

Halaman 1
Dahulu kala di Yunani kuno, di pulau Serifos, hiduplah pemuda pemberani bernama Perseus. Jauh di seberang lautan tinggal Medusa — sosok berambut ular yang tatapannya bisa mengubah siapa pun menjadi batu. Para pelaut tidak berani berlayar jauh lagi.

Halaman 2
Raja Serifos memanggil Perseus ke istana. «Kalau kau memang pemberani, hentikanlah Medusa!» Perseus menegakkan bahunya. «Baik, Raja. Aku akan pergi.» Malam itu ia menatap laut dan berpikir: bagaimana melawan musuh yang tidak boleh dipandang?
Halaman 3
Para dewa menghargai keberanian. Dewi Athena datang membawa perisai perunggu yang mengkilap seperti cermin. Hermes meminjamkan sandal bersayapnya. «Jangan pernah menatap Medusa langsung,» pesan Athena. «Pandanglah hanya bayangannya di perisai.»
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Dengan sandal bersayap, Perseus terbang melintasi laut yang luas. Angin mendorongnya seperti tangan yang lembut. Di ujung dunia ia melihat pulau kelabu penuh batu karang — sarang Medusa. Perseus mendarat pelan-pelan tanpa suara.
Halaman 5
Di antara batu-batu itu ada yang berbentuk aneh: mirip pelaut yang sedang berlayar, mirip prajurit yang sedang berlari. Perseus bergidik. Mereka semua pernah menatap Medusa. «Aku tidak boleh melakukan kesalahan yang sama,» bisiknya.
Halaman 6
Perseus berjalan mundur menuju gua, matanya hanya menatap perisai cermin. Dari dalam terdengar desis pelan — ratusan ular kecil di rambut Medusa. Di bayangan perisai ia melihat sosok itu bangkit. Jantung Perseus berdebar, tapi ia tidak lari.
Halaman 7
«Siapa yang berani datang ke pulauku?» seru Medusa. Matanya menyala mencari-cari. Perseus tetap membelakanginya dan mengangkat perisainya tinggi-tinggi, tepat di depan wajah Medusa. «Lihatlah dirimu sendiri!» serunya.
Halaman 8
Medusa menatap bayangannya sendiri di perisai yang mengkilap. Tatapan saktinya memantul kembali! Perlahan-lahan, dari ujung kaki sampai ular terakhir di rambutnya, Medusa berubah menjadi batu. Pulau itu menjadi sunyi. Desisnya berhenti selamanya.
Halaman 9
Dari pusaran debu yang berkilauan di tempat itu, muncul seekor kuda putih bersayap — Pegasus! Kuda ajaib itu mengibaskan sayapnya, menunduk hormat kepada Perseus, lalu terbang ke langit. Suatu hari nanti, ia akan punya ceritanya sendiri.
Halaman 10
Batu-batu pelaut mulai bergerak — sihir Medusa lenyap, mereka hidup kembali! Bersama Perseus mereka berlayar pulang ke Serifos. Malam turun, ombak berbisik pelan, dan Perseus tertidur nyenyak di bawah bintang-bintang. Selamat tidur.
Perseus adalah salah satu pahlawan tertua mitologi Yunani — kisahnya dituturkan lebih dari dua setengah ribu tahun, dari vas kuno sampai film masa kini. Cara menangnya persis seperti dalam mitos: bukan kekuatan, melainkan perisai cermin pemberian Athena — musuh yang tak boleh dipandang dikalahkan lewat bayangannya sendiri.
Orang Yunani menempatkan para tokohnya di langit: ada rasi bintang Perseus sungguhan, dan di dekatnya rasi Andromeda serta Cassiopeia — satu keluarga cerita di angkasa malam. Kuda bersayap yang lahir di akhir kisah pun punya rasinya sendiri; ceritanya berlanjut di "Pegasus dan Bellerophon" di perpustakaan ini.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi-versi tua Medusa dipenggal; di versi kami ia menatap bayangannya sendiri dan membatu, sedangkan para pelaut yang dulu membatu hidup kembali — akhir yang lebih ramah untuk pengantar tidur. Bahan ngobrol: ketakutan kadang tidak perlu dipandang langsung; cukup dilihat dari sudut yang aman, ditemani ide yang bagus.
Musuh yang paling menakutkan pun bisa dihadapi dengan akal, keberanian, dan bantuan teman.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.