

Halaman 1
Dahulu kala, Pulau Jawa dan Pulau Bali masih menyatu. Di sana tinggal Sidi Mantra, seorang ayah yang bijak. Anaknya bernama Manik Angkeran. Mereka tinggal di rumah kecil di tepi hutan.

Halaman 2
Manik Angkeran anak yang ceria, tetapi boros. Ia suka membeli ini dan itu, dan uang sakunya cepat habis. “Ayah, uang sakuku habis lagi,” katanya hampir setiap pekan. Sidi Mantra menghela napas panjang.
Halaman 3
Suatu hari dapur mereka benar-benar kosong. Sidi Mantra berjalan jauh ke timur, ke Gunung Agung. Di sana tinggal Naga Besukih, naga besar bersisik emas. Naga itu sahabat lama Sidi Mantra.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Sidi Mantra membunyikan genta kecilnya di depan gua. Naga Besukih keluar perlahan, sisiknya berkilau. “Sahabatku, apa yang kau perlukan?” tanya sang naga. “Sedikit emas untuk makan kami,” jawab Sidi Mantra.
Halaman 5
Naga Besukih menggoyangkan ekornya, dan beberapa keping emas jatuh ke tanah. Sidi Mantra pulang dengan hati lega. Namun Manik Angkeran diam-diam bertanya-tanya, dari mana emas itu berasal.
Halaman 6
Manik meminjam genta ayahnya, lalu berjalan sendiri ke Gunung Agung. Ia membunyikan genta di depan gua. “Naga Besukih, aku anak Sidi Mantra. Bolehkah aku meminta emas?” serunya dengan berani.
Halaman 7
Naga memberi Manik segenggam emas. Tetapi Manik melihat ekor naga yang penuh permata. “Kalau kuambil satu saja, aku kaya selamanya,” bisiknya. Diam-diam tangannya menyentuh ekor itu. Naga pun terkejut dan menoleh.
Halaman 8
“Kau serakah, Manik Angkeran,” kata naga, dan suaranya menggelegar. Bumi bergetar. Manik jatuh terduduk dan menangis menyesal. Saat itu Sidi Mantra datang menyusul dan memeluk anaknya erat-erat.
Halaman 9
“Maafkan anakku, sahabatku,” kata Sidi Mantra. “Maafkan aku, Naga Besukih. Aku tidak akan serakah lagi,” bisik Manik. Naga pun luluh. “Baiklah. Tetapi mulai kini, tinggallah di sisi timur dan belajarlah hidup sederhana.”
Halaman 10
Sidi Mantra menggores tanah dengan tongkatnya. Air laut mengalir mengisi goresan itu hingga menjadi Selat Bali yang berkilau. Manik menepati janjinya. Ombak selat berdesir pelan... sssh... sssh... Tidurlah, seperti pulau-pulau yang tenang itu.
Legenda ini berasal dari Bali dan termasuk keluarga cerita asal-usul alam: konon, dahulu Pulau Jawa dan Bali menyatu, lalu terpisah oleh goresan tongkat Sidi Mantra yang menjadi Selat Bali. Tokoh Naga Besukih dalam tradisi Bali dikaitkan dengan Gunung Agung, gunung tertinggi di pulau itu.
Selat Bali sungguh ada dan sempit: feri menyeberang antara Ketapang di Jawa dan Gilimanuk di Bali dalam waktu singkat. Ajak anak melihat peta — dua pulau itu nyaris bersentuhan, dan legenda ini adalah cara orang dahulu menjelaskan celah kecil tersebut. Gunung Agung pun mudah dikenali: puncaknya sering muncul di foto-foto Bali.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi-versi lama, keserakahan Manik dihukum jauh lebih keras sebelum akhirnya ia dipulihkan; versi kami berhenti pada penyesalan dan maaf. Bahan ngobrol: bedanya meminta dan mengambil diam-diam, serta mengapa mengakui kesalahan justru membuat lega.
Keserakahan membuat kita kehilangan; kejujuran dan hidup sederhana membawa ketenangan.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.