

Halaman 1
Dahulu, di kampung Betawi di tepi Kali Ciliwung, tinggallah pemuda bernama Salim. Ia tukang roti. Setiap pagi, harum rotinya memenuhi kampung. Diam-diam, Salim menyukai Ipah, gadis penjual kain di pasar.

Halaman 2
Salim ingin melamar Ipah. Tapi ia bingung. "Apa yang harus kubawa sebagai tanda cinta?" pikirnya. Bunga cepat layu. Buah cepat habis. Salim duduk termenung di tepi sungai sampai sore.
Halaman 3
Di sungai itu, Salim melihat sepasang buaya berenang berdampingan. Kong Miun, kakek tua yang lewat di tepi sungai, berkata, "Buaya itu setia, Lim. Ia memilih satu pasangan untuk seumur hidupnya. Ke mana-mana selalu berdua."
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Mata Salim berbinar. "Aku tahu sekarang!" serunya. "Aku akan membuat roti berbentuk buaya. Artinya, cintaku setia seperti buaya. Seumur hidup, hanya satu." Malam itu, Salim menguleni adonan dengan hati berdebar.
Halaman 5
Paginya, jadilah sepasang roti buaya yang besar dan cantik. Ekornya melengkung. Sisiknya digurat rapi satu per satu. Di punggung roti yang satu, Salim menaruh roti buaya mungil, seperti anak buaya yang digendong ibunya.
Halaman 6
Salim datang ke rumah Ipah bersama keluarganya. Ia membawa sepasang roti buaya itu dengan hati-hati. "Ipah, roti ini tanda janjiku. Aku akan setia menjagamu, seperti buaya menjaga pasangannya." Ipah tersenyum. Lamaran itu diterima.
Halaman 7
Kampung pun bersuka ria. Pesta pengantin diiringi musik gambang kromong. Ondel-ondel ikut menari. Para tamu makan kerak telor, telur dadar beras yang gurih. "Cantik sekali roti buayanya!" puji para tamu di depan pelaminan.
Halaman 8
Sejak itu, setiap pengantin Betawi membawa roti buaya. Roti itu tidak langsung dimakan, tetapi disimpan baik-baik. Artinya, janji setia harus dijaga lama, bukan sehari lalu dilupakan. Begitulah roti buaya menjadi adat Betawi sampai sekarang.
Halaman 9
Malam sesudah pesta, kampung menjadi tenang. Bulan memantul di Kali Ciliwung. Di tepi air, sepasang buaya tidur berdampingan. Seperti mereka, tutuplah matamu dengan tenang. Selamat tidur, sampai jumpa dalam mimpi yang manis.
Roti buaya adalah adat Betawi yang benar-benar ada: pada lamaran dan pernikahan, keluarga mempelai laki-laki membawa sepasang roti berbentuk buaya. Buaya dipilih karena dipercaya setia pada satu pasangan seumur hidup, sehingga menjadi lambang janji setia. Kisah Salim si tukang roti dalam versi ini adalah bingkai dongeng kami untuk menceritakan asal-usul tradisi itu pada anak.
Roti buaya masih mudah dijumpai: toko-toko roti di Jakarta membuatnya untuk seserahan pengantin Betawi, kadang lengkap dengan roti buaya kecil di punggungnya. Dalam cerita juga lewat kerak telor dan ondel-ondel — dua ikon Betawi yang bisa ditunjukkan di pesta rakyat Jakarta.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Bahan ngobrol: kenapa roti buaya tidak langsung dimakan, melainkan disimpan — janji itu dijaga lama, bukan sehari lalu lupa. Bisa juga bertanya: benda apa di rumah kita yang punya arti khusus untuk keluarga?
Kesetiaan adalah janji yang dijaga lama, seperti roti buaya yang disimpan baik-baik.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.