

Halaman 1
Dahulu kala di Yunani kuno, hiduplah Raja Midas yang kaya raya. Istananya penuh peti emas, tapi ia selalu merasa kurang. Yang paling ia sayangi di dunia hanyalah putrinya, Zoe, yang suka bermain di kebun mawar istana.

Halaman 2
Suatu sore, seorang kakek tua tersesat masuk ke kebun mawar. Midas menerimanya dengan baik: memberinya makan, tempat tidur yang hangat, dan bekal untuk pulang. Kakek itu tersenyum aneh. «Kebaikan harus dibalas, Raja. Sebutkan satu permintaan.»
Halaman 3
Ternyata kakek itu seorang dewa yang sedang menyamar! Mata Midas berbinar. «Aku ingin semua yang kusentuh berubah menjadi emas!» Dewa itu menatapnya lama. «Kau yakin?» «Yakin sekali!» «Baiklah. Besok pagi, permintaanmu terkabul.»
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Pagi harinya Midas menyentuh meja — SRING! — meja emas! Kursi jadi emas, tirai jadi emas, mawar-mawar di kebun jadi emas semua. Midas tertawa girang berlari ke sana kemari sambil menyentuh apa saja. «Aku raja terkaya di dunia!»
Halaman 5
Lelah berlari, Midas duduk untuk sarapan. Ia mengambil roti — roti itu jadi emas keras. Ia mengangkat cangkir susu — susu jadi emas beku. Ia menggigit buah anggur — KLETAK! Giginya nyeri. «Wah,» gumamnya, «bagaimana aku bisa makan?»
Halaman 6
«Ayah!» Zoe berlari masuk sambil membawa mawar emas, hampir menangis. «Kebun kita rusak! Mawar tidak wangi lagi!» Midas lupa diri dan memeluk putrinya untuk menghiburnya. SRING! Pelukannya membeku. Zoe berubah menjadi patung emas.
Halaman 7
Midas terduduk di lantai. Istananya penuh emas berkilauan, tapi sunyi sekali. Tidak ada tawa Zoe, tidak ada wangi mawar, tidak ada roti hangat. «Ambillah semua emasku,» bisiknya, «kembalikan putriku.» Air matanya menetes ke lantai emas.
Halaman 8
Kakek dewa itu muncul kembali. «Sekarang kau mengerti, Midas?» «Aku mengerti,» jawab raja. «Yang paling berharga tidak bisa dibeli dengan emas.» «Pergilah ke sungai Paktolos. Basuhlah tanganmu, dan bawalah air untuk membasuh semua yang kau sesali.»
Halaman 9
Midas berlari ke sungai dan membasuh tangannya. Kilau emas mengalir dari jari-jarinya ke pasir sungai. Ia membawa air sungai ke istana dan memercikkannya ke mana-mana. Zoe hidup kembali dan tertawa! Mawar kembali merah dan wangi!
Halaman 10
Sejak hari itu pasir sungai Paktolos berkilau keemasan, dan Raja Midas menjadi raja yang murah hati. Malam itu ia mendongeng untuk Zoe sampai putrinya tertidur, di kamar yang sederhana dan hangat. Selamat tidur.
Midas bukan sekadar tokoh dongeng: raja bernama Midas sungguh pernah memerintah kerajaan Frigia — kini wilayah Turki — hampir tiga ribu tahun lalu, dan kisah sentuhan emasnya kemudian dituliskan Ovidius. Ungkapan "sentuhan Midas" masih dipakai di mana-mana, termasuk dalam bahasa Indonesia, untuk orang yang membuat apa saja berhasil.
Sungai Paktolos di akhir cerita juga nyata, mengalir di Turki sampai sekarang. Pasirnya memang mengandung emas: dari situlah kerajaan Lydia di tepiannya menjadi kaya raya dan termasuk yang paling awal mencetak koin logam di dunia.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi tua pemberi permintaan adalah Dionisos; di versi kami cukup "kakek dewa yang menyamar", dan Zoe yang sempat menjadi patung emas hidup kembali — menegangkan sebentar, lalu hangat. Bahan ngobrol: apa saja yang tidak bisa dibeli dengan emas (pelukan, wangi mawar, roti hangat), dan kapan "cukup" itu benar-benar cukup.
Hal yang paling berharga bukanlah emas, melainkan orang-orang yang kita sayangi.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.