

Halaman 1
Di Pulau Sumbawa berdiri gunung besar bernama Tambora. Puncaknya kini berbentuk seperti mangkuk raksasa. Orang tua di sana punya cerita tentang asal mangkuk itu. Dengarkanlah.

Halaman 2
Dahulu, di kaki Tambora ada kerajaan yang kaya. Lumbungnya penuh, kudanya gagah. Tetapi rajanya sombong sekali. “Tidak ada yang boleh makan gratis di negeriku!” katanya dengan angkuh.
Halaman 3
Suatu hari datang seorang pengembara tua. Bajunya berdebu, langkahnya pelan. “Bolehkah saya minta seteguk air dan sepiring nasi?” tanyanya di gerbang istana. Para penjaga mengusirnya atas perintah raja.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Saat itu, Gunung Tambora bergemuruh pelan. Brrmm... “Gunungnya ikut lapar,” gurau orang istana sambil tertawa. Hanya seorang gadis kecil penjual kayu yang berlari menyusul pengembara tua itu.
Halaman 5
“Kek, ini bekalku. Nasi dan ikan asin. Makanlah,” kata gadis itu. Pengembara tersenyum hangat. “Hatimu seluas laut, Nak. Bila gunung mulai batuk-batuk, ajaklah keluargamu dan tetanggamu ke pantai.”
Halaman 6
Hari-hari berikutnya, orang istana makin sering mengusir tamu dan menutup pintu bagi yang lapar. Setiap kali itu terjadi, gemuruh gunung makin keras. Brrmm! Brrmm! Asap tipis naik dari puncaknya.
Halaman 7
Gadis kecil itu ingat pesan sang pengembara. “Ayo ke pantai! Gunung mau bersin!” serunya keliling kampung. Orang-orang pun membawa bekal dan tikar, berjalan beriringan menuju laut yang jauh.
Halaman 8
Malam itu Tambora benar-benar bersin. HATSYII! Api dan abu naik tinggi ke langit. Puncak gunung yang menjulang runtuh ke dalam, menjadi mangkuk raksasa. Dari pantai yang jauh, orang-orang memandang takjub.
Halaman 9
Raja yang sombong ikut mengungsi paling akhir dan kehilangan istananya. Ia menunduk di depan gadis kecil itu. “Kau lebih bijak daripadaku, Nak. Mulai kini pintu negeri ini terbuka bagi siapa saja.”
Halaman 10
Kini Tambora tidur dengan tenang. Mangkuk raksasanya menampung hujan dan awan. Penduduk hidup rukun dan gemar berbagi. Seperti gunung besar yang sudah tenang itu, kamu pun boleh tidur nyenyak sekarang.
Cerita ini lahir di kaki Gunung Tambora di Pulau Sumbawa. Dalam tuturan lama, letusan Tambora dikisahkan sebagai hukuman bagi raja yang sombong dan pelit kepada tamu; versi kami menjaga kerangka itu, tetapi mengubahnya menjadi kisah tentang berbagi dan mendengarkan peringatan — tanpa korban.
Tambora nyata, dan sejarahnya besar: letusannya pada tahun 1815 termasuk yang terdahsyat dalam catatan manusia, sampai abunya mengubah cuaca dunia. Kaldera raksasa berbentuk mangkuk di puncaknya — "bekas bersin" dalam dongeng kami — masih menganga sampai sekarang dan mudah dikenali di foto udara.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Untuk anak kecil, cukup dongengnya: gunung bersin, semua selamat karena mendengarkan gadis kecil. Anak yang lebih besar boleh diberi tahu bahwa letusan aslinya sungguh dahsyat — pintu masuk untuk bicara tentang mengapa kita mengungsi saat alam memberi tanda. Bahan ngobrol lain: pintu yang terbuka bagi tamu.
Berbagi dengan tamu dan orang yang kekurangan membuat negeri aman dan damai.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.