

Halaman 1
Dahulu kala, di kampung Rawa Belong, hiduplah seorang pemuda bernama Pitung. Badannya tegap, hatinya baik. Setiap pagi ia membantu ayahnya memerah susu kambing. Lalu ia berjalan ke pasar untuk menjual susu itu.

Halaman 2
Sore hari, Pitung belajar pencak silat, ilmu bela diri. Gurunya bernama Bang Naipin, kakek tua yang bijak. "Ingat, Pitung," pesan gurunya. "Silat bukan untuk sombong. Silat untuk melindungi orang yang lemah." Pitung mengangguk sungguh-sungguh.
Halaman 3
Zaman itu, Jakarta masih bernama Batavia. Di sana ada tuan tanah yang serakah. Ia menyuruh para centeng, penjaga bayarannya, mengambil padi milik para petani. Warga kampung menjadi susah. Banyak dapur tak lagi mengepul.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Pitung tidak tahan melihatnya. Ia menemui sahabatnya, Ji'ih. "Padi itu milik para petani. Kita harus mengembalikannya," kata Pitung. Ji'ih mengangguk. "Aku ikut, Tung. Tapi kita pakai akal, bukan hanya otot."
Halaman 5
Malam itu, gerobak centeng lewat membawa karung-karung padi. Pitung melompat ringan dari pohon asam. Ji'ih menirukan suara kucing dari semak-semak. Para centeng bingung, berlari ke sana kemari. Diam-diam, gerobak dibawa Pitung pergi.
Halaman 6
Malam itu juga, karung-karung padi diletakkan di depan pintu rumah para petani. Paginya, kampung ramai oleh suara gembira. "Padi kami kembali!" seru Mpok Enah sambil menari kecil. "Pasti ini kerja Si Pitung, jagoan Betawi kita!"
Halaman 7
Tuan tanah marah sekali. Ia meminta serdadu kompeni Belanda menangkap Pitung. Namun Pitung licin seperti belut. Di bawah sinar bulan, ia berlari ringan di atas atap, lalu hilang di kebun kelapa. "Ke mana perginya dia?" gerutu para centeng.
Halaman 8
Suatu hari, para centeng menjaga pasar rapat-rapat. Mereka yakin Pitung akan datang. Seorang kusir delman, kereta kuda, lewat sambil bersiul santai. Ternyata itu Pitung yang menyamar! Ia bahkan sempat membagikan roti kepada anak-anak.
Halaman 9
Si Pitung tidak pernah tertangkap. Kata orang, ia pergi membantu kampung-kampung lain yang kesusahan. Bang Naipin tersenyum bangga. "Itulah murid sejati. Ilmunya dipakai untuk kebaikan." Nama Si Pitung dikenang orang Betawi sampai kini.
Halaman 10
Malam pun turun di Rawa Belong. Angin bertiup pelan di pohon-pohon kelapa. Anak-anak kampung tertidur dengan hati tenang, sebab ada jagoan baik yang menjaga. Sekarang giliranmu memejamkan mata. Tidurlah yang nyenyak, ya.
Si Pitung bukan sekadar tokoh dongeng: ia benar-benar hidup di Batavia pada akhir abad ke-19. Pemuda dari Rawa Belong ini dikenang orang Betawi sebagai jagoan pembela rakyat kecil yang melawan tuan tanah — semacam "Robin Hood" dari Batavia. Kisahnya diwariskan lewat cerita lisan, panggung lenong, lagu, dan film.
Jejaknya masih bisa dikunjungi: di Marunda, Jakarta Utara, berdiri Rumah Si Pitung — rumah panggung kayu khas Betawi yang kini menjadi tempat bersejarah. Silat yang dipelajari Pitung pun masih hidup; pencak silat Betawi tetap diajarkan di sanggar-sanggar Jakarta sampai sekarang.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam catatan sejarah, hidup Pitung berakhir sedih di tangan kompeni; versi kami memilih akhir terbuka — ia "pergi membantu kampung lain". Bahan ngobrol: pesan Bang Naipin bahwa ilmu bukan untuk sombong, dan cara Pitung menolong dengan akal, bukan dengan kekerasan.
Kekuatan dan kepandaian sejati dipakai untuk menolong orang yang lemah, bukan untuk menyombongkan diri.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.