

Halaman 1
Konon, ketika Medusa berubah menjadi batu, lahirlah seekor kuda putih bersayap. Namanya Pegasus. Ia terbang bebas ke mana pun ia mau, dan tidak seorang pun bisa menyentuhnya. Setiap pagi ia turun minum di mata air Peirene yang jernih di Korintus.

Halaman 2
Di kota itu hiduplah pemuda bernama Bellerophon yang bermimpi bisa terbang. Berkali-kali ia mencoba mendekati Pegasus — mengendap, berlari, memanjat pohon. Setiap kali, Pegasus mengibaskan sayap dan lenyap di awan. «Pasti ada caranya,» pikirnya.
Halaman 3
Suatu malam Bellerophon bermimpi bertemu Dewi Athena. «Kuda ajaib tidak bisa ditangkap dengan paksa,» kata sang dewi sambil memberikan kekang emas yang berkilau. «Datanglah dengan lembut.» Ketika ia terbangun — kekang emas itu ada di sampingnya!
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Pagi-pagi Bellerophon duduk diam di tepi mata air. Ia tidak mengejar, tidak bersembunyi. Pegasus turun, minum, dan memandangnya lama. Bellerophon mengulurkan tangan pelan-pelan. Pegasus mendekat, mengendus... dan membiarkan kekang emas itu dipasang.
Halaman 5
Sejak itu mereka bersahabat, terbang bersama di atas awan. Tapi persahabatan itu segera diuji: dari negeri tetangga datang kabar tentang Khimera. Makhluk itu berkepala singa, berbadan kambing gunung, dan berekor ular. Napasnya api!
Halaman 6
Khimera tinggal di gunung dan membuat desa-desa ketakutan. Ladang-ladang hangus oleh napas apinya, dan dari darat tidak ada pahlawan yang berani mendekat. «Tapi kita tidak menyerang dari darat,» kata Bellerophon sambil menepuk leher Pegasus.
Halaman 7
Pegasus melesat tinggi. Khimera menyemburkan api ke langit — Pegasus berkelit secepat angin. Dari atas, Bellerophon melempar tombaknya yang berat, jatuh tepat di depan kaki Khimera. Tanah bergetar, batu-batu runtuh.
Halaman 8
Khimera terkejut, mundur, lalu lari masuk ke dalam gunung berapi dan tidak pernah keluar lagi. Desa-desa aman! Konon, kalau gunung itu kadang berasap, itu napas Khimera yang sedang tidur di kedalaman. Semua menyambut Bellerophon sebagai pahlawan.
Halaman 9
Sayangnya, pujian membuat Bellerophon lupa diri. «Aku pahlawan hebat! Tempatku di langit, di gunung Olympus bersama para dewa!» Ia menarik kekang ke atas, terus ke atas. Tapi di depan gerbang awan Olympus, Pegasus berhenti dan menggeleng pelan.
Halaman 10
«Langit para dewa bukan tempat manusia, sahabatku,» seakan berkata mata Pegasus yang lembut. Ia membawa Bellerophon turun kembali ke bumi. Bellerophon menunduk malu, lalu memeluk leher sahabatnya. «Kau benar. Terima kasih sudah menjagaku.»
Halaman 11
Bellerophon hidup bahagia dan rendah hati di antara orang-orang yang ia sayangi. Dan Pegasus? Para dewa begitu menyukainya sampai menempatkan gambarnya di antara bintang-bintang. Malam ini ia terbang pelan di langit, menjaga mimpimu. Selamat tidur.
Ini sambungan kisah Perseus: dari batu Medusa lahir kuda bersayap, dan kini giliran ceritanya sendiri — satu keluarga dengan "Perseus dan Medusa" di perpustakaan ini. Mitos Bellerophon dituturkan sejak zaman Homer.
Khimera meninggalkan jejak nyata: di pantai selatan Turki ada lereng bernama Yanartas, tempat nyala api kecil keluar dari celah batu selama ribuan tahun karena gas alam — orang zaman dulu menyebutnya napas Khimera, persis seperti akhir cerita kami. Pegasus pun terbang di langit sungguhan: rasi bintang Pegasus dengan "segi empat besar"-nya mudah dikenali.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dua pelunakan: Khimera tidak dibunuh, hanya digiring pulang ke dalam gunung berapi; dan dalam versi tua Bellerophon dijatuhkan dari langit karena sombong — di versi kami Pegasus berhenti di gerbang Olympus dan menurunkan sahabatnya baik-baik. Bahan ngobrol: sahabat yang berani berkata "jangan" justru sahabat yang menjaga kita.
Kelembutan membuka hati yang tidak bisa dibuka dengan paksaan, dan rendah hati menjaga kita tetap selamat.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.