

Halaman 1
Setelah lolos dari Kiklops, Odysseus dan para pelautnya berlayar lagi mencari jalan pulang ke Ithaka. Suatu hari mereka tiba di pulau ajaib yang melayang di atas laut, dikelilingi tembok perunggu berkilau — pulau Raja Aiolos, penguasa angin.

Halaman 2
Raja Aiolos menyambut mereka dengan ramah. Ia mendengarkan cerita perang Troya dan Kiklops sambil manggut-manggut. «Kalian sudah lama sekali merantau,» katanya. «Sudah waktunya pulang. Aku akan membantumu, Odysseus.»
Halaman 3
Aiolos mengambil kantong kulit yang besar. Satu per satu ia memanggil angin badai: angin utara yang dingin, angin timur yang nakal, angin selatan yang panas. Semuanya ia masukkan ke dalam kantong, lalu ia ikat dengan tali perak.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
«Semua angin badai ada di sini,» kata Aiolos. «Yang kulepas hanya angin barat yang lembut — ia akan meniup kapalmu langsung ke Ithaka. Ingat: jangan buka kantong ini sampai kau tiba di rumah.» Odysseus berterima kasih dan menyimpannya baik-baik.
Halaman 5
Sembilan hari sembilan malam angin barat meniup kapal dengan lembut. Odysseus terus memegang kemudi tanpa tidur, matanya menatap ke depan. Pada hari kesepuluh, di kejauhan tampak asap dapur pulau Ithaka. Rumah! Hampir sampai!
Halaman 6
Karena lega, mata Odysseus yang lelah terpejam. Ia tertidur di sisi kemudi. Para pelaut memandang kantong kulit itu. «Pasti isinya emas dari Raja Aiolos,» bisik seorang. «Kenapa hanya untuk nakhoda? Kita lihat sedikit saja...»
Halaman 7
Tali perak dilepaskan — WUUUSSSH! Semua angin badai menyembur keluar sekaligus! Layar terputar, ombak menggunung, kapal berputar seperti gasing. Badai meniup kapal menjauh dari Ithaka yang sudah di depan mata.
Halaman 8
Ketika badai reda, kapal terdampar kembali di pulau tembok perunggu. Raja Aiolos menggeleng-geleng. «Kalian membuka kantongnya? Angin yang sudah kulepas tidak bisa kutangkap lagi. Kali ini kalian harus berlayar sendiri — dengan sabar.»
Halaman 9
Para pelaut menunduk malu. «Maafkan kami, Odysseus.» Odysseus menghela napas panjang, lalu menepuk bahu mereka. «Yang sudah lepas biarlah lepas. Kita masih punya dayung, layar, dan bintang-bintang. Kita pulang pelan-pelan.»
Halaman 10
Malam itu kapal berlayar tenang di bawah langit penuh bintang. Odysseus mengajari pelaut muda membaca arah dari bintang utara. Laut berayun pelan seperti buaian. Perjalanan pulang masih panjang, tapi mereka menempuhnya bersama. Selamat tidur.
Ini sambungan langsung kisah Kiklops, juga dari "Odyssey" Homer — bagian pengembaraan Odysseus yang sudah dituturkan hampir tiga ribu tahun. Aiolos, raja angin yang ramah, termasuk tokoh yang paling diingat dari seluruh pelayaran itu.
Namanya tertinggal di peta sungguhan: Kepulauan Aeolia di utara Sisilia, gugusan pulau vulkanik yang masih berasap sampai sekarang, dinamai menurut sang raja angin. Dan sembilan hari memegang kemudi tanpa tidur — anak pelaut mana pun paham kenapa mata Odysseus akhirnya terpejam.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam teks Homer akibat kantong terbuka jauh lebih berat — bertahun-tahun pengembaraan tambahan; di versi kami cukup satu badai dan satu pelajaran. Bahan ngobrol: para pelaut membuka kantong karena penasaran dan curiga — apa yang sebaiknya dilakukan kalau penasaran pada barang orang lain? Dan perhatikan Odysseus: ia tidak mengamuk, tapi berkata "yang sudah lepas biarlah lepas", lalu mengajari awaknya membaca bintang.
Percayalah pada temanmu dan jangan biarkan rasa penasaran membuka apa yang bukan milikmu.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.