

Halaman 1
Di puncak gunung yang sejuk, lahirlah sebuah mata air kecil. Airnya jernih seperti kaca. Ia menetes di sela batu dan lumut. "Aku ingin bertemu laut!" kata si air kecil dengan riang.

Halaman 2
Air kecil itu pun mengalir turun. Tapi ia belum tahu jalan. Seekor burung kutilang menunjuk ke utara. "Laut ada jauh di sana, di ujung tanah Betawi," kicaunya. Maka mengalirlah ia ke utara, melompat-lompat di bebatuan.
Halaman 3
Di kaki gunung, jalannya mulai sulit. Ada bukit menghadang, si air berbelok ke kiri. Ada hutan lebat, ia berbelok ke kanan. Belok kiri, belok kanan, belok lagi. Badannya menjadi panjang dan berkelok-kelok seperti ular raksasa.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
"Aduh, aku haliwung! Aku bingung!" keluh si air di tengah kelokan. Karena berputar-putar membawa tanah, airnya yang jernih menjadi keruh kecokelatan. Tapi ia tidak menyerah. Ia terus mengalir mencari jalan ke laut.
Halaman 5
Dalam perjalanan, ia melewati kampung-kampung. Petani menimba airnya untuk sawah. Kerbau berendam di tepinya. Ibu-ibu mencuci kain sambil bersenandung. "Terima kasih, sungai!" seru anak-anak yang mandi di sore hari.
Halaman 6
Si air senang sekali mendengarnya. "Oh, rupanya aku berguna," pikirnya. "Biar jalanku berkelok dan airku keruh, banyak yang menungguku lewat." Ia mengalir semakin semangat, membawa perahu-perahu kecil di punggungnya.
Halaman 7
Akhirnya, tercium bau garam. Laut biru terbentang luas di depannya! Si air berlari dan tumpah ke pelukan ombak. "Selamat datang, sungai pengembara," sambut laut. "Perjalananmu jauh dan berliku, tapi kau sampai juga."
Halaman 8
Orang-orang lalu menamai sungai itu Ciliwung. 'Ci' artinya air, 'haliwung' artinya bingung berputar-putar. Sungai yang sempat bingung mencari jalan, tapi tak pernah berhenti mengalir. Sampai kini, Kali Ciliwung membelah kota Jakarta.
Halaman 9
Malam ini, Kali Ciliwung mengalir pelan di bawah bulan. Airnya berbisik lembut seperti nyanyian pengantar tidur. Sudah, ya. Matamu pasti mulai terasa berat. Tidurlah, biarkan mimpimu mengalir tenang seperti sungai menuju laut.
Ini dongeng etimologi dari tanah Betawi: cerita tentang asal nama Kali Ciliwung, sungai yang mengalir dari dataran tinggi di selatan, membelah Jakarta, dan berakhir di laut. Namanya sering diartikan dari bahasa Sunda: "ci" berarti air, "haliwung" berarti bingung berputar-putar — sungai yang berkelok-kelok mencari jalan.
Ciliwung mudah ditunjukkan pada anak: hampir semua warga Jakarta pernah melintasinya di atas jembatan. Ajak anak memperhatikan bentuknya di peta — kelokannya memang luar biasa — dan warna airnya yang kecokelatan, persis seperti dalam cerita.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Sungai yang berbicara di sini hanyalah bahasa dongeng. Bahan ngobrol: si air kecil merasa malu karena keruh dan berkelok, tetapi ternyata berguna bagi banyak orang — jalan menuju tujuan tidak harus lurus. Bisa juga bicara tentang menjaga sungai agar tetap menjadi sahabat kota.
Jalan menuju cita-cita boleh berkelok-kelok; yang penting terus bergerak dan tetap berguna bagi orang di sekitar kita.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.