Google PlayApp Store
Sampul cerita Si Pitung Jagoan Betawi

Si Pitung Jagoan Betawi

10 halaman3 menit 23 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Dahulu kala, di kampung Rawa Belong, hiduplah seorang pemuda bernama Pitung. Badannya tegap, hatinya baik. Setiap pagi ia membantu ayahnya memerah susu kambing. Lalu ia berjalan ke pasar untuk menjual susu itu.

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

Sore hari, Pitung belajar pencak silat, ilmu bela diri. Gurunya bernama Bang Naipin, kakek tua yang bijak. "Ingat, Pitung," pesan gurunya. "Silat bukan untuk sombong. Silat untuk melindungi orang yang lemah." Pitung mengangguk sungguh-sungguh.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

Zaman itu, Jakarta masih bernama Batavia. Di sana ada tuan tanah yang serakah. Ia menyuruh para centeng, penjaga bayarannya, mengambil padi milik para petani. Warga kampung menjadi susah. Banyak dapur tak lagi mengepul.

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

Pitung tidak tahan melihatnya. Ia menemui sahabatnya, Ji'ih. "Padi itu milik para petani. Kita harus mengembalikannya," kata Pitung. Ji'ih mengangguk. "Aku ikut, Tung. Tapi kita pakai akal, bukan hanya otot."

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Malam itu, gerobak centeng lewat membawa karung-karung padi. Pitung melompat ringan dari pohon asam. Ji'ih menirukan suara kucing dari semak-semak. Para centeng bingung, berlari ke sana kemari. Diam-diam, gerobak dibawa Pitung pergi.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

Malam itu juga, karung-karung padi diletakkan di depan pintu rumah para petani. Paginya, kampung ramai oleh suara gembira. "Padi kami kembali!" seru Mpok Enah sambil menari kecil. "Pasti ini kerja Si Pitung, jagoan Betawi kita!"

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

Tuan tanah marah sekali. Ia meminta serdadu kompeni Belanda menangkap Pitung. Namun Pitung licin seperti belut. Di bawah sinar bulan, ia berlari ringan di atas atap, lalu hilang di kebun kelapa. "Ke mana perginya dia?" gerutu para centeng.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

Suatu hari, para centeng menjaga pasar rapat-rapat. Mereka yakin Pitung akan datang. Seorang kusir delman, kereta kuda, lewat sambil bersiul santai. Ternyata itu Pitung yang menyamar! Ia bahkan sempat membagikan roti kepada anak-anak.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

Si Pitung tidak pernah tertangkap. Kata orang, ia pergi membantu kampung-kampung lain yang kesusahan. Bang Naipin tersenyum bangga. "Itulah murid sejati. Ilmunya dipakai untuk kebaikan." Nama Si Pitung dikenang orang Betawi sampai kini.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 10

Malam pun turun di Rawa Belong. Angin bertiup pelan di pohon-pohon kelapa. Anak-anak kampung tertidur dengan hati tenang, sebab ada jagoan baik yang menjaga. Sekarang giliranmu memejamkan mata. Tidurlah yang nyenyak, ya.

Tentang cerita ini

Si Pitung bukan sekadar tokoh dongeng: ia benar-benar hidup di Batavia pada akhir abad ke-19. Pemuda dari Rawa Belong ini dikenang orang Betawi sebagai jagoan pembela rakyat kecil yang melawan tuan tanah — semacam "Robin Hood" dari Batavia. Kisahnya diwariskan lewat cerita lisan, panggung lenong, lagu, dan film.

Jejaknya masih bisa dikunjungi: di Marunda, Jakarta Utara, berdiri Rumah Si Pitung — rumah panggung kayu khas Betawi yang kini menjadi tempat bersejarah. Silat yang dipelajari Pitung pun masih hidup; pencak silat Betawi tetap diajarkan di sanggar-sanggar Jakarta sampai sekarang.

Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam catatan sejarah, hidup Pitung berakhir sedih di tangan kompeni; versi kami memilih akhir terbuka — ia "pergi membantu kampung lain". Bahan ngobrol: pesan Bang Naipin bahwa ilmu bukan untuk sombong, dan cara Pitung menolong dengan akal, bukan dengan kekerasan.

Untuk orang tua

Pesan moral

Kekuatan dan kepandaian sejati dipakai untuk menolong orang yang lemah, bukan untuk menyombongkan diri.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Apa pesan Bang Naipin kepada Pitung tentang ilmu silat?
  2. Mengapa warga kampung menjadi susah?
  3. Bagaimana cara Pitung dan Ji'ih mengembalikan padi para petani?
  4. Menurutmu, mengapa Pitung memakai akal, bukan hanya otot?
  5. Kalau kamu punya kepandaian seperti Pitung, siapa yang ingin kamu tolong?

Untuk kelas

centengserdadukusirserakahmemerahmenyamar

Cerita lain: Betawi

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.