

Halaman 1
Di Pulau Lombok berdiri Kerajaan Sekar Kuning. Rajanya mempunyai seorang putri bernama Mandalika yang cantik, cerdas, dan sangat menyayangi rakyatnya.

Halaman 2
Putri Mandalika suka berkeliling desa. Ia menyapa para petani, bermain bersama anak-anak, dan menolong siapa pun yang sedang kesulitan.
Halaman 3
Ketika ia dewasa, banyak pangeran dari berbagai negeri datang melamar. Masing-masing membawa hadiah mewah dan pasukan yang gagah.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Para pangeran itu tidak mau mengalah. Mereka saling membanggakan kekayaan dan mengancam akan berperang jika lamarannya ditolak.
Halaman 5
Putri Mandalika sangat sedih. “Jika aku memilih satu orang saja, negeri ini akan berperang dan rakyatku yang akan menderita,” pikirnya.
Halaman 6
Ia berdoa dan merenung berhari-hari. Akhirnya ia mengundang semua pangeran dan seluruh rakyat berkumpul di Pantai Seger sebelum fajar.
Halaman 7
Pagi itu pantai penuh manusia. Putri Mandalika berdiri di atas batu karang dan berkata, “Aku memilih menjadi milik kalian semua, bukan milik satu orang.”
Halaman 8
“Aku akan datang setiap tahun sebagai nyale, agar semua orang dapat menikmatinya bersama-sama,” katanya. Lalu ia melompat ke laut yang berombak.
Halaman 9
Semua orang berusaha mencarinya, tetapi sang putri tidak ditemukan. Yang muncul kemudian adalah cacing laut warna-warni yang jumlahnya sangat banyak.
Halaman 10
Sejak itu setiap tahun masyarakat Sasak berkumpul menangkap nyale. Tradisi itu bernama Bau Nyale dan mengingatkan orang pada pengorbanan Putri Mandalika.
Putri Mandalika adalah legenda suku Sasak di Pulau Lombok. Sang putri yang memilih menceburkan diri ke laut demi mencegah perang masih "pulang" setiap tahun: menjelang Februari–Maret, di pantai selatan Lombok muncul jutaan cacing laut warna-warni yang disebut nyale, dan orang Sasak percaya itulah jelmaan rambut sang putri.
Menyambutnya, digelar festival Bau Nyale — "menangkap nyale" — di Pantai Seger dekat Kuta, Lombok. Ribuan orang turun ke laut saat subuh membawa jaring kecil. Nama Mandalika kini juga dipakai untuk kawasan wisata dan sirkuit balap internasional di tempat yang sama, jadi sang putri benar-benar menjadi nama yang dikenal dunia.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Pilihan Mandalika bisa terasa sedih; versi ini menekankan bahwa ia tidak hilang, melainkan berubah menjadi berkah untuk semua. Bahan ngobrol: bagaimana caranya berbagi sesuatu yang tidak bisa dibagi — dan pernahkah anak mengalami rebutan yang selesai dengan cara tak terduga?
Pemimpin yang baik mendahulukan keselamatan orang banyak. Perdamaian lebih berharga daripada keinginan diri sendiri.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.