

Halaman 1
Di sebuah desa di Bali, di antara sawah hijau yang berkilau, tinggal seorang lelaki bernama Pan Balang Tamak. Ia terkenal cerdik. Akalnya selalu jalan. Para tetua desa sering geleng-geleng kepala karena ulahnya.

Halaman 2
Suatu hari kentongan berbunyi. “Besok kerja bakti! Datanglah saat ayam jantan berkokok!” seru utusan desa sambil berkeliling kampung. Semua warga mengangguk. Pan Balang Tamak juga mengangguk, sambil tersenyum kecil.
Halaman 3
Esoknya warga datang pagi-pagi buta. Pan Balang Tamak baru tiba saat matahari sudah tinggi, sambil menggendong ayam jantannya. “Ayamku baru saja berkokok. Aku datang tepat waktu, bukan?” katanya. Warga bengong.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Kepala desa menepuk dahinya, lalu tertawa. “Baiklah, aturan kita kurang jelas. Lain kali kita sebut waktunya: saat matahari terbit!” Sejak itu warga belajar membuat aturan yang jelas.
Halaman 5
Lain hari, warga ingin menguji Pan Balang Tamak. “Siapa yang mengotori bale-bale desa harus membersihkan seluruh desa!” Mereka yakin ia akan terkena, sebab ia suka duduk-duduk di sana bersama anjing kecilnya.
Halaman 6
Pan Balang Tamak tahu rencana itu. Diam-diam ia menaruh dodol cokelat yang lengket di lantai bale-bale, bentuknya persis kotoran anjing. Paginya warga berseru, “Itu ulah anjing Pan Balang Tamak! Panggil dia!”
Halaman 7
Pan Balang Tamak datang dengan tenang. “Kalian yakin ini kotoran?” tanyanya. Ia mengambil benda itu... lalu memakannya! “Hmm, manis. Ini dodol buatan istriku.” Warga ternganga, lalu tertawa terpingkal-pingkal.
Halaman 8
Meski jail, akal Pan Balang Tamak sering menolong desa. Saat dua tetangga berebut batas sawah, ia menemukan cara membaginya dengan adil, dan keduanya pulang sambil bersalaman.
Halaman 9
“Akal itu seperti pisau,” kata Pan Balang Tamak kepada anak-anak desa. “Gunakan untuk menolong, jangan untuk menyakiti.” Anak-anak mengangguk sambil tertawa, teringat dodol di lantai bale-bale.
Halaman 10
Malam turun di desa. Kentongan berbunyi pelan, tanda semuanya aman. Pan Balang Tamak menguap dan memeluk ayam jantannya yang sudah terlelap. “Besok berkokoklah pagi-pagi, ya,” bisiknya. Lalu ia pun tertidur pulas.
Pan Balang Tamak adalah tokoh cerdik legendaris dari Bali, saudara sedongeng dengan Kancil dan Abu Nawas: orang biasa yang selalu menemukan celah dalam aturan. Di Bali, kisah-kisahnya lekat dengan kehidupan desa adat — rapat warga, kerja bakti, dan aturan bersama.
Latar ceritanya bisa ditunjukkan di Bali sungguhan: desa adat memiliki awig-awig, aturan tertulis yang disepakati warga, dan kulkul — kentongan kayu besar di menara banjar — untuk memanggil orang berkumpul. Lain kali mendengar kentongan atau melihat papan aturan kampung, anak bisa diingatkan pada ayam jantan Pan Balang Tamak.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam sebagian versi lama, warga begitu kesal sampai berbuat jahat kepadanya dan ceritanya berakhir pahit; versi kami menjaga sisi jenakanya saja. Bahan ngobrol: aturan perlu kata-kata yang jelas supaya tidak salah paham, dan kecerdikan sebaiknya dipakai seperti pesan Pan Balang Tamak — untuk menolong, bukan menyakiti.
Kecerdikan paling berharga bila dipakai untuk kebaikan bersama.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.