

Halaman 1
Dahulu kala di Jepang, hiduplah kakek pemotong bambu dan istrinya. Suatu malam, kakek melihat satu batang bambu bersinar keemasan di tengah hutan. «Cahaya apa itu?» Ia mendekat pelan-pelan.

Halaman 2
Kakek memotong bambu itu dengan hati-hati. Krak! Di dalamnya duduk bayi perempuan mungil sebesar ibu jari, bercahaya lembut. «Astaga, cantiknya!» Kakek membawanya pulang, dan bersama nenek mereka menamainya Kaguya.
Halaman 3
Kaguya tumbuh cepat menjadi gadis yang baik dan sangat cantik. Wajahnya seperti bercahaya. Anehnya, setiap kali kakek memotong bambu, ia menemukan kepingan emas kecil di dalamnya. Keluarga itu hidup cukup dan bahagia.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Kabar kecantikan Kaguya tersebar ke mana-mana. Para pangeran datang melamar. «Maaf,» kata Kaguya lembut, «aku belum bisa menikah dengan siapa pun.» Setiap malam ia duduk lama memandang bulan, dan matanya berkaca-kaca.
Halaman 5
«Kenapa kau menatap bulan seperti itu, Nak?» tanya nenek. Kaguya menunduk. «Kakek, Nenek... sebenarnya aku datang dari bulan. Aku dikirim untuk belajar hidup di bumi. Sebentar lagi keluargaku di bulan akan menjemputku.»
Halaman 6
Kakek dan nenek memeluknya erat. «Kami tidak mau kehilanganmu.» «Aku juga sayang kalian,» kata Kaguya. «Kalian keluargaku di bumi, selamanya.» Malam purnama pun tiba. Cahaya perak turun dari langit seperti jalan yang bersinar.
Halaman 7
Orang-orang bulan turun dengan jubah berkilauan, anggun seperti mimpi. «Waktumu di bumi sudah selesai, Putri Kaguya,» kata mereka lembut. Kaguya memeluk kakek dan nenek. Air mata mereka jatuh, tapi Kaguya berusaha tersenyum.
Halaman 8
«Jangan sedih, ya,» kata Kaguya. «Setiap kali bulan purnama bersinar paling terang, itu tandanya aku sedang tersenyum untuk kalian. Pandanglah ke atas, dan kita bertemu lewat cahaya.» Ia meninggalkan selembar kain bercahaya yang hangat.
Halaman 9
Kaguya naik perlahan di jalan cahaya, melambai sampai jauh. Sejak malam itu, kakek dan nenek tak pernah sedih lama-lama. Setiap purnama mereka duduk berdua di beranda, berselimut kain bercahaya, dan melambai ke bulan. «Selamat malam, Kaguya!»
Halaman 10
Dan bulan selalu membalas dengan sinar paling lembut. Malam ini bulan menyinari jendelamu. Itu lampu tidur paling besar di dunia. Berbaringlah yang nyaman, dan tersenyumlah pada bulan, seperti Kaguya tersenyum padamu. Sampai bertemu dalam mimpi.
"Kisah Pemotong Bambu", asal cerita Putri Kaguya, ditulis di Jepang sekitar abad ke-9 sampai ke-10 dan dianggap karya prosa tertua yang masih tersimpan dalam sastra Jepang. Pengarangnya tidak diketahui. Dalam cerita lengkapnya lima bangsawan mendapat tugas mustahil, dan asal nama Gunung Fuji dikaitkan dengan bagian akhirnya.
Bambu adalah tumbuhan sehari-hari di Indonesia, jadi bagian ini mudah ditunjukkan: potong satu ruas, dan anak akan melihat rongga kosong di dalamnya, tempat Kaguya duduk dalam cerita. Bambu betung tumbuh setinggi rumah, rebungnya dimasak sayur, batangnya menjadi angklung. Purnama, jalan pulang Kaguya, bisa dipandang bersama.
Cocok untuk usia 5–9 tahun. Dalam versi klasik Kaguya diberi jubah yang menghapus ingatannya tentang bumi, dan orang tua angkatnya lama berduka; versi kami membiarkan ia mengingat dan meninggalkan kain hangat sebagai pengikat. Bahan ngobrol: apa yang membantu kakek nenek tidak sedih terlalu lama setelah Kaguya pergi?
Perpisahan tidak menghapus rasa sayang — kita tetap terhubung lewat hal yang kita pandang bersama.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.