

Halaman 1
Dahulu kala di Yunani kuno, hiduplah anak bernama Phaethon. Ibunya sering bercerita: «Ayahmu adalah Helios, dewa matahari, yang setiap pagi mengendarai kereta emas melintasi langit.» Tapi teman-teman Phaethon tidak percaya dan menertawakannya.

Halaman 2
«Akan kubuktikan!» kata Phaethon. Ia berjalan jauh ke timur, ke istana matahari yang bersinar di atas awan. Pilar-pilarnya emas, pintunya perak berukir. Di takhta yang berkilau duduk Helios dengan mahkota cahaya. «Anakku!» serunya. «Selamat datang!»
Halaman 3
Helios memeluk Phaethon dan berkata gembira: «Mintalah apa saja — akan kukabulkan.» Mata Phaethon langsung menatap kereta emas di halaman istana. Empat kuda api berdiri di sana. «Izinkan aku mengendarai kereta matahari. Satu hari saja!»
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Wajah Helios menjadi cemas. «Minta yang lain, Nak. Kuda-kuda api itu sangat kuat. Jalurnya sempit: terlalu tinggi, bumi kedinginan; terlalu rendah, bumi kepanasan.» Tapi Phaethon terus memohon, dan janji tetaplah janji.
Halaman 5
Fajar menyingsing. Phaethon naik ke kereta emas, tali kekang di tangannya gemetar. «Jalan tengah, Nak! Jangan tinggi, jangan rendah!» pesan Helios. Pintu awan terbuka, dan empat kuda api melesat ke langit membawa matahari. Hari yang baru dimulai.
Halaman 6
Mula-mula semua indah: awan berkilau, bumi terbentang seperti permadani. Tapi kuda-kuda api segera merasakan tangan yang memegang kekang bukan tangan Helios — terlalu ringan, terlalu kecil. Mereka mendengus, mempercepat lari, dan berhenti menurut.
Halaman 7
Kereta melesat terlalu tinggi! Bumi menjauh dan kedinginan. Phaethon menarik kekang kuat-kuat — kereta menukik terlalu rendah! Ladang-ladang gandum mengering, sungai-sungai menyusut, dan gurun pasir bertambah luas.
Halaman 8
«Tolooong!» seru Phaethon. Zeus bertindak cepat: ia mengirim hembusan angin badai yang menghentikan kuda-kuda api. Phaethon terlepas dari kereta — jatuh berputar-putar dari langit seperti bintang kecil, lalu tercebur ke sungai Eridanus.
Halaman 9
Peri-peri sungai menangkap Phaethon dengan lembut dan membawanya ke tepian. Helios turun menjemput, memeluk anaknya erat-erat. «Maafkan aku, Ayah,» bisik Phaethon. «Keretanya belum untukku.» «Suatu hari nanti, Nak. Belajarlah dulu, tumbuhlah dulu.»
Halaman 10
Helios membawa kereta pulang, dan esoknya matahari terbit tenang seperti biasa. Phaethon pulang dengan cerita yang tak akan dilupakan teman-temannya. Kini matahari sudah terbenam, kuda-kuda api sudah di kandang. Saatnya tidur. Selamat tidur.
Kisah Phaethon dituturkan paling lengkap oleh Ovidius sekitar dua ribu tahun lalu — mitos paling terkenal tentang anak yang memaksa memegang kemudi orang dewasa, dan tentang janji yang sulit ditarik kembali.
Sungai Eridanus tempat Phaethon jatuh diangkat orang Yunani ke langit: ada rasi bintang Eridanus, "sungai bintang" yang panjang berkelok — dan dari langit Indonesia rasi ini bisa dilihat. Seru dicari bersama anak sambil membayangkan tempat kereta matahari itu tercebur.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi tua Phaethon gugur disambar petir Zeus; versi kami memilih akhir yang aman — angin menghentikan kuda-kuda, peri sungai menangkapnya, dan ayahnya memeluknya dengan kata "suatu hari nanti". Bahan ngobrol: ada hal yang "belum untukku" — bukan larangan selamanya, melainkan soal tumbuh dulu. Apa yang anak paling tunggu boleh dilakukan "kalau sudah besar", dan kenapa harus menunggu?
Ada pekerjaan yang belum saatnya kita lakukan — mendengarkan orang tua menjaga kita tetap selamat.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.