

Halaman 1
Sore itu, seekor rubah berjalan pulang melewati sebuah kebun. Perutnya lapar. Ekornya yang lebat terkulai lelah. “Andai ada makanan yang enak,” gumamnya pelan.

Halaman 2
Tiba-tiba hidungnya mencium bau manis. Ia mendongak. Di atas para-para, rak kayu yang tinggi, bergantung serangkai buah anggur ungu. Bulat, ranum, berkilau terkena sinar sore. “Wah! Anggur!” seru rubah.
Halaman 3
Rubah berjinjit setinggi-tingginya. Kaki depannya menggapai-gapai. Masih jauh. Ia mundur beberapa langkah, berlari, lalu melompat. Hup! Belum sampai juga.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
“Sekali lagi!” Rubah melompat lebih tinggi. Gagal. Ia melompat lagi. Gagal lagi. Ia mencoba memanjat tiang para-para, tetapi kakinya terpeleset turun. Napasnya mulai terengah-engah.
Halaman 5
Rubah duduk dan memandang anggur itu. “Satu lompatan terakhir,” katanya pada dirinya sendiri. Ia berlari kencang dan melompat setinggi mungkin. Ujung jarinya hampir... hampir... tetapi tetap tidak sampai.
Halaman 6
Rubah mengibaskan debu dari bulunya. Ia melirik anggur itu sekali lagi, lalu mengangkat dagunya tinggi-tinggi. “Huh! Anggur itu pasti masam!” katanya. “Aku memang tidak mau memakannya!” Lalu ia pergi dengan langkah gagah-gagahan.
Halaman 7
Sepasang burung pipit di pagar melihat semuanya. “Anggur itu manis, lho,” cicit yang satu. “Rubah bilang masam karena tidak bisa menggapainya,” cicit yang lain. Mereka terkikik pelan di antara daun-daun.
Halaman 8
Di jalan pulang, rubah menemukan semak beri yang rendah. Ia makan sampai kenyang. Dalam hati kecilnya ia tahu: anggur tadi bukan masam — hanya terlalu tinggi untuknya. Mengakui itu memang tidak mudah.
Halaman 9
Malam tiba di kebun. Anggur ungu bergoyang pelan ditiup angin, tetap manis seperti sebelumnya. Rubah tertidur meringkuk di sarangnya yang hangat. Kamu juga, meringkuklah dalam selimutmu. Mimpi yang manis-manis saja, ya.
Dari fabel inilah lahir ungkapan "anggur masam" yang dikenal di banyak bahasa: kebiasaan menghibur diri dengan menjelek-jelekkan hal yang tidak bisa kita raih. Aesop menangkap gerak hati manusia itu lewat seekor rubah dan serangkai anggur — dan ribuan tahun kemudian kebiasaan itu masih mudah kita kenali.
Anggur bukan buah asing di Indonesia: kota Probolinggo di Jawa Timur sejak lama dikenal dengan kebun anggurnya. Saat menemani anak makan buah anggur, ceritakan lagi si rubah — buah yang sama bisa terasa "masam" atau manis, tergantung isi hati yang memandangnya.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Versi kami menambah satu langkah jujur: dalam hati kecilnya rubah tahu anggur itu bukan masam, hanya terlalu tinggi baginya. Bahan obrolan: kecewa itu wajar; berkata "aku belum bisa menggapainya" lebih melegakan daripada berpura-pura tidak mau. Lalu — seperti rubah — temukan "semak beri"-mu sendiri.
Mudah mencela apa yang tidak bisa kita raih; lebih jujur mengakui bahwa kita belum berhasil.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.