

Halaman 1
Di utara Jakarta, ada tempat bernama Ancol. Dahulu kala, tempat itu adalah kampung nelayan kecil. Tanahnya rendah dan berpaya-paya. Pohon bakau tumbuh di mana-mana. Monyet-monyet kecil bergelantungan di dahannya.

Halaman 2
Di kampung itu, tinggallah anak perempuan bernama Enok. Ayahnya seorang nelayan. Setiap pagi, Enok membantu menjemur ikan. Sore harinya, ia bermain di antara pohon bakau, ditemani monyet-monyet kecil.
Halaman 3
Suatu hari, Enok menimba air dari kali dekat rumahnya. Ia mencicipinya, lalu meringis. "Ih, kok airnya asin?" serunya heran. "Kemarin rasanya tawar. Apa ada yang menuang garam ke kali kita?"
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Enok berlari bertanya kepada kakeknya. Kakek tertawa sampai matanya menyipit. "Bukan garam, Nok. Itu air laut sedang pasang, naik ke darat," katanya. "Laut sedang main ke kampung kita. Nanti kalau surut, ia pulang lagi."
Halaman 5
"Jadi, laut suka berkunjung?" tanya Enok takjub. Kakek mengangguk. "Iya. Tanah kita rendah, jadi laut mudah mampir. Air kali bercampur air laut menjadi payau, sedikit asin. Karena itu tempat ini disebut Ancol, tanah rendah berair payau."
Halaman 6
Enok jadi semakin sayang pada kampungnya yang unik. Pagi-pagi ia menyapa laut, "Selamat datang!" Sore-sore ia melambai, "Selamat pulang!" Ikan-ikan kecil ikut masuk bersama air pasang, membuat kali ramai seperti pasar.
Halaman 7
Kabar tanah asin itu sampai ke orang-orang Belanda di Batavia. "Tanah asin!" kata mereka dengan heran. Tapi warga tetap memakai nama sendiri: Ancol. Nama Betawi asli yang dipakai sampai sekarang.
Halaman 8
Bertahun-tahun kemudian, kampung nelayan itu tumbuh menjadi tempat bermain yang ramai di tepi laut. Anak-anak Jakarta datang untuk melihat ombak, pasir, dan perahu. Di sanalah dahulu Enok menyapa laut yang datang berkunjung.
Halaman 9
Malam ini, laut di Ancol sedang surut. Ia pulang ke tengah samudra, membawa serta hari yang panjang. Ombak berdesir pelan: sshhh... sshhh... Dengarkanlah dari bantalmu. Itu nyanyian laut untuk menidurkanmu. Selamat tidur, Nak.
Ini dongeng etimologi dari pesisir utara Jakarta: nama Ancol biasa diartikan sebagai tanah rendah berair payau — tempat air laut naik saat pasang dan bercampur dengan air kali. Dahulu kawasan itu memang kampung nelayan berawa-rawa dengan pohon bakau, seperti dalam cerita Enok.
Anak-anak Jakarta mengenal Ancol dari sisi lain: kini di sana berdiri Taman Impian Jaya Ancol, tempat bermain di tepi laut. Saat mengajak anak ke pantai, cerita ini bisa dihidupkan: mencicipi kata "payau", mengamati air pasang dan surut — "laut sedang berkunjung, nanti ia pulang".
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Ini cerita yang tenang, tanpa konflik — kekuatannya pada rasa ingin tahu. Bahan ngobrol: Enok bertanya ketika menemukan hal aneh, dan kakeknya menjawab dengan sabar; tanyakan pada anak, hal aneh apa yang pernah membuatnya heran, lalu cari jawabannya bersama.
Setiap tempat punya cerita dan keunikannya sendiri; rasa ingin tahu membuat kita semakin sayang pada kampung halaman.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.