

Halaman 1
Tahukah kamu? Kota Jakarta pernah punya banyak nama. Dahulu sekali, ia hanyalah pelabuhan kecil di muara sungai. Namanya Sunda Kelapa. Perahu-perahu datang dan pergi. Angin lautnya berbau garam dan rempah-rempah.

Halaman 2
Pelabuhan itu ramai sekali. Ada pedagang membawa lada dan pala. Ada kelapa bertumpuk seperti gunung kecil. "Kelapa segar! Kelapa manis!" seru para pedagang. Anak-anak nelayan berlarian di antara perahu.
Halaman 3
Suatu hari, datanglah kapal-kapal asing yang besar. Mereka ingin merebut pelabuhan itu. Rakyat menjadi cemas. "Kalau pelabuhan direbut, ke mana kami akan berdagang?" bisik mereka dengan takut.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Lalu datanglah pemimpin muda yang gagah bernama Fatahillah bersama pasukannya. Dengan cerdik dan berani, mereka berhasil menjaga pelabuhan itu. Kapal-kapal asing pun pergi menjauh. Rakyat bersorak gembira di tepi laut.
Halaman 5
Untuk mengenang hari bahagia itu, pelabuhan diberi nama baru: Jayakarta. Artinya, kota kemenangan. "Jaya! Jaya!" seru rakyat. "Kota kita menang dan jaya!" Nama itu terdengar sampai ke negeri-negeri seberang.
Halaman 6
Bertahun-tahun kemudian, orang Belanda datang dan lama menetap di sana. Mereka mengganti nama kota menjadi Batavia. Dibangunlah kanal-kanal seperti di negeri mereka. Gedung-gedung berdiri, dan delman berlalu-lalang di jalan batu.
Halaman 7
Namun rakyat tetap menyimpan nama kebanggaan itu di dalam hati. Lama-kelamaan zaman berganti, dan nama lama dipakai kembali. Jayakarta disingkat menjadi Jakarta. "Jakarta!" Semua orang menyebutnya dengan bangga.
Halaman 8
Kini Jakarta menjadi kota yang besar. Ondel-ondel menari di pesta-pestanya. Kerak telor, telur dadar beras yang gurih, dijual di keramaian. Dan di pelabuhan tua Sunda Kelapa, perahu-perahu kayu masih berlabuh seperti dahulu kala.
Halaman 9
Malam pun turun di kota Jakarta. Lampu-lampu menyala seperti ribuan kunang-kunang. Kapal-kapal tertidur di pelabuhan, ditimang ombak kecil. Kamu juga, ya. Berbaringlah yang nyaman, dan biarkan mimpi membawamu berlayar pelan-pelan.
Ini bukan legenda ajaib, melainkan sejarah kota yang didongengkan: Jakarta memang berganti-ganti nama. Mula-mula pelabuhan kecil bernama Sunda Kelapa, lalu dinamai Jayakarta — "kota kemenangan" — setelah Fatahillah berhasil mempertahankannya, kemudian lama disebut Batavia pada zaman Belanda, sampai akhirnya kembali menjadi Jakarta.
Jejak setiap nama masih bisa dikunjungi: pelabuhan tua Sunda Kelapa masih dipakai kapal-kapal kayu sampai sekarang, dan kawasan Kota Tua menyimpan gedung-gedung zaman Batavia. Ulang tahun Jakarta dirayakan setiap tanggal 22 Juni, mengenang hari kemenangan itu.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Sejarahnya kami sederhanakan: tidak ada adegan perang, hanya kapal asing yang "pergi menjauh". Bahan ngobrol: nama punya arti dan cerita — tanyakan pada anak apa arti namanya sendiri, lalu coba hitung bersama: satu kota, empat nama.
Nama sebuah kota menyimpan cerita perjuangan; mengenal asal-usulnya membuat kita semakin mencintainya.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.