Google PlayApp Store
Sampul cerita Legenda Gunung Tambora

Legenda Gunung Tambora

10 halaman2 menit 54 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Di Pulau Sumbawa berdiri gunung besar bernama Tambora. Puncaknya kini berbentuk seperti mangkuk raksasa. Orang tua di sana punya cerita tentang asal mangkuk itu. Dengarkanlah.

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

Dahulu, di kaki Tambora ada kerajaan yang kaya. Lumbungnya penuh, kudanya gagah. Tetapi rajanya sombong sekali. “Tidak ada yang boleh makan gratis di negeriku!” katanya dengan angkuh.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

Suatu hari datang seorang pengembara tua. Bajunya berdebu, langkahnya pelan. “Bolehkah saya minta seteguk air dan sepiring nasi?” tanyanya di gerbang istana. Para penjaga mengusirnya atas perintah raja.

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

Saat itu, Gunung Tambora bergemuruh pelan. Brrmm... “Gunungnya ikut lapar,” gurau orang istana sambil tertawa. Hanya seorang gadis kecil penjual kayu yang berlari menyusul pengembara tua itu.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

“Kek, ini bekalku. Nasi dan ikan asin. Makanlah,” kata gadis itu. Pengembara tersenyum hangat. “Hatimu seluas laut, Nak. Bila gunung mulai batuk-batuk, ajaklah keluargamu dan tetanggamu ke pantai.”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

Hari-hari berikutnya, orang istana makin sering mengusir tamu dan menutup pintu bagi yang lapar. Setiap kali itu terjadi, gemuruh gunung makin keras. Brrmm! Brrmm! Asap tipis naik dari puncaknya.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

Gadis kecil itu ingat pesan sang pengembara. “Ayo ke pantai! Gunung mau bersin!” serunya keliling kampung. Orang-orang pun membawa bekal dan tikar, berjalan beriringan menuju laut yang jauh.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

Malam itu Tambora benar-benar bersin. HATSYII! Api dan abu naik tinggi ke langit. Puncak gunung yang menjulang runtuh ke dalam, menjadi mangkuk raksasa. Dari pantai yang jauh, orang-orang memandang takjub.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

Raja yang sombong ikut mengungsi paling akhir dan kehilangan istananya. Ia menunduk di depan gadis kecil itu. “Kau lebih bijak daripadaku, Nak. Mulai kini pintu negeri ini terbuka bagi siapa saja.”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 10

Kini Tambora tidur dengan tenang. Mangkuk raksasanya menampung hujan dan awan. Penduduk hidup rukun dan gemar berbagi. Seperti gunung besar yang sudah tenang itu, kamu pun boleh tidur nyenyak sekarang.

Tentang cerita ini

Cerita ini lahir di kaki Gunung Tambora di Pulau Sumbawa. Dalam tuturan lama, letusan Tambora dikisahkan sebagai hukuman bagi raja yang sombong dan pelit kepada tamu; versi kami menjaga kerangka itu, tetapi mengubahnya menjadi kisah tentang berbagi dan mendengarkan peringatan — tanpa korban.

Tambora nyata, dan sejarahnya besar: letusannya pada tahun 1815 termasuk yang terdahsyat dalam catatan manusia, sampai abunya mengubah cuaca dunia. Kaldera raksasa berbentuk mangkuk di puncaknya — "bekas bersin" dalam dongeng kami — masih menganga sampai sekarang dan mudah dikenali di foto udara.

Cocok untuk usia 4–8 tahun. Untuk anak kecil, cukup dongengnya: gunung bersin, semua selamat karena mendengarkan gadis kecil. Anak yang lebih besar boleh diberi tahu bahwa letusan aslinya sungguh dahsyat — pintu masuk untuk bicara tentang mengapa kita mengungsi saat alam memberi tanda. Bahan ngobrol lain: pintu yang terbuka bagi tamu.

Untuk orang tua

Pesan moral

Berbagi dengan tamu dan orang yang kekurangan membuat negeri aman dan damai.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Mengapa puncak Tambora sekarang berbentuk mangkuk raksasa?
  2. Apa pesan pengembara tua kepada gadis kecil?
  3. Bagaimana raja berubah setelah gunung bersin?
  4. Kalau ada teman yang lupa membawa bekal, apa yang akan kamu lakukan?

Untuk kelas

angkuhsetegukgemuruhberiringanmengungsitakjub

Cerita lain: Bali, NTB, NTT

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.