», «Kalau kamu merasa diperlakukan tidak adil, kepada siapa kamu bercerita?»
Penutup (10 menit)
- Recalling: Anak bergiliran menyebut satu orang yang bisa diajak bercerita.
- Ulangi kata baru: keledai, lembah, parit, hakim, timbangan, kemudi.
- Pesan untuk di rumah: dengarkan cerita lagi bersama orang tua (kode PR dari guru), lalu ceritakan satu hal yang membuatmu kesal.
- Doa penutup dan salam.
Asesmen (observasi)
- Jebakan Nemti: anak menceritakan kain menutup jalan sempit.
- Perumpamaan: anak menyebut keadilan seperti air Nil atau timbangan.
- Kata-kata Khun-Anup: anak menyebut ucapannya jujur dan santun.
- Bercerita: anak menyebut satu orang yang bisa diajak bercerita.
- Dokumentasi: hasil karya (lembar mewarnai), catatan anekdot saat ragam main.
Catatan untuk guru
- Untuk kelompok A (4 tahun): berhenti di halaman 9, saat Nemti minta maaf dan dimaafkan; lalu ceritakan: «Khun-Anup pulang menuntun keledainya, dan Firaun sering mengundangnya.» Cukup satu ragam main («Timbangan seimbang»); ganti mewarnai dengan menunjuk halaman 3: «Bagaimana Nemti menjebak keledai Khun-Anup?»
- Kalau anak kesal melihat keledai diambil, katakan: «Nemti tidak dihukum; ia mengembalikan keledai dan minta maaf.»
- Khun-Anup dan Firaun tokoh cerita orang Mesir kuno, bukan pelajaran agama. Air Nil jadi perumpamaan karena mengaliri semua ladang.