

Halaman 1
Dahulu kala, pahlawan Odysseus berlayar pulang dari perang Troya bersama para pelautnya. Perjalanan ke pulau Ithaka masih jauh. Suatu sore mereka melihat pulau hijau dengan domba-domba gemuk di lerengnya, lalu turun untuk mencari bekal.

Halaman 2
Di lereng bukit ada gua besar berisi keranjang keju dan kandang domba. Para pelaut ingin cepat pergi, tapi tiba-tiba tanah bergetar. Duk. Duk. DUK! Masuklah raksasa bermata satu — Kiklops bernama Polifemus, menggiring domba-dombanya.
Halaman 3
Polifemus menutup mulut gua dengan batu sebesar rumah. Dua puluh kuda pun tidak akan sanggup menggesernya! Lalu mata satunya yang besar menatap para tamu. «Siapa kalian?» gemuruh suaranya. Para pelaut gemetar di balik keranjang keju.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Odysseus maju dengan tenang. «Kami pelaut yang tersesat, tuan raksasa. Namaku... Bukan Siapa-Siapa.» Polifemus tertawa menggelegar. «Bukan Siapa-Siapa? Nama yang aneh! Kalian jadi tawananku. Besok kupikirkan mau kuapakan kalian.»
Halaman 5
Raksasa itu minum susu domba dari gentong besar sampai kenyang, lalu rebahan. Guanya bergetar oleh dengkurnya. Odysseus tidak tidur. Ia memandang batu penutup, domba-domba, dan punggung raksasa itu. Pelan-pelan, sebuah akal tersusun di kepalanya.
Halaman 6
«Dengar,» bisik Odysseus kepada teman-temannya. «Besok pagi ia pasti membuka batu untuk menggembala domba. Ia akan meraba punggung setiap domba supaya kita tidak menunggang keluar. Tapi ia tidak akan meraba... bagian bawahnya.»
Halaman 7
Diam-diam mereka mengikat diri di bawah perut domba-domba yang paling besar, bersembunyi di balik bulunya yang tebal. Odysseus memilih domba jantan terbesar dan berpegangan erat di bawahnya. Fajar menyingsing. Polifemus menggeser batu.
Halaman 8
Pagi masih remang-remang, dan di dalam gua gelap sekali. Domba-domba berjalan keluar satu per satu, dan tangan Polifemus meraba punggung setiap domba. «Punggung kosong... kosong juga...» gerutunya. Ia tidak tahu para pelaut bergantung di bawah!
Halaman 9
Di luar, mereka berlari ke kapal dan mendayung cepat. Polifemus berteriak marah: «Aku ditipu! Tolooong!» Kiklops lain berseru dari gunung: «Siapa yang menipumu?» «BUKAN SIAPA-SIAPA!» «Kalau bukan siapa-siapa, ya sudah!» Mereka pun tertawa.
Halaman 10
Polifemus menggaruk-garuk kepala di pantai, bingung sendirian, lalu kembali ke domba-dombanya. Malam turun di atas laut. Angin lembut mendorong kapal menuju rumah. Perjalanan masih panjang, tapi malam ini semua selamat. Selamat tidur.
Ini penggalan dari "Odyssey" karya Homer — puisi berusia hampir tiga ribu tahun dan salah satu cerita yang paling banyak dituturkan ulang di dunia. Episode Kiklops adalah bagiannya yang paling terkenal: manusia kecil melawan raksasa, dan yang menang adalah akal.
Nama Odysseus hidup terus dalam bahasa: di banyak negara, perjalanan panjang yang penuh liku sampai sekarang disebut "odise". Trik nama "Bukan Siapa-Siapa" pun ada persis seperti itu dalam teks Homer — permainan kata berumur ribuan tahun yang masih membuat anak-anak tertawa.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Versi Homer jauh lebih keras — Odysseus melukai mata sang raksasa untuk bisa lolos; di versi kami Polifemus tertidur kekenyangan dengan sendirinya, dan tidak ada yang terluka. Bahan ngobrol: yang menyelamatkan para pelaut bukan otot, melainkan tenang, sabar menunggu pagi, dan satu ide yang bagus. Kapan "berpikir dulu" pernah menolong kita?
Ketika tenaga tidak cukup, akal dan ketenangan menunjukkan jalan keluar.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.