Google PlayApp Store
Sampul cerita Angin Utara dan Matahari

Angin Utara dan Matahari

9 halaman2 menit 45 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Tinggi di atas langit, tinggallah Angin Utara dan Matahari. Angin Utara suka meniup kencang. Matahari suka bersinar hangat. Suatu hari mereka berdebat: siapa yang paling kuat?

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

“Tentu saja aku!” seru Angin Utara. “Aku bisa menggoyangkan pohon dan mendorong awan!” Matahari tersenyum tenang. “Mari kita uji. Lihat pengembara di jalan itu? Siapa yang bisa membuatnya melepas jubahnya, dialah yang menang.”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

Di bawah sana, seorang pengembara berjalan santai dengan jubah tebalnya. Angin Utara maju lebih dulu. “Lihat ini!” Ia menarik napas panjang, lalu meniup sekuat-kuatnya. Wuuusss!

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

Daun-daun beterbangan. Topi pengembara hampir lepas. Tetapi apa yang terjadi? Pengembara justru memegangi jubahnya erat-erat. “Dingin sekali!” katanya sambil merapatkan jubah sampai ke dagu.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Angin Utara meniup lebih kencang lagi. Wuuusss! Makin kencang angin bertiup, makin erat pengembara membungkus dirinya. Akhirnya Angin Utara terengah-engah. “Cukup... aku menyerah,” katanya kehabisan napas.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

“Sekarang giliranku,” kata Matahari lembut. Ia keluar dari balik awan dan bersinar hangat. Perlahan-lahan, sinar keemasan menyentuh jalan, sawah, dan pundak sang pengembara.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

Pengembara mendongak. “Ah, hangatnya,” katanya sambil tersenyum. Ia melonggarkan jubahnya. Matahari bersinar makin cerah dan lembut. Pengembara pun berhenti, mengusap dahinya, lalu melepas jubahnya dan duduk beristirahat di bawah pohon.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

“Kamu menang, Matahari,” kata Angin Utara pelan. Matahari tersenyum. “Paksaan yang keras membuat orang bertahan. Kehangatan yang lembut membuat hati terbuka.” Angin Utara mengangguk. Sejak itu ia belajar meniup sepoi-sepoi.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

Sore harinya, angin sepoi-sepoi dan sinar hangat menemani pengembara sampai ke rumahnya. Langit meredup jingga. Seperti pengembara yang terlelap di rumahnya yang hangat, mari kita berbaring nyaman. Tidur yang manis, ya.

Tentang cerita ini

Perdebatan Angin Utara dan Matahari datang dari Yunani kuno, tetapi pelajarannya tidak pernah tua: kelembutan bisa lebih kuat daripada paksaan. Menariknya, para ahli bahasa di seluruh dunia sampai kini memakai fabel pendek ini sebagai teks standar untuk merekam dan membandingkan bunyi berbagai bahasa.

Ujiannya mudah dirasakan sendiri: saat angin kencang, kita merapatkan jaket; saat matahari hangat, kita melonggarkannya. Ajak anak memperhatikan itu di perjalanan — tubuh kita ternyata menjawab cuaca persis seperti si pengembara di cerita.

Cocok untuk usia 4–8 tahun. Bahan obrolan: ajakan yang lembut membuka hati, sedangkan bentakan membuat orang bertahan — berlaku untuk anak, dan jujur saja, untuk orang tua juga. Coba ingat bersama: kapan kata-kata hangat berhasil, padahal suara keras sebelumnya gagal?

Untuk orang tua

Pesan moral

Kelembutan dan kehangatan lebih ampuh daripada paksaan dan kekerasan.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Menurutmu, mengapa pengembara justru memegangi jubahnya saat angin bertiup kencang?
  2. Apa yang dilakukan matahari sehingga ia menang?
  3. Apa yang dipelajari Angin Utara di akhir cerita?
  4. Kalau ingin mengajak temanmu melakukan sesuatu, lebih enak dipaksa atau diajak baik-baik? Mengapa?

Untuk kelas

berdebatpengembarajubahmerapatkanterengahmelonggarkansepoi

Cerita lain: Aesop

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.