Google PlayApp Store
Sampul cerita Si Jampang yang Budiman

Si Jampang yang Budiman

10 halaman3 menit 25 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Di sebuah kampung di selatan Batavia, hiduplah pendekar bernama Jampang. Ilmu silatnya tinggi. Langkahnya ringan seperti kucing. Tapi yang paling terkenal bukan jurusnya, melainkan hatinya yang budiman, murah hati dan suka menolong.

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

Jampang hidup sederhana. Ia menanam singkong di kebun kecilnya. Sore-sore, anak-anak kampung datang berkunjung. "Bang Jampang, ajari kami silat!" pinta mereka. Jampang tertawa. "Boleh. Tapi ingat, jurus pertama adalah menolong sesama."

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

Lalu datanglah musim kering. Sawah retak, panen gagal. Warga terpaksa meminjam beras dari Juragan Bohim yang kikir. "Boleh saja pinjam," kata juragan sambil tersenyum licik, "tapi bayarnya nanti dua kali lipat!" Warga menunduk sedih.

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

Waktu panen tiba, para centeng, penjaga bayaran Juragan Bohim, datang. Mereka mengangkut hampir semua padi warga sebagai bayaran utang. Lumbung kampung kosong. Nenek Saodah menangis pelan. "Cucuku makan apa besok?"

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Jampang tidak bisa tinggal diam. Malam itu, ia menyelinap ke gudang juragan. Ia tidak menyentuh harta milik juragan. Ia hanya membawa kembali karung-karung padi milik warga. Gerakannya sehalus angin. Tak seorang pun terbangun.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

Paginya, lumbung kampung penuh kembali. Ada pula singkong dari kebun Jampang sendiri. "Terima kasih, Bang Jampang!" bisik warga terharu. Sejak hari itu, ia dijuluki Si Jampang yang Budiman, pendekar yang murah hati.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

Juragan Bohim marah besar. Ia menyewa pendekar bayaran untuk menangkap Jampang di pasar. Pendekar itu menyerang. Jampang hanya mengelak. Ia berkelit ke kiri, merunduk ke kanan. Lama-lama pendekar bayaran itu lelah sendiri, lalu terduduk.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

Jampang mengulurkan tangan dan membantunya berdiri. "Aku tidak mau berkelahi," kata Jampang tenang. "Aku hanya ingin warga bisa makan." Pendekar itu tertunduk malu. Ia pulang dan menolak upah dari juragan.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

Kabar itu membuat Juragan Bohim berpikir. Semua orang menjauhinya, sedangkan Jampang disayangi. Pelan-pelan, hatinya berubah. "Musim tanam ini, pinjamlah benih tanpa bayaran lebih," katanya kepada warga. Kampung pun hijau dan tenang kembali.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 10

Malam turun di kampung selatan. Padi muda bergoyang ditiup angin. Jampang duduk di beranda, memandang lampu-lampu rumah warga yang hangat. Sudah, ceritanya sampai di sini dulu. Pejamkan matamu, tidurlah senyenyak padi di dalam lumbung.

Tentang cerita ini

Si Jampang termasuk keluarga cerita jagoan Betawi — pendekar silat pembela orang kecil dari kampung-kampung di selatan Batavia. Bersama Si Pitung dan Murtado, ia hidup dalam tradisi lisan Betawi dan sering dimainkan di panggung lenong, teater rakyat Betawi yang penuh lelucon dan pantun jenaka.

Kata "budiman" sendiri bagus dikenalkan pada anak: artinya murah hati dan bijak. Tradisi yang melatari cerita ini masih bisa dilihat di Setu Babakan, perkampungan budaya Betawi di Jakarta Selatan, tempat silat dan lenong dipentaskan sampai sekarang.

Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi-versi lama Jampang digambarkan sebagai perampok yang membagikan hasilnya; versi kami lebih lembut — ia hanya mengembalikan padi milik warga dan tidak menyentuh harta si juragan, lalu juragan berubah karena malu sendiri. Bahan ngobrol: jurus pertama Jampang adalah "menolong sesama", dan orang bisa berubah karena melihat teladan baik.

Untuk orang tua

Pesan moral

Orang kuat yang sejati adalah yang murah hati dan memilih menolong daripada berkelahi.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Menurutmu, mengapa Jampang dijuluki 'yang budiman'?
  2. Apa yang dilakukan Juragan Bohim sehingga warga hidup susah?
  3. Mengapa Jampang tidak mau memukul pendekar bayaran itu?
  4. Apa yang membuat Juragan Bohim akhirnya berubah?
  5. Bagaimana caramu menolong teman yang sedang kesusahan?

Untuk kelas

pendekarlumbungjuragankikirmenyelinapberkelit

Cerita lain: Betawi

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.