

Halaman 1
Dahulu kala, ketika dunia masih muda, hiduplah titan bernama Prometheus. Dari semua penghuni langit, dialah yang paling menyayangi manusia. Ia sering duduk di puncak gunung, memandang desa-desa kecil di lembah yang jauh di bawah.

Halaman 2
Pada masa itu manusia belum punya api. Malam-malam mereka gelap dan dingin. Makanan dimakan mentah, dan ketika salju turun, orang-orang hanya bisa berpelukan menggigil di dalam gua. Prometheus melihat itu dan hatinya sedih.
Halaman 3
Prometheus menghadap Zeus, raja para dewa. «Izinkan aku memberi manusia api,» pintanya. Zeus menggeleng tegas. «Tidak. Api hanya milik para dewa.» Tapi Prometheus tidak bisa berhenti memikirkan lembah yang gelap dan dingin itu.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Maka suatu senja, Prometheus naik diam-diam ke perapian para dewa di gunung Olympus. Ia menyembunyikan satu percikan api kecil di dalam batang buluh kering. Lalu ia berjalan turun perlahan-lahan, melindungi nyala kecil itu dari angin dengan tubuhnya.
Halaman 5
Di lembah, Prometheus menyalakan api unggun pertama dan memanggil manusia. «Jangan takut. Ini api. Ia akan menghangatkanmu, menerangi malammu, memasak makananmu. Jagalah baik-baik, dan jangan biarkan ia menyakiti siapa pun.»
Halaman 6
Malam itu, untuk pertama kalinya, lembah berkelip oleh titik-titik cahaya hangat. Ada roti dipanggang, ada dongeng diceritakan di dekat perapian, ada anak-anak tidur nyenyak dalam kehangatan. Prometheus tersenyum memandangnya dari bukit.
Halaman 7
Zeus melihat cahaya-cahaya itu dari Olympus dan murka. Guntur menggelegar! Sebagai hukuman, Prometheus dirantai ke tebing gunung Kaukasus yang tinggi dan sunyi. Titan itu tidak melawan. «Aku tidak menyesal,» katanya tenang.
Halaman 8
Bertahun-tahun Prometheus bertahan di tebing itu, ditemani angin dan bintang-bintang. Dari kejauhan ia bisa melihat lembah manusia yang kini terang dan hangat setiap malam. Dan setiap kali melihatnya, ia tersenyum. Pengorbanannya tidak sia-sia.
Halaman 9
Sampai suatu hari, pahlawan berjubah kulit singa mendaki tebing itu — Herkules! Dengan sekali sentak, rantai besar itu putus. Zeus memandang dari langit dan mengangguk: manusia menjaga api dengan baik, dan Prometheus sudah cukup menanggung.
Halaman 10
Prometheus akhirnya bebas. Malam itu ia duduk bersama manusia di dekat perapian, mendengar dongeng dan tawa anak-anak. Sampai sekarang, setiap nyala perapian yang hangat adalah salam kecil dari Prometheus. Selamat tidur.
Prometheus, titan pemberi api, adalah salah satu tokoh yang paling dihormati dalam mitologi Yunani — kisahnya dituturkan sejak Hesiodos dan digubah menjadi drama panggung sudah sejak zaman kuno.
Gunung Olympus, tempat perapian para dewa dalam cerita, adalah gunung sungguhan — yang tertinggi di Yunani; puncaknya sering tertutup awan, dan mudah membayangkan kenapa orang dulu menaruh istana para dewa di sana. Pegunungan Kaukasus, tempat Prometheus dirantai, juga ada di peta.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Versi tua jauh lebih keras — ada elang yang menyiksa sang titan setiap hari; di versi kami hanya rantai, lalu datang Herkules membebaskannya (anak yang mengikuti seri Herkules kami akan langsung mengenali jubah kulit singanya), dan Zeus memaafkan. Bahan ngobrol: berkorban demi orang lain tanpa menyesal — dan pesan Prometheus yang praktis: api itu hadiah yang harus dijaga. Bagaimana kita memperlakukan kompor dan lilin di rumah?
Kebaikan sejati berarti berani berkorban demi menolong orang lain.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.