Google PlayApp Store
Sampul cerita Rubah dan Anggur

Rubah dan Anggur

9 halaman2 menit 46 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Sore itu, seekor rubah berjalan pulang melewati sebuah kebun. Perutnya lapar. Ekornya yang lebat terkulai lelah. “Andai ada makanan yang enak,” gumamnya pelan.

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

Tiba-tiba hidungnya mencium bau manis. Ia mendongak. Di atas para-para, rak kayu yang tinggi, bergantung serangkai buah anggur ungu. Bulat, ranum, berkilau terkena sinar sore. “Wah! Anggur!” seru rubah.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

Rubah berjinjit setinggi-tingginya. Kaki depannya menggapai-gapai. Masih jauh. Ia mundur beberapa langkah, berlari, lalu melompat. Hup! Belum sampai juga.

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

“Sekali lagi!” Rubah melompat lebih tinggi. Gagal. Ia melompat lagi. Gagal lagi. Ia mencoba memanjat tiang para-para, tetapi kakinya terpeleset turun. Napasnya mulai terengah-engah.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Rubah duduk dan memandang anggur itu. “Satu lompatan terakhir,” katanya pada dirinya sendiri. Ia berlari kencang dan melompat setinggi mungkin. Ujung jarinya hampir... hampir... tetapi tetap tidak sampai.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

Rubah mengibaskan debu dari bulunya. Ia melirik anggur itu sekali lagi, lalu mengangkat dagunya tinggi-tinggi. “Huh! Anggur itu pasti masam!” katanya. “Aku memang tidak mau memakannya!” Lalu ia pergi dengan langkah gagah-gagahan.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

Sepasang burung pipit di pagar melihat semuanya. “Anggur itu manis, lho,” cicit yang satu. “Rubah bilang masam karena tidak bisa menggapainya,” cicit yang lain. Mereka terkikik pelan di antara daun-daun.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

Di jalan pulang, rubah menemukan semak beri yang rendah. Ia makan sampai kenyang. Dalam hati kecilnya ia tahu: anggur tadi bukan masam — hanya terlalu tinggi untuknya. Mengakui itu memang tidak mudah.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

Malam tiba di kebun. Anggur ungu bergoyang pelan ditiup angin, tetap manis seperti sebelumnya. Rubah tertidur meringkuk di sarangnya yang hangat. Kamu juga, meringkuklah dalam selimutmu. Mimpi yang manis-manis saja, ya.

Tentang cerita ini

Dari fabel inilah lahir ungkapan "anggur masam" yang dikenal di banyak bahasa: kebiasaan menghibur diri dengan menjelek-jelekkan hal yang tidak bisa kita raih. Aesop menangkap gerak hati manusia itu lewat seekor rubah dan serangkai anggur — dan ribuan tahun kemudian kebiasaan itu masih mudah kita kenali.

Anggur bukan buah asing di Indonesia: kota Probolinggo di Jawa Timur sejak lama dikenal dengan kebun anggurnya. Saat menemani anak makan buah anggur, ceritakan lagi si rubah — buah yang sama bisa terasa "masam" atau manis, tergantung isi hati yang memandangnya.

Cocok untuk usia 4–8 tahun. Versi kami menambah satu langkah jujur: dalam hati kecilnya rubah tahu anggur itu bukan masam, hanya terlalu tinggi baginya. Bahan obrolan: kecewa itu wajar; berkata "aku belum bisa menggapainya" lebih melegakan daripada berpura-pura tidak mau. Lalu — seperti rubah — temukan "semak beri"-mu sendiri.

Untuk orang tua

Pesan moral

Mudah mencela apa yang tidak bisa kita raih; lebih jujur mengakui bahwa kita belum berhasil.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Apa yang diinginkan rubah di kebun itu?
  2. Mengapa rubah berkata bahwa anggur itu masam?
  3. Menurutmu, apakah anggur itu benar-benar masam? Dari mana kamu tahu?
  4. Pernahkah kamu gagal menggapai sesuatu? Apa yang kamu katakan saat itu?

Untuk kelas

terkulaipararanumberjinjitmenggapaimasamterkikik

Cerita lain: Aesop

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.