

Halaman 1
Dahulu, ada sebuah kampung Betawi di pinggir sungai. Warganya rajin dan ramah. Ada pasar kecil. Ada kebun pisang. Setiap sore, anak-anak bermain di halaman sambil menunggu senja turun.

Halaman 2
Suatu musim, kampung itu menjadi murung. Panen sedikit. Banyak anak jatuh sakit. Orang-orang jarang tersenyum. "Kampung kita sepi sekali," bisik Mpok Ronah sedih. "Ke mana perginya tawa anak-anak kita?"
Halaman 3
Kong Jali, kakek paling tua di kampung, mengumpulkan warga di balai. "Kampung ini butuh penjaga yang gembira," katanya. "Mari kita buat boneka raksasa yang tersenyum lebar, supaya rasa sedih menjadi takut, lalu lari dari kampung kita!"
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Warga pun bekerja bersama-sama. Bapak-bapak menganyam bambu menjadi rangka yang tinggi. Ibu-ibu menjahit baju warna-warni. Anak-anak memasang rambut dari ijuk, serat hitam pohon aren. Jadilah dua boneka raksasa setinggi pohon pisang.
Halaman 5
Boneka laki-laki diberi wajah merah yang gagah. Boneka perempuan diberi wajah putih yang manis. Kepala keduanya dihias kembang kelapa warna-warni. "Kita namai mereka ondel-ondel!" seru anak-anak dengan riang.
Halaman 6
Sore itu, ondel-ondel diarak keliling kampung. Musik gambang kromong, musik khas Betawi, mengalun riang. Tung-tang-tung! Ondel-ondel menari, bergoyang ke kiri dan ke kanan. Anak-anak bertepuk tangan sambil ikut berjoget.
Halaman 7
Ajaib! Kampung yang murung menjadi ramai. Anak-anak yang sakit ikut tertawa di jendela, lalu pelan-pelan sembuh dan bermain lagi. "Lihatlah, ondel-ondel membawa gembira," kata Kong Jali. "Hati yang gembira membuat badan jadi kuat."
Halaman 8
Sejak itu, ondel-ondel menjadi penjaga kampung yang ceria. Setiap ada pesta panen atau pengantin lewat, ondel-ondel ikut diarak. "Undang ondel-ondel kemari!" pinta kampung-kampung tetangga. Sampai kini, ondel-ondel menari di pesta-pesta Jakarta.
Halaman 9
Malam tiba. Sepasang ondel-ondel disandarkan di balai kampung. Wajah mereka tetap tersenyum, seakan berkata, "Tenanglah, kampung ini kami jaga." Anak-anak pulas di rumahnya masing-masing. Tutuplah matamu pelan-pelan, dan bermimpilah yang indah.
Ondel-ondel adalah boneka raksasa khas Betawi: rangka bambu setinggi orang dewasa lebih, wajah merah untuk yang laki-laki, putih untuk yang perempuan, dan hiasan kembang kelapa di kepala. Pada zaman dahulu ondel-ondel dipercaya sebagai penolak bala, penjaga kampung dari hal-hal buruk; versi kami menceritakannya dengan cara yang lebih lembut — mereka mengusir rasa sedih.
Ondel-ondel mudah ditunjukkan pada anak: sampai kini mereka diarak di pesta rakyat Jakarta, menari diiringi gambang kromong, musik khas Betawi. Ada pula lagu Betawi terkenal berjudul "Ondel-Ondel" yang masih sering diputar.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Sebagian anak kecil justru takut pada wajah ondel-ondel; cerita ini bisa membantu — di dalamnya mereka penjaga yang tersenyum, dibuat warga bersama-sama. Bahan ngobrol: bagaimana satu kampung bergotong royong, dan kenapa hati gembira membuat badan kuat.
Kegembiraan yang dibuat bersama-sama dapat mengobati hati yang sedih dan membuat kampung menjadi kuat.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.