

Halaman 1
Konon, di gunung-gunung Jepang, hiduplah anak laki-laki bernama Kintaro. Ia tinggal bersama ibunya di hutan. Badannya kuat luar biasa. Kapak kecil terselip di punggungnya, dan pipinya merah seperti apel.

Halaman 2
Sahabat-sahabat Kintaro adalah binatang hutan: kelinci, rusa, monyet, dan seekor beruang besar. «Ayo main sumo!» ajak Kintaro. Sumo itu gulat saling dorong dari Jepang. Mereka membuat lingkaran di tanah, dan pertandingan pun dimulai!
Halaman 3
Kelinci mendorong Kintaro — Kintaro tidak goyah. Monyet menarik kakinya — tidak goyah juga. Lalu majulah beruang besar. «Hmmph!» Mereka saling dorong, bum, bum! Akhirnya beruang terduduk. «Kau menang lagi, Kintaro!» Semua tertawa berguling-guling.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Kintaro bukan cuma kuat, tapi juga suka menolong. Ia membelah kayu bakar untuk ibunya dengan sekali ayun. Ia menggeser batu besar yang menutup jalan rusa. Ia memetik buah tertinggi untuk monyet kecil.
Halaman 5
Suatu hari, hujan deras membuat jembatan kayu hanyut. Para binatang tidak bisa menyeberangi sungai. «Bagaimana ini?» cicit tupai. Kintaro memandang sekeliling, lalu memeluk sebatang pohon tumbang. «Hup!» Ia merebahkannya melintang di atas sungai.
Halaman 6
«Jembatan baru!» sorak para binatang. Mereka menyeberang satu per satu, beruang paling akhir sambil membungkuk. «Terima kasih, Kintaro.» Dari balik pohon, seorang samurai — pendekar Jepang — diam-diam memperhatikan semuanya.
Halaman 7
Samurai itu mendekat. «Anak yang kuat dan baik hati. Siapa namamu?» «Kintaro!» «Maukah kau ikut ke kota, berlatih menjadi pendekar pelindung rakyat?» Kintaro menoleh pada ibunya, yang mengangguk bangga. «Pergilah, Nak. Gunung ini selalu menunggumu.»
Halaman 8
Kintaro berlatih rajin dan tumbuh menjadi pendekar yang gagah dan lembut hati. Setiap musim semi ia pulang ke gunung, membawa oleh-oleh untuk ibu, dan bermain sumo lagi dengan beruang tua sahabatnya. Bum! Dan hutan pun tertawa lagi.
Halaman 9
Malam di gunung sunyi dan sejuk. Binatang-binatang tidur di sarangnya, ibu Kintaro menutup pintu kayunya pelan-pelan. Kamu juga, ya — rebahkan badanmu yang sudah bermain seharian. Kuat itu baik, tapi tidur juga penting. Tidur nyenyak, pendekar kecil.
Kintaro, "anak emas", adalah pahlawan cerita rakyat Jepang yang dikaitkan dengan Gunung Ashigara. Menurut legenda ia kelak menjadi Sakata no Kintoki, pengikut seorang pendekar abad ke-10. Boneka Kintaro dengan kapak dan celemek merah sampai kini dipajang setiap Hari Anak pada 5 Mei, sebagai harapan agar anak tumbuh kuat. Adegan sumo melawan beruang adalah gambarnya yang paling terkenal.
Beruang dalam cerita ini bisa dikenalkan lewat beruang madu, beruang terkecil di dunia yang hidup di hutan Sumatra dan Kalimantan. Sumo pun bisa dicoba di rumah dengan aman: gambar lingkaran di lantai, lalu saling dorong dengan telapak tangan sampai salah satu keluar garis. Tanpa memukul, tanpa menjatuhkan.
Cocok untuk usia 3–6 tahun. Cerita asli Kintaro memang ringan dan versi kami dekat dengannya; kami hanya menambahkan jembatan pohon tumbang dan membiarkan ia pulang ke gunung setiap musim semi. Bahan ngobrol: untuk apa kekuatan Kintaro dipakai? Siapa yang bisa kamu tolong dengan kekuatanmu?
Kekuatan paling hebat adalah kekuatan yang dipakai untuk menolong.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.