

Halaman 1
Di sebuah desa di Bali tinggal dua tetangga. Men Sugih kaya raya, tetapi pelit. Men Tiwas miskin, tetapi baik hati. Rumah mereka bersebelahan, hanya dipisahkan pagar bambu. Setiap pagi, asap dapur mengepul dari kedua atapnya.

Halaman 2
Suatu hari beras Men Tiwas habis. Ia meminjam segenggam kepada Men Sugih. “Boleh, tapi besok kembalikan dua genggam,” kata Men Sugih. Men Tiwas mengangguk pelan dan bekerja makin rajin.
Halaman 3
Esoknya Men Tiwas pergi ke hutan mencari kayu bakar. Di bawah pohon besar, seekor kijang emas berdiri menatapnya. “Jangan takut,” kata kijang itu. “Maukah kau membersihkan daun-daun kering dari tandukku?”
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Men Tiwas membersihkan tanduk kijang dengan hati-hati dan lembut. “Terima kasih. Kau sabar dan baik,” kata kijang emas. Ia mengais tanah dengan kakinya, dan butir-butir emas berkilau muncul dari dalamnya.
Halaman 5
Men Tiwas pulang membawa emas. Ia mengembalikan beras Men Sugih, membeli baju untuk anak-anaknya, dan tetap rajin bekerja. Ia juga membagi sebagian emasnya kepada tetangga yang kekurangan.
Halaman 6
Men Sugih mengintip dari balik pagar. “Dari mana emas itu?” tanyanya. Men Tiwas bercerita dengan jujur tentang kijang emas di hutan. Mata Men Sugih langsung berbinar-binar. “Besok aku juga ke sana!”
Halaman 7
Pagi-pagi sekali Men Sugih berlari ke hutan. “Kijang! Kijang emas! Keluarlah!” teriaknya keras-keras. Kijang emas muncul perlahan dari balik pohon. “Bersihkan dulu tandukku,” katanya tenang.
Halaman 8
Men Sugih menggosok tanduk itu cepat-cepat dan kasar, sambil terus melirik ke tanah. “Mana emasnya? Cepat, aku sibuk!” Kijang menggeleng sedih. Ia mengais tanah, tetapi yang muncul hanya daun kering dan kerikil.
Halaman 9
Kijang emas menghilang di antara pepohonan. Men Sugih pulang dengan tangan kosong dan hati malu. Di depan rumah, Men Tiwas menyambutnya dengan sepiring nasi hangat. “Mari makan bersama kami,” katanya ramah.
Halaman 10
Sejak itu Men Sugih belajar berbagi, sedikit demi sedikit. Malam pun tiba di desa kecil itu. Jangkrik bernyanyi pelan di pagar bambu. Seperti Men Tiwas, tidurlah dengan hati yang ringan dan baik.
Ini satua Bali — dongeng pengantar tidur khas Bali — tentang dua tetangga yang berlawanan nasib dan wataknya. Sepasang nama tokohnya sudah berupa pelajaran kecil: dalam bahasa Bali, sugih berarti kaya dan tiwas berarti miskin, sedangkan Men adalah sapaan untuk seorang ibu.
Kisah tetangga baik hati yang diberkahi dan peniru serakah yang pulang dengan tangan kosong berkeluarga besar di Nusantara — polanya akrab lewat Bawang Merah Bawang Putih. Yang khas Bali di sini adalah kijang emas dan tradisi satua itu sendiri: dongeng yang dituturkan nenek atau ibu menjelang tidur, persis seperti cerita ini digunakan sekarang.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Versi-versi lama biasanya menghukum Men Sugih lebih keras; versi kami menutupnya dengan sepiring nasi hangat dan kesempatan berubah. Bahan ngobrol: menolong dengan tulus tanpa buru-buru minta imbalan, dan kebiasaan mengembalikan pinjaman tepat waktu.
Ketulusan membawa rezeki; keserakahan pulang dengan tangan kosong.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.