

Halaman 1
Dahulu kala, di negeri Mesir, mengalir sungai besar bernama Nil. Airnya berkilau seperti kaca. Tinggi di langit tinggal Ra, sang kakek matahari. Setiap pagi ia berlayar dengan perahu emas, membawa matahari melintasi langit.

Halaman 2
Ra sudah sangat tua. Janggutnya putih keemasan, dan ia suka menguap lebar-lebar. «Aduh, tulangku,» keluhnya sambil tersenyum. Tapi setiap pagi ia tetap bangun, sebab seluruh dunia menunggu cahayanya.
Halaman 3
Ra tidak berlayar sendirian. Thoth, burung ibis yang pintar, memegang peta bintang. Bastet, kucing emas, menjaga haluan perahu. «Siap berangkat, Kakek Ra?» tanya Thoth. «Siap!» jawab Ra. «Angkat layar cahaya!»
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Perahu emas meluncur tinggi. Di bawah, anak-anak melambai dari tepi Nil. Petani menjemur gandum, kuda nil berendam malas-malasan. «Selamat pagi, Ra!» seru mereka. Ra melambai balik, dan sinarnya menghangatkan seluruh negeri.
Halaman 5
Sore hari, langit berubah jingga. Perahu menukik ke balik bukit pasir, masuk ke sungai malam — sungai rahasia yang penuh bintang. Di sana sepi dan gelap. «Nyalakan lentera,» bisik Ra. «Kita lewat jalan malam.»
Halaman 6
Tiba-tiba jalan di depan tertutup kabut hitam. Kabut itu bergerak seperti ular raksasa. Itulah Apep, si ular kabut yang ingin menelan cahaya matahari. «Ssst... berikan matahari itu padaku,» desisnya.
Halaman 7
Bastet melompat ke ujung perahu. Bulunya berdiri, matanya menyala seperti dua lentera emas. «Mundur, Apep! Cahaya ini untuk anak-anak yang mau bangun pagi!» Thoth mengangkat petanya, Ra mengangkat dayungnya tinggi-tinggi.
Halaman 8
Cahaya mereka bergabung menjadi terang sekali. Apep silau. Ia menguap lebar, menggulung dirinya, lalu menyelinap pergi ke dasar kegelapan. «Kalau bersama-sama, cahaya kita tak terkalahkan,» kata Ra sambil tertawa.
Halaman 9
Di ujung sungai malam, pintu pagi terbuka. Burung Bennu bernyanyi menyambut mereka. Ayam berkokok, embun berkilau, dan dunia perlahan bangun. Perahu emas naik ke langit, membawa pagi yang baru.
Halaman 10
Begitulah setiap hari, sampai sekarang. Kalau senja berwarna jingga, itu tandanya perahu Ra sedang berlayar pulang. Ra menguap, kamu ikut menguap. Pejamkan matamu pelan-pelan... Selamat tidur, mimpi indah.
"Ra dan Perahu Matahari" berakar pada mitologi Mesir kuno, warisan salah satu peradaban tertua di dunia. Orang Mesir membayangkan matahari sebagai perahu yang berlayar di langit siang, lalu menempuh sungai gelap pada malam hari dan dihadang ular raksasa Apep. Gambaran ini terukir di makam para firaun lebih dari tiga ribu tahun lalu.
Perahu matahari bukan sekadar khayalan: di sisi Piramida Agung Giza pernah digali perahu kayu sepanjang 43 meter yang dikubur di samping makam Firaun Khufu, kini dipajang utuh di museum. Yang lebih dekat: ajak anak menonton matahari terbenam. Langit jingga di ujung sore persis "perahu Ra pulang" di halaman terakhir.
Cocok untuk usia 3–6 tahun. Dalam mitos aslinya pertarungan dengan Apep terjadi setiap malam dan ular itu ditombak lalu dicincang; versi kami mengusirnya cukup dengan cahaya yang digabungkan, tanpa ada yang terluka. Bahan ngobrol: tugas apa di rumah yang lebih ringan kalau dikerjakan bersama?
Tugas besar terasa ringan dan kegelapan tidak menakutkan kalau dihadapi bersama teman.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.