

Halaman 1
Seekor rusa jantan berdiri di tepi telaga hutan. Tanduknya bercabang indah seperti mahkota. Setiap kali minum, ia memandangi bayangannya lama-lama. “Indahnya tandukku,” katanya bangga.

Halaman 2
Lalu ia melihat kakinya di bayangan air. Kurus dan panjang. “Ah, kakiku jelek sekali,” keluhnya. “Kurus seperti ranting kering. Tidak pantas untuk rusa segagah aku.”
Halaman 3
Tiba-tiba terdengar gonggongan. Anjing-anjing pemburu! Rusa melesat lari. Kaki kurusnya membawa tubuhnya melompat ringan: melewati akar, menyeberangi anak sungai, jauh meninggalkan para pengejarnya.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
“Hampir lolos!” pikir rusa lega. Ia berlari masuk ke bagian hutan yang rapat. Tetapi — sangkut! Tanduknya yang bercabang indah tersangkut di ranting-ranting rendah. Ia menarik-narik, dan tanduknya justru makin terjerat.
Halaman 5
Gonggongan terdengar makin dekat. Jantung rusa berdebar kencang. “Tenang... tenang,” bisiknya pada dirinya sendiri. Ia berhenti meronta. Ia menunduk pelan, memiringkan kepalanya, lalu mundur selangkah demi selangkah.
Halaman 6
Kreek... ranting-ranting merenggang. Satu cabang tanduk terlepas. Lalu semuanya terlepas! Rusa menunduk rendah dan berlari lagi, kali ini memilih jalan yang lapang. Kaki kurusnya berlari secepat angin, sampai gonggongan hilang jauh di belakang.
Halaman 7
Di tepi telaga yang sunyi, rusa berhenti. Napasnya pelan-pelan menjadi tenang. Ia memandang bayangannya: tanduk yang indah, dan kaki yang kurus. “Tanduk indahku hampir mencelakakanku,” bisiknya. “Kaki kurusku yang menyelamatkanku.”
Halaman 8
Sejak itu, rusa tidak lagi malu pada kakinya. Ia tetap menyayangi tanduknya, tetapi kini ia tahu: yang berguna kadang tidak kelihatan indah, dan yang indah belum tentu paling berguna.
Halaman 9
Malam menyelimuti hutan. Rusa berbaring di rumput yang lembut, kaki kurusnya terlipat rapi, tanduknya bersandar ke arah bintang-bintang. Rebahkan juga badanmu yang hebat itu. Tidur nyenyak, sampai bertemu di dalam mimpi.
Rusa yang bangga pada tanduknya tetapi malu pada kakinya adalah fabel Aesop tentang indah dan berguna — dua hal yang sering kita tukar tempatnya. Yang dipuji di depan cermin belum tentu yang menyelamatkan kita di saat genting; kadang justru sebaliknya.
Tanduk rusa sungguhan menyimpan keajaiban: setiap tahun tanduk itu tanggal dan tumbuh kembali. Indonesia juga punya rusa asli — rusa timor — yang bisa dilihat di beberapa taman nasional dan penangkaran; perhatikan kakinya yang kurus: itulah "mesin lari" yang di cerita ini menjadi pahlawan.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi lama rusa tertangkap justru karena tanduk indahnya. Versi kami menunjukkan jalan keluarnya: berhenti meronta, menenangkan diri, lalu bergerak pelan — dan rusa selamat. Bahan obrolan: yang berguna tak selalu indah; dan saat panik, "tenang... tenang" adalah mantra yang benar-benar bekerja.
Jangan menilai sesuatu dari keindahannya saja; yang tampak sederhana sering kali paling berguna.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.