

Halaman 1
Seorang pedagang mempunyai seekor kuda dan seekor keledai. Setiap pekan mereka pergi ke pasar. Kuda berbadan tegap dan suka berjalan di depan. Keledai kecil berjalan di belakang.

Halaman 2
Suatu pagi, pedagang memuat banyak sekali barang. Semua karung diletakkan di punggung keledai. Punggung kuda hanya membawa selimut pelana yang ringan. Mereka pun berangkat menyusuri jalan berbukit.
Halaman 3
Di tanjakan, keledai mulai terengah-engah. “Kuda,” panggilnya pelan, “punggungku berat sekali. Maukah kamu membawa sebagian karungku?” Kuda mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. “Aku kuda tunggangan, bukan kuda beban. Bawa saja sendiri.”
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Keledai berjalan terus. Langkahnya makin pelan, napasnya makin pendek. “Tolonglah... satu karung saja,” pintanya lagi. “Jangan manja,” jawab kuda tanpa menoleh. Matahari makin tinggi, dan jalan makin menanjak.
Halaman 5
Di tengah tanjakan, kaki keledai gemetar. Ia terhuyung, lalu terduduk di tepi jalan. Ia tidak kuat lagi. Pedagang berlari menghampiri. “Kasihan kamu, bebanmu terlalu berat,” katanya sambil mengelus keledai.
Halaman 6
Pedagang memindahkan semua karung ke punggung kuda. Semuanya, satu demi satu. Keledai kini berjalan ringan, sementara kuda membungkuk menahan beban. “Berat sekali...” keluh kuda. “Seandainya tadi kubantu sedikit, tidak akan seberat ini.”
Halaman 7
Keledai berjalan di sampingnya. “Pasar masih jauh. Sini, kubawa lagi dua karung,” katanya lembut. Kuda memandangnya dengan malu. “Setelah aku menolakmu... kamu masih mau menolongku?” Keledai tersenyum. “Kita satu perjalanan, bukan?”
Halaman 8
Mereka membagi beban sama rata. Tanjakan yang tadinya berat terasa lebih ringan dilalui berdua. Sampai di pasar, pedagang mengelus keduanya. “Nah, begini baru pasangan yang hebat.”
Halaman 9
Pulang dari pasar, langit sudah lembayung. Kuda dan keledai berjalan berdampingan tanpa beban, kenyang oleh rumput segar. Di kandang yang hangat mereka terlelap berdua. Beban yang dibagi menjadi ringan, dan hati yang ringan cepat tertidur.
Kuda dan keledai membawa moral yang oleh bahasa Indonesia sudah lama dijadikan peribahasa: berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Fabel Aesop ini menunjukkan kebalikannya lebih dulu — apa jadinya bila beban dibiarkan menumpuk di satu punggung saja.
Adegannya mudah dipindahkan ke rumah: membereskan mainan, membawa belanjaan, menyiapkan meja makan. Ajak anak bereksperimen — pikul "karung" sendirian, lalu bagi berdua. Tanjakan yang sama, beban yang sama, tetapi rasanya jauh berbeda; persis yang dirasakan kuda dan keledai.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi lama keledai jatuh dan tidak tertolong, lalu kuda terpaksa memikul semuanya. Versi kami berhenti sebelum celaka: keledai hanya kelelahan, kuda belajar, dan mereka membagi beban sama rata. Bahan obrolan: menolong lebih awal selalu lebih ringan daripada menyesal kemudian.
Menolong lebih awal itu bijak: beban teman yang tidak kita bantu akhirnya menjadi beban kita juga.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.