

Halaman 1
Di kampung Kemayoran, tinggallah pemuda bernama Murtado. Ia penjual rumput untuk kuda delman. Badannya tidak besar. Suaranya pelan. Tapi jangan salah! Ilmu silatnya tinggi, sampai orang menjulukinya Macan Kemayoran.

Halaman 2
Meski jago silat, Murtado sangat sopan. Ia membantu ibunya menimba air. Ia menyapa semua orang di jalan. "Silat itu untuk menjaga kampung," katanya selalu, "bukan untuk menakut-nakuti orang."
Halaman 3
Suatu masa, Kemayoran menjadi resah. Malam-malam, gerombolan perampok pimpinan Warsa datang mengganggu. Mereka mengambil ayam, beras, dan kain milik warga. Orang-orang takut keluar rumah setelah hari gelap.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Bek Lihun, kepala kampung, kebingungan. Akhirnya ia datang ke rumah Murtado. "Tolonglah kampung kita, Do," pintanya. "Hanya kau yang berani menghadapi Warsa." Murtado mengangguk. "Baik, Bek. Tapi aku akan memakai caraku sendiri."
Halaman 5
Malam itu, Warsa dan gerombolannya datang mengendap-endap. Tiba-tiba... wuuut! Karung beras yang mereka panggul lenyap. Obor mereka padam satu per satu. "Si... siapa itu?" bisik para perampok dengan gemetar.
Halaman 6
Dari atas atap, melompatlah bayangan yang gesit. Itu Murtado! Ia berkelit dari pukulan, menangkis dari kiri, mengunci dari kanan. Satu per satu perampok jatuh terduduk lemas di tanah. Tidak ada yang terluka, tapi semuanya menyerah.
Halaman 7
Warsa maju paling akhir. Badannya besar, tampangnya garang. Namun Murtado tenang seperti air. Sekali berkelit, dua kali kunci, Warsa pun terduduk. "Ampun, Macan Kemayoran!" serunya. "Kami berjanji tidak akan mengganggu lagi."
Halaman 8
Murtado membantu mereka berdiri satu per satu. "Kalau kalian lapar, bekerjalah dengan jujur. Pasar butuh tukang angkut," katanya. Warsa dan kawan-kawannya menurut. Sejak itu, mereka bekerja memikul karung di pasar Kemayoran.
Halaman 9
Pembesar kompeni Belanda mendengar kabar itu. Mereka menawari Murtado pangkat dan gaji besar. Murtado menggeleng halus. "Terima kasih. Saya cukup menjadi orang biasa yang menjaga kampung sendiri." Warga pun semakin sayang padanya.
Halaman 10
Kini malam di Kemayoran kembali tenang. Ayam tidur di kandang. Kuda delman beristirahat di halaman. Sang Macan Kemayoran pun menguap lebar. Ayo, ikutlah terlelap seperti kampung yang damai itu. Mimpi indah ya, sayang.
Murtado adalah jagoan Betawi dari cerita rakyat Kemayoran, sebuah kampung lama yang kini menjadi kawasan di Jakarta Pusat. Ia satu keluarga cerita dengan Si Pitung dan Si Jampang — pendekar silat pembela kampung — tetapi kisahnya berdiri sendiri: Murtado si penjual rumput yang pelan suaranya, namun dijuluki Macan Kemayoran.
Julukan itu hidup sampai sekarang dengan cara yang menyenangkan untuk anak Jakarta: "Macan Kemayoran" kini dipakai sebagai julukan Persija, klub sepak bola Jakarta. Nama Kemayoran sendiri masih ada di peta kota, jadi ceritanya bisa "ditunjuk" langsung.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Bahan ngobrol: Murtado kuat tetapi sopan — ia menyapa semua orang dan membantu ibunya; dan perhatikan akhir kisahnya: para perampok tidak dihukum, melainkan ditawari pekerjaan jujur di pasar. Tanyakan pada anak: kenapa Murtado menolak pangkat dan gaji besar?
Keberanian sejati dipakai untuk melindungi, dan memaafkan dapat mengubah lawan menjadi kawan.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.