

Halaman 1
Di tanah Bima hiduplah anak laki-laki bernama La Golo. Badannya sehat dan kuat. Sayangnya, ia malas sekali. Disuruh mengambil air, ia pura-pura tidur. Disuruh menjaga adik, ia kabur bermain gasing.

Halaman 2
“La Golo, tolong bawakan bibit ini ke ladang,” pinta ayahnya suatu pagi. “Nanti saja, Ayah,” jawab La Golo, lalu berlari ke bukit membawa gasingnya. Ia bermain makin jauh, makin jauh dari kampung.
Halaman 3
Gasingnya menggelinding masuk ke hutan. La Golo mengejarnya. Ketika gasing itu berhenti, ia menoleh ke belakang. Pohon-pohon tinggi mengelilinginya. Jalan pulang tidak kelihatan. La Golo tersesat.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
“Tolong...” suaranya kecil, perutnya lapar. Di atas dahan, seekor monyet memandangnya. “Kenapa kau menangis?” “Aku lapar dan tersesat.” “Kalau lapar, petiklah buah. Ayo, kutunjukkan caranya,” kata monyet.
Halaman 5
La Golo belajar memanjat dan memetik buah yang matang. Lelah memang, tetapi buahnya manis sekali. “Enak, ya, hasil kerja sendiri,” kata monyet sambil mengunyah. La Golo mengangguk. Baru kali ini ia merasakannya.
Halaman 6
Esoknya, semut-semut mengajarinya membawa bekal sedikit demi sedikit sampai terkumpul banyak. Lebah menunjukkan bunga yang manis madunya. “Semua di hutan ini bekerja, La Golo. Itu sebabnya kami kenyang,” dengung lebah.
Halaman 7
La Golo juga belajar membuat gubuk kecil dari daun, mengikat kayu, dan menyimpan air di dalam bambu. Tangannya yang dulu malas kini cekatan. Malam-malam ia memandang bintang dan rindu ayah ibunya.
Halaman 8
“Aku ingin pulang. Aku ingin membantu ayah dan ibu,” katanya kepada monyet. Monyet bersiul memanggil elang. “Ikuti bayanganku di tanah!” seru elang dari langit. Elang terbang pelan, dan La Golo berlari di bawahnya.
Halaman 9
Ayah dan ibunya memeluk La Golo erat sekali. “Maafkan aku, Bu, Ayah. Sekarang aku mau membantu,” katanya. Esoknya ia menimba air paling pagi, membawa bibit ke ladang, dan menjaga adiknya dengan sabar.
Halaman 10
Sejak itu orang Bima berkata: anak rajin disayang semua. Malam ini La Golo tidur lebih awal, supaya besok kuat bekerja dan bermain. Gasingnya tersimpan rapi. Pejamkan matamu seperti La Golo; besok hari baru menantimu.
La Golo adalah cerita rakyat orang Bima — Dou Mbojo — di bagian timur Pulau Sumbawa. Ini dongeng nasihat tentang anak malas yang belajar rajin, dengan guru-guru yang tak terduga: monyet, semut, lebah, dan elang di dalam hutan.
Gasing yang menyeret La Golo ke hutan adalah mainan tradisional yang sungguh ada dan masih dimainkan anak-anak di banyak daerah Indonesia, termasuk di Nusa Tenggara Barat. Menunjukkan gasing kayu — atau membuat versi sederhananya — cara paling gampang menghidupkan cerita ini, sekaligus jembatan untuk bicara soal bermain secukupnya.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi lama, orang tua yang kewalahan sengaja meninggalkan La Golo di hutan; dalam versi kami ia tersesat sendiri saat kabur dari tugas, sehingga tidak ada anak yang dibuang. Bahan ngobrol: nikmatnya hasil kerja sendiri — buah yang dipetik sendiri terasa lebih manis — dan satu tugas rumah kecil yang mau dicoba besok.
Bekerja membuat hidup terasa manis; kemalasan membuat kita kehilangan banyak hal.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.