

Halaman 1
Raja Eurystheus berseru dari dalam gentong perunggunya: «Tugas keenam! Usir burung-burung Stimfalia dari danau!» Herkules merapikan jubah kulit singa emasnya di bahu, mengambil busur dan anak panah, lalu berangkat ke Danau Stimfalos.

Halaman 2
Burung-burung Stimfalia bukan burung biasa. Bulu mereka dari perunggu, tajam seperti anak panah, dan paruh mereka sekeras besi. Kawanan itu begitu besar sampai langit menjadi gelap, dan tak ada petani yang berani mendekati danau.
Halaman 3
Herkules tiba di tepi danau. Airnya berlumpur dan dalam, kakinya tenggelam di rawa. Burung-burung bersembunyi di hutan yang lebat — ia tidak bisa melihat mereka. «Bagaimana caraku mengusir musuh yang tidak terlihat?» pikirnya.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Tiba-tiba cahaya terang muncul. Dewi Athena yang bijaksana berdiri di hadapannya. «Ambillah kerincingan perunggu ini, Herkules,» katanya. «Bunyinya akan membuat burung-burung itu terbang ketakutan.» Herkules mengucap terima kasih.
Halaman 5
Herkules mendaki bukit di tepi danau. Ia mengangkat kerincingan perunggu tinggi-tinggi dan mengguncangnya sekuat tenaga. TRANG! TRANG! TRANG! Bunyinya menggema di seluruh lembah, keras sekali, sampai air danau ikut bergetar.
Halaman 6
Burung-burung Stimfalia panik! Ribuan burung terbang serentak dari hutan, sayap perunggu mereka berkilau. Bulu-bulu tajam berjatuhan seperti hujan, tapi Herkules berlindung di bawah kulit singa emasnya yang tak tembus senjata.
Halaman 7
Sekarang Herkules bisa melihat mereka! Ia membidik dan memanah. Panahnya melesat tepat — satu burung jatuh. Lalu satu lagi, dan satu lagi. Panah Herkules tidak pernah meleset. Burung-burung yang jatuh tidak bangun lagi.
Halaman 8
Sisa kawanan itu ketakutan. Mereka terbang tinggi, jauh melewati gunung dan laut, dan tidak pernah kembali lagi. Danau Stimfalos menjadi sunyi dan tenang. Herkules menurunkan busurnya dan tersenyum. Tugas keenam selesai.
Halaman 9
Para petani kembali ke ladang di tepi danau, dan anak-anak bermain lagi di rerumputan. Ketika Herkules pulang membawa bulu perunggu sebagai bukti, Raja Eurystheus mengintip dari gentongnya dan cepat-cepat bersembunyi lagi.
Halaman 10
Malam turun di Danau Stimfalos. Air tenang memantulkan bintang-bintang, dan burung-burung kecil bernyanyi pelan di sarangnya. Herkules beristirahat di tepi danau. Masih ada tugas lain menanti. Tapi itu cerita untuk malam yang lain. Selamat tidur.
Tugas keenam membawa Herkules ke danau Stimfalia — danau sungguhan di pegunungan Yunani selatan yang masih ada sampai sekarang dan kini justru menjadi kawasan lindung burung air. Di mitos, danau ini dihuni kawanan burung berbulu tajam yang tak terhitung banyaknya.
Kunci kemenangannya bukan panah, melainkan suara: dewi Athena memberi Herkules kerincing perunggu buatan pandai besi para dewa. Bunyinya yang memekakkan membuat seluruh kawanan terbang panik meninggalkan danau. Melawan musuh yang terlalu banyak, yang menang adalah yang paling nyaring — bukan yang paling kuat.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Cerita ini hampir tanpa kekerasan: burung-burung diusir, bukan dibasmi, jadi cocok juga untuk anak yang sensitif. Bahan ngobrol ringan: suara apa yang paling ampuh di rumah kita — dan kapan suara nyaring menolong, kapan justru mengganggu?
Ketika masalah terasa mustahil, jangan malu menerima bantuan dan gunakan akalmu.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.