

Halaman 1
Ada seorang pelaut Mesir yang riang. Ia berlayar dengan kapal besar bersama banyak pendayung. Mereka mengangkut rempah dan kain, menyusuri laut yang biru.

Halaman 2
Suatu hari langit menghitam. Badai datang! Ombak setinggi bukit mengangkat kapal. Pelaut kita terlempar ke laut. Untung ada papan kayu! Ia berpegangan erat-erat, sampai ombak mendorongnya ke sebuah pantai.
Halaman 3
Pelaut itu terbangun di pulau yang aneh dan indah. Pohon ara penuh buah, kurma manis bergelantungan, burung-burung bernyanyi. «Pulau apa ini?» bisiknya. «Kenapa semuanya tumbuh begitu subur?»
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Tiba-tiba tanah bergetar. Dum. Dum. Dari balik pepohonan muncul ular raksasa! Panjangnya seperti tiga puluh perahu, sisiknya keemasan berkilau. «Siapa yang datang ke pulauku?» tanyanya dengan suara menggelegar.
Halaman 5
Pelaut itu gemetar, tapi ia membungkuk sopan. «Aku pelaut yang terdampar, Tuan Ular. Badai memisahkanku dari kapalku.» Ular itu menatapnya lama, lalu tersenyum lembut. «Jangan takut. Di pulauku tidak ada yang perlu ditakuti.»
Halaman 6
Ular emas itu ternyata baik dan sangat kesepian. «Dulu keluargaku tinggal di sini,» katanya. «Kini mereka pindah ke pulau yang jauh, dan aku menjaga pulau ini sendirian. Aku rindu mendengar cerita.»
Halaman 7
Maka setiap sore pelaut itu bercerita: tentang Nil, tentang pasar yang ramai, tentang anak-anaknya di rumah. Ular raksasa mendengarkan sambil memejamkan mata. «Ceritamu seperti madu,» katanya. «Manis dan menghangatkan.»
Halaman 8
Empat bulan kemudian, sebuah layar muncul di cakrawala. Kapal! «Itu kapalmu. Teman-temanmu selamat dan mencarimu,» kata sang ular. Ia memberi hadiah: rempah harum, kayu manis, dan batu permata yang berkilau.
Halaman 9
«Satu pesan terakhir,» kata ular itu. «Setelah kau pergi, pulau ini akan menghilang menjadi ombak. Jangan mencarinya lagi. Tapi ceritakan aku kepada anak-anakmu, maka aku tidak pernah hilang.» Pelaut memeluk sahabat raksasanya.
Halaman 10
Pelaut pulang dan berkumpul lagi dengan keluarganya. Malam-malam ia bercerita tentang ular emas yang baik hati. Sekarang matamu mulai berat, ya? Biarkan ombak yang pelan mengantar mimpimu. Nyenyak, ya.
"Pelaut yang Karam" adalah salah satu cerita petualangan tertua yang pernah ditulis manusia. Ia tersimpan pada satu papirus dari zaman Kerajaan Pertengahan Mesir, sekitar empat ribu tahun lalu, yang kini ada di Museum Hermitage, St. Petersburg; bahkan nama juru tulis penyalinnya tercatat di akhir naskah.
Pulau ular memang ajaib, tetapi muatannya nyata: orang Mesir kuno berlayar lewat Laut Merah untuk membawa pulang kemenyan, mur, dan rempah. Kayu manis dalam hadiah sang ular punya mata rantai ke Indonesia — kayu manis dari Kerinci, Sumatra, sampai kini dijual ke seluruh dunia. Dan sanca kembang Indonesia adalah ular terpanjang di dunia.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam papirus aslinya keluarga sang ular musnah terkena bintang jatuh; versi kami membiarkan mereka sekadar pindah, menyisakan kesepian yang bisa diobati cerita. Bahan ngobrol: kenapa ular itu berkata "ceritakan aku, maka aku tidak pernah hilang"? Cerita siapa di keluarga kita yang ingin kamu ingat?
Oleh-oleh paling berharga dari sebuah perjalanan bukan harta, melainkan cerita dan persahabatan.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.