Google PlayApp Store
Sampul cerita Murtado Macan Kemayoran

Murtado Macan Kemayoran

10 halaman3 menit 16 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Di kampung Kemayoran, tinggallah pemuda bernama Murtado. Ia penjual rumput untuk kuda delman. Badannya tidak besar. Suaranya pelan. Tapi jangan salah! Ilmu silatnya tinggi, sampai orang menjulukinya Macan Kemayoran.

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

Meski jago silat, Murtado sangat sopan. Ia membantu ibunya menimba air. Ia menyapa semua orang di jalan. "Silat itu untuk menjaga kampung," katanya selalu, "bukan untuk menakut-nakuti orang."

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

Suatu masa, Kemayoran menjadi resah. Malam-malam, gerombolan perampok pimpinan Warsa datang mengganggu. Mereka mengambil ayam, beras, dan kain milik warga. Orang-orang takut keluar rumah setelah hari gelap.

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

Bek Lihun, kepala kampung, kebingungan. Akhirnya ia datang ke rumah Murtado. "Tolonglah kampung kita, Do," pintanya. "Hanya kau yang berani menghadapi Warsa." Murtado mengangguk. "Baik, Bek. Tapi aku akan memakai caraku sendiri."

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Malam itu, Warsa dan gerombolannya datang mengendap-endap. Tiba-tiba... wuuut! Karung beras yang mereka panggul lenyap. Obor mereka padam satu per satu. "Si... siapa itu?" bisik para perampok dengan gemetar.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

Dari atas atap, melompatlah bayangan yang gesit. Itu Murtado! Ia berkelit dari pukulan, menangkis dari kiri, mengunci dari kanan. Satu per satu perampok jatuh terduduk lemas di tanah. Tidak ada yang terluka, tapi semuanya menyerah.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

Warsa maju paling akhir. Badannya besar, tampangnya garang. Namun Murtado tenang seperti air. Sekali berkelit, dua kali kunci, Warsa pun terduduk. "Ampun, Macan Kemayoran!" serunya. "Kami berjanji tidak akan mengganggu lagi."

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

Murtado membantu mereka berdiri satu per satu. "Kalau kalian lapar, bekerjalah dengan jujur. Pasar butuh tukang angkut," katanya. Warsa dan kawan-kawannya menurut. Sejak itu, mereka bekerja memikul karung di pasar Kemayoran.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

Pembesar kompeni Belanda mendengar kabar itu. Mereka menawari Murtado pangkat dan gaji besar. Murtado menggeleng halus. "Terima kasih. Saya cukup menjadi orang biasa yang menjaga kampung sendiri." Warga pun semakin sayang padanya.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 10

Kini malam di Kemayoran kembali tenang. Ayam tidur di kandang. Kuda delman beristirahat di halaman. Sang Macan Kemayoran pun menguap lebar. Ayo, ikutlah terlelap seperti kampung yang damai itu. Mimpi indah ya, sayang.

Tentang cerita ini

Murtado adalah jagoan Betawi dari cerita rakyat Kemayoran, sebuah kampung lama yang kini menjadi kawasan di Jakarta Pusat. Ia satu keluarga cerita dengan Si Pitung dan Si Jampang — pendekar silat pembela kampung — tetapi kisahnya berdiri sendiri: Murtado si penjual rumput yang pelan suaranya, namun dijuluki Macan Kemayoran.

Julukan itu hidup sampai sekarang dengan cara yang menyenangkan untuk anak Jakarta: "Macan Kemayoran" kini dipakai sebagai julukan Persija, klub sepak bola Jakarta. Nama Kemayoran sendiri masih ada di peta kota, jadi ceritanya bisa "ditunjuk" langsung.

Cocok untuk usia 4–8 tahun. Bahan ngobrol: Murtado kuat tetapi sopan — ia menyapa semua orang dan membantu ibunya; dan perhatikan akhir kisahnya: para perampok tidak dihukum, melainkan ditawari pekerjaan jujur di pasar. Tanyakan pada anak: kenapa Murtado menolak pangkat dan gaji besar?

Untuk orang tua

Pesan moral

Keberanian sejati dipakai untuk melindungi, dan memaafkan dapat mengubah lawan menjadi kawan.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Siapa yang dijuluki Macan Kemayoran, dan mengapa?
  2. Apa yang dilakukan gerombolan Warsa sehingga warga ketakutan?
  3. Bagaimana Murtado memperlakukan para perampok setelah mereka kalah?
  4. Mengapa Murtado menolak pangkat dari kompeni?
  5. Kalau kamu jadi Murtado, apa yang akan kamu katakan kepada Warsa?

Untuk kelas

gerombolanobormenimbamengendappangkatgarang

Cerita lain: Betawi

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.