

Halaman 1
Dahulu kala, di tepi sungai Nil, tinggal gadis bernama Rhodopis. Ia datang dari negeri Yunani yang jauh dan bekerja di rumah seorang saudagar. Pipinya merah muda seperti bunga mawar.

Halaman 2
Pelayan-pelayan lain suka mengejeknya. «Rambutmu aneh! Logatmu lucu!» Rhodopis tidak membalas. Ia bekerja sambil bersenandung, dan sahabatnya adalah burung-burung serta kuda nil di sungai.
Halaman 3
Kalau pekerjaan selesai, Rhodopis menari sendirian di pasir. Suatu senja, sang saudagar melihatnya. «Penari seindah ini harus punya sepatu,» katanya kagum. Ia memberi Rhodopis sepasang sepatu merah muda yang cantik.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Suatu hari ada kabar besar: Firaun muda mengundang seluruh negeri ke pesta di istananya! Para pelayan berangkat naik rakit. «Kau tinggal di sini,» kata mereka kepada Rhodopis. «Cuci dulu semua kain ini.»
Halaman 5
Rhodopis mencuci kain di tepi Nil sambil menahan sedih. Byur! Seekor kuda nil melompat ke air, dan cipratannya membasahi sepatu merah mudanya. Rhodopis menaruh sepatu itu di atas batu supaya kering.
Halaman 6
Tiba-tiba seekor elang besar menukik dari langit. Ia menyambar satu sepatu dengan cakarnya, lalu terbang jauh. «Sepatuku!» seru Rhodopis. Elang itu terbang lurus ke arah istana Firaun.
Halaman 7
Di istana, Firaun muda duduk bosan di pestanya sendiri. Wush! Elang melintas dan menjatuhkan sepatu merah muda tepat di pangkuannya. Firaun terpana. «Ini sebuah petunjuk,» katanya. «Aku akan mencari pemilik sepatu ini.»
Halaman 8
Firaun berlayar menyusuri Nil dengan perahu besarnya. Di setiap desa, gadis-gadis mencoba sepatu itu. Terlalu besar, terlalu kecil — tidak ada yang pas. Akhirnya perahu Firaun tiba di rumah sang saudagar.
Halaman 9
Rhodopis maju malu-malu, paling belakang. Sepatu itu pas sekali! Lalu ia mengeluarkan pasangannya dari balik selendangnya. «Kaulah yang kucari,» kata Firaun lembut. «Maukah kau menjadi permaisuriku?» Rhodopis mengangguk bahagia.
Halaman 10
Rhodopis pindah ke istana, dan tariannya membuat seluruh Mesir gembira. Sekarang bayangkan sungai Nil yang tenang membawa perahu-perahu pulang. Pelan... pelan... Selamat malam, tidur yang manis.
"Rhodopis" sering disebut Cinderella tertua di dunia. Ahli geografi Yunani Strabo mencatatnya sekitar dua ribu tahun lalu, dan penulis Romawi Aelianus menambahkan elang yang menjatuhkan sandal ke pangkuan raja Mesir. Tokohnya berakar pada perempuan Yunani sungguhan yang hidup di Mesir sekitar abad ke-6 SM.
Elang sungguhan sanggup mengangkat benda seberat sepatu; di Indonesia, elang bondol — satwa maskot Jakarta — masih terbang di pesisir dan Kepulauan Seribu. Dongeng saudaranya pun ada di dekat rumah: "Bawang Merah Bawang Putih" juga bercerita tentang gadis yang diejek namun akhirnya dihargai.
Cocok untuk usia 4–7 tahun. Dalam catatan kuno Rhodopis adalah budak yang dibeli dan dijual; versi kami menjadikannya pelayan yang berteman dengan burung dan kuda nil; ejekan pelayan lain berhenti pada kata-kata. Bahan ngobrol: kenapa Rhodopis memilih bersenandung daripada membalas ejekan? Apa yang bisa kamu tanyakan pada teman yang logatnya berbeda?
Ketulusan hati akhirnya terlihat, meskipun orang lain suka mengejek.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.