

Halaman 1
Di sebuah kampung di selatan Batavia, hiduplah pendekar bernama Jampang. Ilmu silatnya tinggi. Langkahnya ringan seperti kucing. Tapi yang paling terkenal bukan jurusnya, melainkan hatinya yang budiman, murah hati dan suka menolong.

Halaman 2
Jampang hidup sederhana. Ia menanam singkong di kebun kecilnya. Sore-sore, anak-anak kampung datang berkunjung. "Bang Jampang, ajari kami silat!" pinta mereka. Jampang tertawa. "Boleh. Tapi ingat, jurus pertama adalah menolong sesama."
Halaman 3
Lalu datanglah musim kering. Sawah retak, panen gagal. Warga terpaksa meminjam beras dari Juragan Bohim yang kikir. "Boleh saja pinjam," kata juragan sambil tersenyum licik, "tapi bayarnya nanti dua kali lipat!" Warga menunduk sedih.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Waktu panen tiba, para centeng, penjaga bayaran Juragan Bohim, datang. Mereka mengangkut hampir semua padi warga sebagai bayaran utang. Lumbung kampung kosong. Nenek Saodah menangis pelan. "Cucuku makan apa besok?"
Halaman 5
Jampang tidak bisa tinggal diam. Malam itu, ia menyelinap ke gudang juragan. Ia tidak menyentuh harta milik juragan. Ia hanya membawa kembali karung-karung padi milik warga. Gerakannya sehalus angin. Tak seorang pun terbangun.
Halaman 6
Paginya, lumbung kampung penuh kembali. Ada pula singkong dari kebun Jampang sendiri. "Terima kasih, Bang Jampang!" bisik warga terharu. Sejak hari itu, ia dijuluki Si Jampang yang Budiman, pendekar yang murah hati.
Halaman 7
Juragan Bohim marah besar. Ia menyewa pendekar bayaran untuk menangkap Jampang di pasar. Pendekar itu menyerang. Jampang hanya mengelak. Ia berkelit ke kiri, merunduk ke kanan. Lama-lama pendekar bayaran itu lelah sendiri, lalu terduduk.
Halaman 8
Jampang mengulurkan tangan dan membantunya berdiri. "Aku tidak mau berkelahi," kata Jampang tenang. "Aku hanya ingin warga bisa makan." Pendekar itu tertunduk malu. Ia pulang dan menolak upah dari juragan.
Halaman 9
Kabar itu membuat Juragan Bohim berpikir. Semua orang menjauhinya, sedangkan Jampang disayangi. Pelan-pelan, hatinya berubah. "Musim tanam ini, pinjamlah benih tanpa bayaran lebih," katanya kepada warga. Kampung pun hijau dan tenang kembali.
Halaman 10
Malam turun di kampung selatan. Padi muda bergoyang ditiup angin. Jampang duduk di beranda, memandang lampu-lampu rumah warga yang hangat. Sudah, ceritanya sampai di sini dulu. Pejamkan matamu, tidurlah senyenyak padi di dalam lumbung.
Si Jampang termasuk keluarga cerita jagoan Betawi — pendekar silat pembela orang kecil dari kampung-kampung di selatan Batavia. Bersama Si Pitung dan Murtado, ia hidup dalam tradisi lisan Betawi dan sering dimainkan di panggung lenong, teater rakyat Betawi yang penuh lelucon dan pantun jenaka.
Kata "budiman" sendiri bagus dikenalkan pada anak: artinya murah hati dan bijak. Tradisi yang melatari cerita ini masih bisa dilihat di Setu Babakan, perkampungan budaya Betawi di Jakarta Selatan, tempat silat dan lenong dipentaskan sampai sekarang.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi-versi lama Jampang digambarkan sebagai perampok yang membagikan hasilnya; versi kami lebih lembut — ia hanya mengembalikan padi milik warga dan tidak menyentuh harta si juragan, lalu juragan berubah karena malu sendiri. Bahan ngobrol: jurus pertama Jampang adalah "menolong sesama", dan orang bisa berubah karena melihat teladan baik.
Orang kuat yang sejati adalah yang murah hati dan memilih menolong daripada berkelahi.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.