

Halaman 1
Raja Eurystheus memberi perintah dari dalam gentong perunggunya: «Tugas kedua! Kalahkan Hidra dari rawa Lerna!» Herkules memakai jubah kulit singa emasnya dan berangkat bersama Iolaus, keponakannya yang pemberani, dengan kereta kuda.

Halaman 2
Hidra bukan ular biasa. Tubuhnya besar, dan dari lehernya tumbuh sembilan kepala bergigi tajam. Matanya menyala kuning di kabut rawa. Satu kepalanya tidak bisa mati. Penduduk desa tidak berani mendekati rawa Lerna.
Halaman 3
Rawa Lerna gelap dan berkabut. Herkules menembakkan panah api ke sarang hidra supaya monster itu keluar. Air rawa bergolak — dan hidra muncul! Sembilan kepala mendesis bersama-sama. Iolaus menunggu di dekat kereta dengan obor menyala.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayHalaman 4
Herkules mengayunkan gadanya dan memukul jatuh satu kepala hidra. Tapi dari leher itu tumbuh dua kepala baru! Ia memukul jatuh satu lagi — tumbuh dua lagi. Semakin ia melawan, semakin banyak kepala hidra. «Ini tidak bisa begini terus,» pikirnya.
Halaman 5
«Iolaus, bantu aku!» seru Herkules. «Setiap kali aku memukul jatuh satu kepala, bakar lehernya dengan obor supaya kepala baru tidak tumbuh!» Iolaus berlari datang dengan obornya yang menyala, walau jantungnya berdebar kencang.
Halaman 6
Mereka bekerja berdua. Herkules memukul jatuh kepala demi kepala, dan Iolaus cepat-cepat menyentuh setiap leher dengan obornya. Benar saja — tidak ada kepala baru yang tumbuh! Hidra semakin lemah. Satu... dua... delapan kepala sudah kalah.
Halaman 7
Tinggal satu kepala — kepala yang tidak bisa mati. Herkules memukulnya jatuh, lalu mengangkat batu yang sangat besar dengan kedua tangannya dan menindih kepala itu dalam-dalam di tanah. Batu itu begitu berat, tidak ada yang bisa mengangkatnya lagi.
Halaman 8
Rawa Lerna menjadi tenang. Kabut perlahan hilang, dan burung-burung kembali bernyanyi. Herkules memeluk Iolaus. «Aku tidak bisa menang sendirian,» katanya. «Kita menang bersama-sama.» Iolaus tersenyum bangga.
Halaman 9
Mereka pulang naik kereta kuda. Raja Eurystheus mengintip dari gentongnya, lalu cepat-cepat masuk lagi. «B-baiklah! Tugas kedua selesai!» serunya dari dalam gentong perunggu. Herkules dan Iolaus saling memandang dan tertawa pelan.
Halaman 10
Malam turun di Lerna. Rawa yang dulu menakutkan kini tenang di bawah bintang-bintang. Herkules dan Iolaus beristirahat di dekat api unggun kecil. Masih ada banyak tugas menanti. Tapi itu cerita untuk malam yang lain. Selamat tidur.
Tugas yang paling sulit menjadi ringan ketika kita saling membantu.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.